Pasca Gugat Telkom Rp 16 Triliun, PT CSM Surati Ditjen Pajak Kemenkeu

480
Tim Kuasa Hukum yang menggugat PT.Telkom

Jakarta,BantenTribun.id —PT Citra Sari Makmur (CSM) menyurati Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Kementerian Keuangan RI —melalui Kantor Pelayanan Pajak Madya Jakarta Selatan— Rabu (30/8), untuk tidak melakukan penagihan atau upaya paksa apapun selama berlangsungnya proses hukum. Upaya ini dilakukan setelah perusahaan itu mengajukan gugatan ke PT Telkom (Tbk) senilai Rp 16 triliun di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, 8 Agustus 2017.

Lewat surat itu, kuasa hukum PT CSM, Andar Sidabalok, menegaskan, Telkom merupakan salah satu pemegang saham di PT CSM. Sehingga, Telkom pun turut bertanggung jawab secara tanggung renteng terhadap segala beban utang PT CSM, termasuk utang pajak perusahaan yang tercatat sekitar Rp 171 miliar.

“Saat ini, PT CSM sedang menempuh upaya hukum terkait dugaan perbuatan melawan hukum yang dilakukan Telkom, karena telah menghentikan layanan transponder dan jaringan terrestrial yang mengakibatkan terganggunya aktivitas perusahaan, termasuk kondisi finansial,” kata Andar Sidabalok kepada  BantenTribun, di kantornya, Graha A&S, Jalan Sunan Sedayu Nomor 18, Rawamangun, Jakarta Timur, Senin (4/8).

Maka, selama berlangsungnya proses hukum itu, Andar Sidabalok meminta pihak Ditjen Pajak tidak melakukan dulu penagihan atau upaya paksa lainnya terhadap PT CSM maupun Presiden Direktur perusahaan tersebut, Subagio Wirjoatmodjo, yang —demi memperlihatkan iktikad baiknya— telah menjaminkan 8 aset pribadinya senilai Rp 135 miliar.

“Presiden Direktur PT CSM, Subagio Wirjoatmodjo, telah memperlihatkan iktikad baiknya untuk bertanggung jawab terhadap utang pajak perusahaan. Terbukti, ia menjaminkan 8 aset pribadinya, berupa 8 sertifikat asli atas 8 bidang tanah seluas total 46.355 meter persegi, senilai Rp 135 miliar. Padahal, menurut Pasal 97 ayat (5) UU Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT), anggota direksi tidak dapat dipertanggungjawabkan atas kerugian perusahaan,” kata Arnol Sinaga, mitra Andar Sidabalok yang juga menjadi kuasa hukum dari PT CSM, kepada BantenTribun.

Menurut Arnol, beban-beban utang perusahaan, termasuk pajak, seharusnya menjadi tanggung jawab bersama dari seluruh pemegang saham, di mana Telkom sendiri menjadi salah satunya dengan kepemilikan sebanyak 223.517 lembar atau 25 persen.

“Jadi, Telkom pun punya tanggung jawab terhadap utang pajak perusahaan yang tercatat sekitar Rp 171 miliar tadi. Bahkan, dengan reputasinya sebagai shareholder yang tidak baik, Telkom seharusnya menanggung 100 persen utang tersebut. Salah satu dasarnya, perbuatan Telkom sebagai pemegang saham yang tidak beriktikad baik, dengan memutus kerjasama sekaligus membunuh perusahaannya sendiri, menjadi penyebab utama timbulnya kerugian di PT CSM,” kata Arnol.

Namun, lanjut Arnol, yang terjadi kemudian Telkom seolah ingin “cuci tangan” dari semua utang perusahaan. Presiden Direktur PT CSM, Subagio Wirjoatmodjo, seolah dijadikan penanggung jawab tunggal terhadap semua utang dan kerugian perusahaan, termasuk beban pajak.

