Pengusaha dan Petani Kopi Lokal Pandeglang Minim Perhatian Pemkab

Pengusaha dan Petani Kopi Lokal Pandeglang Minim Perhatian Pemkab
M.Badri, Pengusaha  Kopi Lokal Pandeglang di Kampung Ciherang Pandeglang (foto-BantenTribun)

Pengusaha kopi Pandeglang menyayangkan minimnya perhatian dari pemerintah daerah. Mereka membutuhkan pembinaan dari instansi secara terpadu agar pengusaha dan petani kopi lokal dapat berkembang menjadi produk unggulan daerah,seiring popularitas kopi yang kian meningkat.

Pandeglang,BantenTribun.id—Sebagai pengusaha kopi lokal Pandeglang sejak tahun 2000 silam, M.Badri, punya mimpi besar. Menurutnya, jika Pemkab serius melakukan pembinaan untuk petani dan pengusaha kopi, maka  suatu saat Pemkab Pandeglang  akan  bangga memperkenalkan kopi unggulan daerahnya kepada konsumen atau tamu luar, ” inilah kopi Gunung Karang.”

Menurut Badri, pengusaha kopi lokal pemilik merk dagang kopi kura-kura, Kapal Air dan kopi cap Badak ini,  selama initidak ada pembinaan serius dan terpadu dari instansi terkait terhadap petani dan pengusaha kopi olahan. Padahal, Pandeglang memiliki potensi sebagai penghasil kopi dengan kualitas terbaik, dan tidak kalah dengan daerah lain semisal Bandung , Gayo atau Toraja.

“Pecinta kopi Pandeglang sangat kuat, namun sayang masih bermain di kelas bawah,” kata Badri kepada BantenTribun di rumah produksinya di Kampung Ciherang RT 03 RW 01, Kecamatan Pandeglang.

Saat ini, harga biji kopi asalan hasil  petani Pandeglang  ditingkat pedagang yang hanya Rp 20 ribu perkilo, menurutnya sangat memprihatinkan bagi petani. Idealnya,  harga kopi asalan dari petani seharusnya  minimal berkisar diangka Rp30-40 ribu perkilo.

Namun, jika petani kopi mendapat bimbingan pemerintah melalui instansi terkait,  mengenai pola tanam atau monokultur, perawatan dan pemeliharaan  sampai pada tahap pengolahan pasca panen atau fermentasi,  maka harga kopi petani Pandeglang bukan tidak mungkin bisa mencapai ratusan ribu perkilonya.

“Hal seperti itu sudah terjadi di Bandung, seperti kopi Banjaran yang sekarang sudah ada yang mencapai harga Rp 700 ribu perkilonya,” ujar Badri.

Produksi Kopi lokal Pandeglang (foto-BantenTribun)
Produksi Kopi lokal Pandeglang (foto-BantenTribun)

Kepala Dinas Pertanian Pandeglang  Budi Januardi,  mengakui jika Pandeglang  punya komoditas kopi robusta yang sudah dikenal.

“Tahun ini  Distan sedang melakukan koordinasi  dengan Dinas Pertanian Provinsi Banten, untuk dikembangkan kembali komoditas kopi karena anggaran Pemkab terbatas,” jelas Budi  kepada BantenTribun,via chat WhatsApp.

Menurut Budi,  daerah penghasil kopi di Pandeglang tersebar di Kecamatan Pulosari, Mandalawangi dan Cimanggu, dengan luas lahan sekitar 50 ha. Lokasi tambahan  yang diusulkan  meliputi Kecamatan Pandeglang, Kaduhejo, Menes, Jiput dan Banjar, dengan luasan keseluruhan 2.805,30 ha.

Beberapa langkah yang perlu dilakukan, masih kata Budi, adalah rehabilitasi tanaman yang sudah ada, peremajaan, pengendalian penyakit kopi, pengajuan alat mesin pengolahan dan menyediakan outlet untuk pemasaran semacam kafe atau kedai  kopi.

Namun demikian, menurut Badri, pembinaan  idealnya dilakukan instansi terkait secara terpadu. Ia mencontohkan agar pembinaan ke petani kopi dilakukan pihak Distan, khusus difokuskan bagaimana meningkatkan kualitas kopi dari mulai tanam, pemeliharaan hingga pengolahan atau fermentasi.

Sementara terkait serapan biji kopi yang sudah kering atau hasil fermentasi, bisa ditangani Dinas Koperasi. Penciptaan gerai atau kedai kopi, Pemkab bisa memfasilitasi lewat Dinas Perdagangan.

“ Jika itu berjalan, saya yakin Pandeglang juga bisa seperti Bandung atau daerah lain yang bangga memperkenalkan produk kopi lokal unggulannya, tidak hanya ‘inilah kopi Banjaran’ tapi ‘inilah kopi Mandalawangi’, ucap Badri. (kar)

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here