Nenek Muklikah dan Potret Kemiskinan di Kota “Multatuli” Lebak yang Tersisa

Kondisi gubuk Nenek Muklikah ( foto-ist)
Kondisi gubuk Nenek Muklikah ( foto-ist)

“Tolong bantuin emak, sudah 20 tahun emak hidup susah” kata Nenek Muklikah (80) dengan suara lirih dalam bahasa sunda.  Nenek sebatang kara yang tinggal di gubuk reot berukuran 3 kali 5 meter,  di Kampung Pasir Buntu Desa Lebak Pendeuy, Kecamatan Cihara,  Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Lebak,BantenTribun.id – Setiap malam, Nenek Muklikah, yang biasa disapa “Mak Emuk” oleh warga setempat, harus tidur  tanpa penerangan listrik dengan terpaan angin malam. Gubug reotnya  tanpa penerangan  sedikitpun. Tanpa lampu minyak atau lampu cempor, apalagi aliran listrik.  Disaat musim hujan, sang nenek ini harus tidur ditemani cipratan air hujan dari bocoran atap gubuknya.

Sedihnya lagi, Mak Emuk juga harus berjuang hidup sendirian. Kelumpuhan tangan mendera kedua lenganya, akibat disengat ular berbisa. Anak satu-satunya yang menjadi tumpuannya, yang tak jauh dari Mak Emuk tinggal,  juga tak berdaya menghidupi sang Emak. Nasib anak semata wayangnya itu tak jauh berbeda dengan sang ibu,  didera kemiskinan.

Untuk makan sehari-hari, Mak Emuk mengandalkan dari pemberian tetangga. Terkadang, Mak Emuk juga harus mencari dan memasak sendiri makanan jika tidak ada yang memberinya makan.  Tak jarang, untuk menahan lapar  nenek ini kerap memakan singkong  sekedar mengganjal perutnya.

Selama kurang lebih 20 tahun, Nenek Muklikah  tinggal di gubuk reot berukuran sekira 3 meter x 5 meter sebatang kara. Selama itu pula, sang nenek harus menghabiskan sisa hidupnya di gubuk yang hanya beratapkan rumbia rapuh yang banyak bocor, beralaskan tanah, dan berdinding bilik bolong.

Mak cicing digubuk ieu sieun mun usim hujan, hatepna tos balocor ja ku barolong, haju teu aya lampu deui anu caang” papar Nenek Muklinah dengan raut sedihnya  dalam Bahasa Sunda.

(Mak tinggal ditempat ini takut saat musim hujan, atapnya bocor karena sudah pada bolong, dan tidak ada lampu penerang-red).

“Mak ngeun ngaharepkeun bantosana, tos 20 tahun cicing di gubuk jeng sa-ayaayana bae”
( Mak hanya berharap ada yang bantu, karena sudah 20 tahun tinggal di rumah ini dengan seadanya). Harapnya.

Program Lebak Sejahtera dan Lebak Sehat yang digulirkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak di era kepemimpinan Bupati Iti Octavia Jayabaya, sepertinya belum dirasakan oleh Nenek Muklikah dan nenek lain yang senasib.

Nenek Muklikah Ditemukan Petugas PPS

Kondisi hidup nenek Muklikah yang sangat memprihatinkan, pertama kali diungkap Heri, Petugas Panitia Pemungutan Suara (PPS) Desa Lebak Pendeuy, Kecamatan Cihara Lebak. Mak Emuk ditemukan Heri, saat  sedang melakukan pemutahiran data pemilih untuk Pilkada serentak 2018 .

“ Waktu Coklit (Cocok dan Penelitian) di Kampung Pasir Buntu Desa Lebak Pendeuy ke rumah milik Muklikah (80 tahun) saya kaget dengan kondisi gubuk yang diisi oleh Nenek Muklikah,” kata Heri kepada  wartawan, Minggu (11/2/2018).

Mengetahui kondisi nenek tersebut, masih kata Heri,  ia segera melaporkan kepada pemerintahan setempat dan langsung direspon.

“Pak Camat sudah mengintruksikan kepada Kepala Desa dan saya untuk mengurus persyaratan untuk di ajukan ke Dinas Sosial,”  ungkap Heri.

Heri juga mendapat pesan dari Mak Emuk yang meminta bantuan dari semua pihak untuk meringankan beban hidupnya.

Mak ngeun ngaharepkeun bantosana, tos 20 tahun cicing di gubuk jeng sa-ayaayana bae” tiru Heri.

“Mak Emuk ngomong ke saya dan minta bantuan, saya sedih dengarnya,”  terang Heri.

Ramai di Medsos

Kondisi Nenek Muklikah  sempat ramai dan  menjadi perbincangan hangat di media sosial. Salah satunya akun facebook milik Eggi Ramadhan yang memposting kondisi Nenek Muklikah dan rumah yang ditinggali sang Nenek.

Sejak ramai di medsos, bantuan berbagai pihak  memang mulai mengalir kepada Nenek Muklikah. Namun, sayangnya, Kepala Desa Lebak Peundey  belum bisa dihubungi.

Kondisi memprihatinkan Nenek Muklikah,  bukan satu-satunya nenek renta yang hidup di gubuk reot seorang diri.

Nenek Sawati (71) warga Kampung Cihideung, Desa Sarageni, Kecamatan Cimarga, juga diketahui bernasib sama. Seperti dilansir laman Banten news, nenek Sawati ini juga tinggal digubug reot berukuran 3,5 meter x 5 meter. Nenek  jompo ini harus berjuang melawan getirnya hidup bersama keponakannya yang sedang hamil tua dan cucunya di gubuk bambu.

Parahnya lagi, gubuk yang sudah ditempatinya selama puluhan tahun tanpa penerangan listrik itu, tidak ada tempat WC. Tungku dapurnya menyatu dengan tempat tidur.

Tragisnya lagi, Nenek Sawati dan keponakannya sampai saat ini tidak memiliki KTP dan Kartu Keluarga (KK) dan belum pernah juga mendapatkan bantuan kecuali dari tetangga berupa makanan. “Kalau hujan, air pasti masuk karena pada bocor. Kami hanya bisa pasrah karena tidak punya uang buat membangun,” ungkapnya.

Pemkab Lebak Optimis Angka  Kemiskinan  Menurun

Dilansir dari esq-news.com, Pemkab Lebak memastikan angka kemiskinan di Kabupaten Lebak menurun karena adanya intervensi bantuan yang digulirkan pemerintah.

“Tahun ke tahun angka kemiskinan di Lebak menurun,” kata Yosep beberapa waktu lalu, seperti dikutip laman tersebut.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah angka kemiskinan di Lebak sejak 2015 sampai 2017 turun sekitar 1.33 persen dari jumlah penduduk 1,2 juta jiwa.

Pada tahun 2015 angka kemiskinan mencapai 9,97 persen, dan 2016 menjadi 8,71 persen serta 2017 menurun menjadi 8,64 persen.

Penurunan angka kemiskinan itu, antara lain karena pemerintah daerah mengeluarkan kebijakan program unggulan yakni Lebak Sejahtera, Lebak Pintar, dan Lebak Sehat. (Yud/kar)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.