Mesjid Agung Banten Lama, Tak Terdampak Oleh Letusan Dahsyat Krakatau 1883

Banten Lama, ditata (foto-Nur.h-BantenTribun)

Banten Lama, ditata (foto-Nur.H-BantenTribun)

Masjid Agung Banten sedang dilakukan penataan oleh Pemerintah Provinsi Banten. Masjid peninggalan Kesultanan Banten ini dibangun tahun 1552-1570 saat Maulana Hasanuddin berkuasa.

Masjid ini berdiri tiga ratus tahun lebih sebelum Krakatau meletus, pada tahun 1883 dan hingga kini masih bertahan utuh.

Jika bicara dampak letusan dasyat Gunung Krakatau yang terletak di Selat Sunda yang terjadi pada tanggal 26, 27, 28 Agustus 1883, semua data literatur maupun saksi hidup yang terdokumentasi mengungkapkan tentang kehancuran yang luar biasa, bahkan dampaknya hingga jauh ke benua seberang.

Selama tiga hari berturut pada tanggal tersebut, Krakatau menumpahkan amuknya dengan menyemburkan seluruh kandungan isi perutnya. Abu, batu apung, lumpur panas, hujan pasir termuntahkan hingga jauh ke selatan Sumatra dan barat Jawa. Badai petir, laut tergoncang hingga gelombang pasang yang menyebabkan tsunami dasyat hingga melebihi pohon kelapa sepanjang pantai tersebut.

Kedasyatan letusan mengakibatkan gunung Krakatau rata dengan permukaan laut dan terpecah 3 hingga menyisahkan sempalan pulau yang saat ini berdampingan, yaitu Pulau Sertung, Pulau Panjang dan Pulau Rakata.

Pengunjung menaiki lereng Krakatau dengan latar Pulau Rakata, sempalan sisa letusan Krakatau 1883 ,(Danan)
Pengunjung menaiki lereng Krakatau dengan latar Pulau Rakata, sempalan sisa letusan Krakatau 1883 ,(Danan)

Dalam catatan sejaman Buku “Letusan Gunung Krakatau 1883” dari Arsip Nasional tercatat lima puluhan telegram dari pejabat Administrasi Kolonial Belanda yang dilaporkan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia. Telegram-telegram tersebut berasal dari wilayah Palembang, Bengkulu, Lampung, Banten, Batavia, Karawang, Madura bahkan Sulawesi yang berisi tentang korban jiwa, harta benda dan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat letusan Krakatau.

Salah satu telegram yang berasal dari Residen Banten kepada Gubernur Jenderal di Bogor, tanggal 28 Agustus 1883, tentang keadaan di Serang, berbunyi,

“ Gouverneur Generaal Buitenzorg Om 101/4 omgeveer hevige knallen al suit zwaar geschent in het westen thans Serang in volslagen duisternis geheel. Het regent nader volgens particulier bericht zou een rij Chineesche huizen te Merak/vaste wal/gisteren avond door de zee zijn megevoerd. Menschen ontkennen”.

(Pada sekitar 10.15 terdengar letusan hebat, sepertinya ada kerusakan hebat di bagian barat. Sekarang di Serang seluruhnya sama sekali gelap. Kemudian Bupati mendapat kabar tidak resmi dari rumah-rumah pecinan di Merak, bahwa kemarin petang laut telah menghanyutkan banyak orang yang hilang), seperti dijelaskan G.B Ged. Agenda 50444a/1884 (Agenda 1/9-16876).

Dari telegram Insinyur klas I Dinas Perhubungan Pelabuhan Batavia untuk Direktur Pekerjaan Umum tanggal 28 Agustus 1883 No. 1487 mengenai kerusakan Pelabuhan Tanjung Priok akibat letusan Krakatau digambarkan bahwa pada pukul 12.00 di Pelabuhan Tanjung Priok mengalami kerusakan menyeluruh (total) akibat ombak yang bergulung-gulung, ternyata diketahui sumber ombak berasal dari erupsi Krakatau. (Sumber: G.B. Ged. Agenda 5044a/1884).

Pencanangan Revitalisasi Banten Lama bersamaan Gerakan Banten Bebersih 2017 di halaman Mesjid Agung Banten Lama
Pencanangan Revitalisasi Banten Lama bersamaan Gerakan Banten Bebersih 2017 di halaman Mesjid Agung Banten Lama

Dari banyak kisah kehancuran akibat Krakatau yang mendunia, ada satu kawasan pusat kekuasaan Kesulthanan Banten yang saat itu telah berdiri sebuah masjid tua yang berada di daerah pesisir utara Banten yang lebih dikenal dengan nama Mesjid Agung Banten Lama yang menjadi peninggalan sejarah bahwa bangunan ini luput dari dampak amuk Krakatau.

Entah kenapa tak banyak, bahkan nyaris tak ada catatan apapun tentang kondisi Banten Lama saat terjadi bencana dasyat tersebut. Apakah karena saat itu aktifitas pemerintahan di kawasan Banten Lama telah berakhir  yang ditandai dengan berpindahnya residen Banten terakhir pada 1832 ke Pusat Pemerintahan baru di Serang, yang saat ini gedungnya telah menjadi pusat perbelanjaan. sehingga daerah tersebut ditinggalkan warga.

