Peacock Cofee dan Pelajaran Dibalik Nikmatnya Espresso Double Cup

 

peacock cofee
peacock cofee

Peacock Cofee telah mengajarkanku sebuah makna bila ide yang sukses di suatu tempat belum tentu kompatibel diterapkan ditempat lain. Semua ada seninya. Semarang (17/3) Sambil Nyeruput Espresso.

Semarang, BantenTribun.id- Malam itu saya duduk disebuah kedai kopi yang letaknya diujung Jalan Gajah Mada,  Peacock Coffe namanya. Sebuah kedai kopi sederhana dengan dua lantai nan minimalis.

Sebelum berkunjung, saya pernah mencoba berlayar di dunia maya dan mencari tahu apasih yang menjadi keunggulan Peacock Cofee itu?.

Mbah Google bilang, Kedai kopi itu katanya buka 24 jam nonstop. Wow artinya saya bisa duduk sepuas hati disini seharian bahkan semalaman.

Mbah Google juga nunjukin banyak testimoni positif buat kedai yang lebih ramai di malam hari itu,”rasanya nikmat banget. Cuma sayang tempatnya terbatas” ungkap mayoritas netizen yang mencoba mereview kedai kitu dengan bahasa singkat nan sederhana.

Berdasarkan review beberapa pihak di internet. Akhirnya saya putuskan tuk datang ke Peacock Coffee,  sekedar menikmati suasana dan menyeruput secangkir cofee penyegar pikiran yang kerap suntuk saat mulai merangkai tulisan.

Soal kopi, sebenarnya saya lebih demen sama yang original, secangkir kopi hitam tanpa gula. Sayangya kopi yang satu itu kayaknya nggak ada. Lagian malu juga, masa ke kedai kopi kekinian nanyanya kopi hitam tanpa gula.

Hufth. Pilihan pun akhirnya jatuh pada Espresso, si kopi dengan aroma kuat nan menggoda. Menciumnya saja bikin segar, apalagi udah nempel dibibir so pasti bikin nagih.

Banyak yang nulis di lini masa, pecinta Espresso adalah orang-orang yang rindu tantangan dan berjuang keras meraih visi dalam hidupnya, mereka juga orang-orang kreatif yang suka menuntut lebih pada diri sendiri.

Hah. Apapun itu, sekali lagai saya hanya ingin ngopi, menikmati malam, dan menggerakan jari membuat tulisan yang entah kemana alurnya.

Tak lama, Barista pun akhirnya ‘Sounding’ Espresso Double Cup siap. Dua cangkir kecil Espresso, plus potongan biskuit dan segelas air putih sudah tersaji di meja barrista dan langsung saya boyong ke meja di pojok ruangan.

 

espresso
espresso

Peacock Cofee dan Tempat Berkumpulnya Anak Muda Semarang

Saat menggerakan jari di tuts-tuts notebook, Sebuah pemandangan hebat tersaji dari sudut dimana saya duduk. Dua perempuan muda berdiskusi tentang bisnis hijab onlinenya, dan 4 orang laki-laki sekitar usia SMA atau mungkin mahasiswa semester awal tengah asyik berdiskusi, entah apa yang mereka bicarakan.

Di Sudut lain – agak dekat dengan meja dimana saya duduk. Terlihat seorang perempuan dengan laptop dan sebuah buku medis di sisinya. Mungkin ia seorang mahasiswa kedokteran yang tengah diburu tugas kuliah, terlihat dari mukanya yang serius menatap layar laptop.

Terlepas dari itu semua, saya melihat kelebihan lain dari sebuah kedai kopi di kota dinamis macam Semarang itu.

Bagi saya, nikmatnya kopi di Peacock Cofee mungkin jadi satu alasan, namun alasan lain tak bisa dihindari. Banyak anak muda,  baik mahasiswa, pelajar  dan Startup Enterpreneur Semarang yang membutuhkan suasana tenang untuk mengembangkan kreatifitas, dan Peacock Cofee menjadi salahsatu jawabannya.

Mungkin untuk tempat dimana saya tinggal, suasana itu nampaknya sulit ditemukan. Jikapun ada, Kedai Kopi yang dibangun tentu berbeda konsep dengan Peacock Cofee yang ber AC dan bebas asap rokok.

Kopi Hitam plus kepulan asap rokok nampaknya masih menjadi favorit. Pembicaraan pun tentu berbeda. Secara, Semarang menjadi salahsatu destinasi anak muda untuk kuliah, bekerja atau berbisnis.

Sementara kota dimana saya tinggal adalah kota homogen dengan level dinamisasi yang rendah “kalo tak mau dibilang stagnan.” Mereka yang berpikiran maju banyak memilih hengkang dan menjadi pejuang di negeri orang. Mungkin termasuk di Semarang.

Huuh, akhirnya saya sadar bila semua tempat memiliki ciri dan budaya berbeda, perlakuannya pun tentulah beda. Namun bagi mereka yang bervisi, semua bisa berubah, asalkan mau berjuang.

Peacock Cofee telah mengajarkanku sebuah makna bila ide yang sukses di suatu tempat belum tentu kompatibel diterapkan ditempat lain. Semua ada seninya. Termasuk meracik kopi favorit. (AJI)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.