 “Sikap seperti itu, yang seolah-olah menjadikan Subagio Wirjoatmodjo sebagai penanggung jawab tunggal, dilakukan juga oleh pihak Ditjen Pajak. Terbukti dengan dikeluarkannya Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 711/KMK.03/2016 yang memperpanjang masa pencegahan bepergian ke luar negeri bagi Subagio Wirjoatmodjo untuk periode dua kali enam bulan, berlaku sejak 5 Oktober 2016 hingga 4 April 2017. Itulah sebabnya kami memasukkan Menteri Keuangan sebagai turut tergugat dalam gugatan PT CSM terhadap Telkom di PN Jaksel,” kata Arnol.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, gugatan PT CSM terhadap Telkom, dengan tuntutan ganti rugi sebesar Rp 16 triliun, telah teregister di PN Jaksel dengan Nomor Perkara 500/PDT.G/2017/PN.Jkt.Sel tertanggal 8 Agustus 2017.

Gugatan PT CSM yang dilayangkan melalui trio kuasa hukum —Andar Sidabalok, Arnol Sinaga, dan Masrin Tarihoran— itu berawal dari pemutusan hubungan kerjasama Pemanfaatan Jaringan Tetap dan Sarana Penunjang (Transponder) yang dilakukan Telkom.

Pemutusan kerjasama ini menjadi sangat ironis, karena telah berjalan sekitar 27 tahun, dan Telkom sendiri merupakan pemegang saham sebanyak 223.517 lembar (25%) di PT CSM. Bahkan, selama berlangsungnya hubungan kerjasama tersebut, PT CSM telah memberikan keuntungan rata-rata antara Rp 2-3 miliar per bulan kepada Telkom. Secara total, kontribusi PT CSM terhadap Telkom itu diperkirakan telah mencapai sekitar Rp 1,4 triliun.

Alasan Telkom melakukan pemutusan kerjasama itu, gara-gara PT CSM dianggap terjerat masalah utang —antara lain utang pajak perusahaan yang mencapai sekitar Rp 171 miliar tadi.

Sebagai pemilik saham di PT CSM, Telkom dianggap harus ikut bertanggung jawab secara tanggung renteng terhadap beban utang-utang perusahaan itu, termasuk utang pajak tadi.

Tapi, alih-alih ikut bertanggung jawab, Telkom malah memutus hubungan kerjasama yang berpotensi mematikan usaha PT CSM.

Apa yang dilakukan Telkom itu berbanding terbalik dengan para pemegang saham lainnya, yang justru berusaha menyelamatkan PT CSM dengan menggelontorkan bantuan sebesar US$ 23,4 juta. Bahkan, para pemegang saham lainnya itu pun akhirnya turut menggugat tindakan Telkom tersebut.

PT CSM terbentuk berdasarkan kepemilikan saham dari tiga perusahaan. Pemegang saham terbanyak pada perseroan tersebut adalah PT Tigamatra Media (38,29%), disusul PT Media Trio (L) Inc (36.71%), dan PT Telkom (25%).

Menurut para kuasa hukumnya, akibat pemutusan layanan transponder itu PT CSM —berdasarkan perhitungan sementara— mengalami kerugian material dengan hilangnya nilai perseroan sebesar US$ 1,2 miliar atau setara Rp 16 triliun.

PT CSM pun disebutkan kehilangan potensi keuntungan selama 5 tahun ke depan yang bisa mencapai sekitar US$ 4 miliar atau setara Rp 52 triliun.

Selama ini, pelanggan terbesar pelayanan transponder di PT CSM adalah kalangan perbankan nasional.

Perusahaan ini melayani jasa satelit, kabel, layanan data, jaringan nirkabel broadband multimedia, dan layanan Very Small Aperture Terminal (VSAT).

Ia juga menyediakan penyimpanan server dan layanan IP menggunakan jaringan satelit serat optik untuk penyedia layanan internet. (yukie hr).*

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here