Nenek Ini Nyanyikan “Lagu Yang Sama” Selama Setengah Abad

128
Nenek Sarniah berdendang selama setengah abad dengan lagu dan lirik yang sama- foto kr-BantenTribun.

Pandeglang, BantenTribun.id – Adakah yang sanggup mendendangkan lagu setiap hari, dengan lirik dan nada yang sama selama setengah abad?

Mungkin hanya nenek Sarniah, yang  bisa membuktikannya, melantunkan lirik dengan nada dan intonasi yang konstan selama 47 tahun, ya selama itu.

“Pindang Yeeuuh…..” nada suara ini setiap hari keluar dari mulut Nenek Sarniah (60).Wanita tua yang masih kuat menggendong beban seberat 15 kilogram  dengan berjalan kaki. Lirik dan  nada itu tidak pernah berubah,  selama hampir 47 tahun,  kecuali fisik nenek itu sendiri. Lagu itu terus didendangkan dan  seolah sudah menjadi ikon bagi wanita penjual ikan pindang berusia senja asal Kampung Jaya Makmur, Desa Karang Anyar Kecamatan Labuan Pandeglang.

Nenek Sarniah.

Setiap hari, Sarniah menyusuri gang perkampungan sekitar Kelurahan Karaton, Saruni dan Sukaratu Kecamatan Majasari, untuk menawarkan dagangannya berupa Ikan Pindang jenis Ikan Abu-abu atau Ikan Kembung. Dua jenis ikan ini memang sengaja dipilih karena banyak penggemarnya, terutama  di wilayah perkotaan.

“Kalau Ikan Tongkol kurang di sukai di sini mah pak,” katanya, kepada BantenTribun, ketika sedang berkeliling di daerah Ciekek.

Ia menceritakan kalau ikan pindangnya adalah hasil olahan sendiri. Sementara ikan segar yang diperolehnya didapat dengan cara berhutang dulu ke juragan ikan Di Labuan.

“Ikannya ngutang dulu. Kalau sudah habis baru bayar,” jelasnya.

Jika jualannya ini habis, Sarniah mengaku mendapatkan keuntungan  sekitar Rp 60.000 hingga Rp 80.000, saja.  Keuntungan sebesar itu belum dipotong ongkos mobil dan biaya makan – minumnya sebesar Rp25.000 perhari. Namun jika tidak habis,  jangankan untung, uang modal dagangnyapun terpaksa  digunakan untuk ongkos dan makannya.

Perempuan yang sudah dikaruniai 10 Cucu dan 2 Uyut dari 2 orang anaknya ini mengaku, kalau ia sudah berdagang pindang sejak tahun 1970. Selama itu pula, ia menggendong beban dagangannya sekitar 15 kilo, mengelilingi permukiman dan berharap jualannya habis.

“Sekarang saya nggak kuat kalau bawa dagangan 20 kilo sendirian.Sudah Tua,” ucapnya.

Pantas saja, hari itu ia mengajak anak sulungnya, Nurimah(45) untuk membantu membawakan barang dagangannya. Namun begitu, Sarniah mengatakan bukan berarti berharap agar anaknya juga bekerja sebagai penjual pindang untuk meneruskan usahanya.

 Rupanya ia tidak tertarik membangun dinasti bisnis keluarganya.  Pindang Yeeuuh…”(kar)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here