Nobar Film Aisyah Di Alun-alun Pandeglang

178
Film Aisyah di Alun-alun Pandeglang
Suasana nobar Film Aisyah di Alun-alun Pandeglang

Film ini mengisahkan perjuangan berat Aisyah, seorang gadis muslim berparas ayu yang memiliki cita-cita menjadi guru . Ia memperoleh kesempatan untuk mengajar di Atambua, desa yang dihuni oleh komunitas agama lain. Ia harus berusaha untuk beradaptasi hidup disana, selain itu ia juga harus berjuang untuk memperbaiki kualitas pendidikan di desa terpencil itu.

Pandeglang,BantenTribun.id– Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengajak masyarakat dan pelajar  nonton bareng Film Edukatif berjudul Aisyah Biarkan Kami Bersaudara, di Alun – alun Pandeglang, Jumat malam(27/10).

Bambang Dewantoro dari Pusat Pengembangan Perfilman dari Kemendikbud, mengatakan, film aisyah, termasuk salah satu film yang direkomendasikan oleh Kemendikbud  bersama 34 judul film lainnya untuk ditayangkan di daerah – daerah.

Pemutaran film edukasi itu, juga dimaksudkan agar film Indonesia, mendapat tempat di masyarakat penonton dan bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Film Aisyah yang di rilis Mei 2016 ini, dibintangi Laudya Cynthia Bella, Arie Kriting juga Lydia Kandou dan disutradarai Herwin Novianto. Film Aisyah, juga pernah meraih penghargaan piala citra untuk katagori penulis skenario asli terbaik.

Film ini mengisahkan Aisyah baru lulus sarjana.  Ia seorang gadis muslim berparas ayu yang memiliki cita-cita menjadi guru lantaran ia selalu terkenang akan pesan ayahnya untuk membagi ilmu. Gadis itu menetap di sebuah kampung kecil di ciwidey, Jawa Barat. Kampungnya berdekatan dengan perkebunan teh yang berudara sejuk dan sarat dengan nilai religius. Ia tinggal bersama ibu dan adik laki-lakinya. Ayahnya telah lama meninggal dunia.

Begitu memperoleh kesempatan untuk mengajar di Atambua, gadis ini pun meninggalkan kampung halamannya.

Desa yang ia tuju dihuni oleh komunitas agama lain. Ia harus berusaha untuk beradaptasi hidup disana, selain itu ia juga harus berjuang untuk memperbaiki kualitas pendidikan di desa terpencil itu.

Dia mengajar di wilayah terpencil, Dusun Derok, Timor Tengah Utara. Sebagai wanita muslim, mengajar di tempat yang mayoritas penduduknya Khatolik adalah tantangan berat.

Sejak awal kedatangan, ia telah merasa “asing” ditempat itu. Apalagi ketika ia hadir, tanpa sengaja masyarakat telah salalh menganggapnya sebagai suster maria, hanya karena sama-sama memakai kerudung. Sebelumnya masyarakat disitu telah mengharapkan kedatangan suster maria sebagai guru didik di kampung itu. Setelah kesalahpahaman itu mampu diatasi, aisyah tetap merasa gamang.

Mampukah Aisyah bertahan disana? Akankah Aisyah mewujudkan cita-citanya?*(red)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here