Pak Entoh, Mencari Ketenangan Hidup dari Belut Sawah

Haji Entoh, mendapat ketenangan dari olahan belut sawah(foto-BantenTribun)
Haji Entoh, mendapat ketenangan dari olahan belut sawah, saat di rumah makannya  seluas 500 meter persegi, di Kampung Mekarbaru, Petir ,Serang(foto-BantenTribun)

Siapa sangka, Haji Miftohudin Assyafe’I, atau yang populer dengan panggilan haji Entoh, pensiunan  PNS di Sekretariat DPRD Provinsi Banten ini, semasa menjalani pekerjaannya sebagai ASN, sudah 3 kali mengundurkan diri dari “jabatan basah”. Prinsip sederhananya, mencari ketenangan hidup, dibanding bergaul dengan berlimpahnnya  duit anggaran proyek. Entoh, memilih membangun usaha untuk persiapan memasuki masa pensiun. Pilihannya, jatuh pada belut sawah dan ikan bandeng. Olahan kuliner rumah makannya dengan konsep “berbeda” itu kini mulai memetik hasil.

Serang,BantenTribun.id- Sosoknya ramping, jika tidak mau dibilang kurus. Ia baru saja memasuki masa pensiunnya ahir 2017, sebagai pegawai negeri sipil atau ASN di Sekretariat DPRD Provinsi Banten. Diusianya yang menginjak 58 tahun, Haji Entoh, panggilan akrab pemilik nama asli Miftahudin Assyafei ini, pernah melakoni pekerjaan sebagai Juru Penerang ( jupen) di Kabupaten Pandeglang, saat masih berdiri Departemen Penerangan dulu.

Ditemui Banten Tribun di Rumah Makan “Sambel Belutnya” di Kampung Mekarbaru, Kecamatan Petir, Kabupaten Serang, Banten, Entoh  bersedia menceritakan pengalamannya menggeluti bisnis kuliner yang beda, dengan pilihan belut sawah dan pecak ikan bandengnya, sambil tetap mondar-mandir melayani tamu.

Sepanjang masa bekerjanya, pria kelahiran Petir ini pernah menduduki jabatan Kasubsi (kepala sub seksie)- sebelum berubah menjadi Kasubag- di Depen Pandeglang. Namun, jabatan itu tidak lama melekat, karena ia berusaha menolak dan mengajukan pengunduran diri. Menurutnya, ia lebih memilih sebagai staff biasa, dibanding jabatannya.

Permohonan pengunduran dirinya, yang tentu saja dengan segala alasan kuat untuk diajukan, baru disetujui Menteri Penerangan Harmoko, sesudah berjalan setahun lebih. Pekerjaannya sebagai “jupen” ahirnya juga terhapus, seiring dilikuidasinya Departemen Penerangan pada zaman Presiden Gus Dur.

Entoh, lalu hijrah ke Provinsi Banten, sejak ditetapkannya Banten sebagai Provinsi, pada tahun 2000. Tak lama ia juga mendapat jabatan setingkat Kasubag, namun kembali mundur dengan alasan yang tetap sama.

Ia lalu berpindah sebagai staff di Sekretariat DPRD, di jaman Tardian sebagai Sekretaris. Disini, menurutnya godaan berlimpahnya uang semakin besar. Anggaran yang besar itu, justru membuatnya semakin tidak enjoy, karena ia lebih memilih bekerja dengan ketenangan. Dari sini pula ia memulai belajar berusaha untuk mendapat hasil tambahan. Dalam benaknya, ia mengaku sudah memikirkan masa pensiun dan harus bisa mandiri berusaha. Entoh mencoba memulai usaha jual beli mobil bekas dan usaha barang rongsokan, meski akhirnya juga bangkrut akibat ditipu kawan bisnisnya.

Saat bekerja di Setwan, Entoh kembali mengajukan pengunduran diri ketiga kalinya, dan meminta menjadi staff biasa dibanding mengemban jabatan Kasubag. Meski butuh waktu dan sempat dimarahi atasannya, namun Gubernur Atut Chosiyah kala itu, mengijinkan juga permohonannya.

Memasuki masa pensiunnya, kini Entoh menemukan tambatan usahanya di jalur kuliner. Namun ia sadar betul, bidang ini sudah seabreg. Menurutnya, harus ada “nilai pembeda” dari yang lainnya, jika terjun di bidang kuliner.

Keyakinan itu yang melandasi pilihannya membangun rumah makan “Sambel Belut” di kampung kelahirannya, Kampung Mekarbaru, Petir Serang. Kejelian Entoh merebut segment pasar kuliner belut dan pecak bandeng, dengan menjaga kualitas bahan yang dipakai yakni “Belut sawah” yang diolah berkonsep sambel, serta pecak ikan bandeng olahannya, menjadi ikon pembeda yang mampu mengantarkannya terus berkembang. Rumah makan sambel belut Entoh, memang punya pembeda dari rumah makan belut dan pecak bandeng yang sudah bertebaran.

“Sesudah pensiun, saya merasa lebih fokus mengurusi usaha ini. Alhamdulillah usaha ini terus berkembang, mungkin karena konsumen tahu kualitas belut sawah dan konsistensi rasa yang terjaga.” Terangnya, kepada BantenTribun.(kar)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.