Pahoman Gunung Karang; Menhir, Ziarah Dan Menjaga Warisan Budaya

726

Pandeglang, BantenTribun.id- Menhir adalah batu tunggal, biasanya berukuran besar, yang ditatah seperlunya sehingga berbentuk tugu dan biasanya diletakkan berdiri tegak di atas tanah. Istilah menhir diambil dari bahasa Keltik, dari kata men (batu) dan hir (panjang).

Menhir biasanya didirikan secara tunggal atau berkelompok sejajar, beberapa tradisi juga ada yang diletakkan terlentang di tanah. Menhir, bersama-sama dengan dolmen dan sarkofagus adalah megalit. Sebagai salah satu ciri utama dari budaya megalitik, pembuatan menhir telah dikenal sejak periode Neolitikum (mulai 6000 Sebelum Masehi).

Para arkeolog melihat bahwa menhir digunakan untuk tujuan religius dan memiliki makna simbolis sebagai sarana penghormatan kepada arwah nenek moyang. (Wikipedia)

Di kabupaten Pandeglang, salahsatu situs yang terdapat menhir ini ada di kampung Pahoman. Tepatnya di desa Pasir Peuteuy, kecamatan Cadasari. Di situs tersebut juga terdapat mata air yang sangat jernih, dimana alirannya digunakan untuk berbagai keperluan masyarakat setempat. Baik untuk mengairi lahan pertanian maupun untuk kebutuhan rumah tangga.

Situs Pahoman ini dipercaya oleh warga sekitar memiliki Karomah, banyak pe-ziarah dari luar daerah yang datang dengan maksud-tujuan tertentu.

“Dari mana-mana yang kesini mah. Ada dari Jakarta, Karawang, Jawa bahkan dari pulau sebrang juga,” terang Ahmad, salahseorang juru kuncen disana, Jumat lalu.

Yang unik dari tradisi ziarah disini, setelah memanjatkan doa kepada Tuhan YME, sang Kuncen menuntun peziarah untuk duduk membelakangi batu berdiri (menhir), kemudian peziarah diarahkan untuk memeluk menhirnya itu. Ada kepercayaan, jika peziarah mampu memeluknya, tanda-nya apa yang dicita-citakannya akan tercapai.

“Sudah dari sananya begitu, dari dulu,” jawab Ahmad singkat ketika ditanya mengenai ritual tersebut.

Situs Pahoman, jika dibandingkan dengan sebelum tahun 2000-an, kondisinya memang sudah jauh berbeda. Pahoman kini sepertinya sudah dikelola sedemikian rupa. Di arah jalan masuk kawasan telah dilengkapi area parkir, demikian pula jalan tanah setapak itu pun sudah di paving blok.

Meski hawanya masih terasa sejuk, tampak di sisi kiri arah masuk area situs, telah berdiri sebuah rumah/villa berukuran besar yang dipagar tinggi. Padahal dulu disitu masih rimbun dengan pepohonan. Pahoman yang dulu begitu terbuka dan menyatu dengan alam, kini tidak tampak lagi.

Selain beberapa pohon besar sudah tidak ada, sumber mata air-nya pun kini jauh dari kesan alami. Terdapat sekat-sekat tembok juga banyak slang yang terpasang bertumpuk pada bagian sisi sumurnya. Padahal dulu hanya ada satu pipa besi yang menempel disitu, yang mengalirkan air ke penampungan dibawah untuk kebutuhan warga.

Tempat itu kini telah dipagar yang di dalamnya juga terdapat beberapa bangunan permanen. Ada bangunan mushola dan pondokan tempat peziarah untuk tidur menginap. Ada beberapa Kuncen disana yang berjaga dan siap setiap saat memandu para peziarah. Tidak lupa, tampak pula dua buah kotak amal jariah berukuran besar yang disediakan bagi para pe-ziarah untuk menyisihkan beberapa lembar rupiah yang dimilikinya. (Jandan)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here