“Tak ada aktifitas pemerintahan sejak kepindahan Sultan Rafiudin yang terakhir berkuasa ke Kota Serang pada tahun 1832, kecuali hanya jadi kampung nelayan,” kata Yadi Ahyadi, penterjemah naskah kuno yang aktif meneliti di Bantenologi.

Banten Tribun menemukan satu-satunya tinggalan catatan sejarah berupa manuskrip kondisi saat terjadi letusan dasyat Krakatau justru terdapat di banguan kelenteng tua dikawasan itu, yaitu Kelenteng Avalokatesvara yang berdiri di sebelah utara Mesjid Banten.

BantenLama
BantenLama

Dikisahkan bahwa saat itu warga sekitar berlarian menyelamatkan diri dari hantaman banjir dasyat yang menenggelamkan kawasan pesisir Banten, sebagian berlari menyelamatkan diri kearah kelenteng. Kondisi saat itu digambarkan layaknya kiamat, tanah berguncang, langit gelap, petir menyambar, hujan abu sangat tebal hingga berhari-hari.

Manuskrip yang menggambarkan kondisi seputar Banten Lama saat terjadi gempa bumi dasyat akibat letusan Krakatau 1883. Saat ini manuskrip tersebut masih terdapat di Kelenteng Avalokatesvara, Banten Lama.

Dari beberapa sumber sejarah Banten, masjid ini dibangun pada masa Kekuasaan Maulana Hasanuddin (1552-1570), anak pertama dari Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati,

Penguasa Banten pertama yang mengembangkan Islam di Banten yang memindahkan pusat kekuasaan ke Banten Lama setelah menaklukkan kekuasaan Padjajaran dari Banten Girang yang berkuasa periode pra Islam, hingga mencapai puncak kejayaan pasa masa Kekuasaan Sulthan Ageng Tirtayasa (1651-1672) hingga redup dan dibubarkannya Kesulthanan Banten oleh bangsa kolonial.

Sejak masa Kesultanan Banten, masjid ini sudah didatangi  oleh beberapa peziarah, namun paska kehancuran peziarah menjadi sepi, hanya orang-orang yang bernazar dan minta kesembuhan dengan meminum air dari sebuah sumur di Mesjid Banten.

Setelah lama terlantar, pada tahun 1945 Masjid Agung Banten ini kemudian dibersihkan dengan bergotong royong masyarakat se- Banten hingga Bogor yang dimotori oleh KH. Acmad Chotib yang saat ini makamnya berada disisi utara masjid.

Setelah pembersihan kembali, para peziarah kembali ramai memenuhi masjid ini. Kebanyakan peziarah ramai saat bulan Mulud, Sa’ban, dan membludak saat bulan Syawal- Muharam. Kondisi saat itu sepertiyang terekam foto-foto tahun 1900 kawasan tersebut masih dipenuhi pohon kelapa dan beringin.

“Saat rekonstruksi oleh bangsa kolonial pada tahun tahun 1900, foto-foto masih menunjukkan hutan lebat disekitar yang dipenuhi pohon kelapa dan beringin,” ujar Yadi Ahyadi.

Dalam perjalanan masa, situs Banten Lama ini pernah dilakukan banyak penelitian oleh berbagai pihak, seperti Arkenas dan sebagainya karena Kota tua Banten Lama pernah menjadi pusat pelabuhan Kota Islam di Indonesia.

Hingga terbentuknya Provinsi Banten pada tanggal 4 Oktober 2000, seiring berkembangnya dunia pariwisata jumlah peziarah dan wisatawan semakin bertambah banyak, namun atas kondisi tersebut semakin banyak pula keluhan yang disampaikan peziarah maupun pengunjung terkait kesemrautan dan kekumuhan.

Warung-warung yang menutupi nyaris seluruh area menjadikan masjid semakin sempit dan kumuh, belum lagi pengemis dan area parkir yang semrawut. Juga infrastruktur jalan menuju lokasi ini yang banyak rusak, semakin menambah banyak keluhan.

Saat ini Pemerintah Provinsi Banten sedang gencar melakukan pembenahan atas kondisi Banten Lama. Pembenahan ini dilakukan sejak dicanangkannya Revitalisasi Banten Lama oleh Wahidin Halim setelah bulan pertama berkuasa pada pada tanggal 21 Juli 2017 bersamaan Gerakan Banten Bebersih,

“Saya ingin Banten Lama terlihat rapih, bersih, ini untuk mengangkat harkat dan martabat Banten yang penuh dengan sejarah gemilang,” Ujar WH saat itu.

Terpantau saat ini kawasan Banten Lama, terutama sekitar masjid dan menara sedang dilakukan penataan. Seluruh halaman yang cukup luas dipasangi marmer seukuran triplek. Payung-payung raksasa ala Madinah terpasang untuk meneduhi para peziarah dan pelancong. Semua infrastruktur dibenahi, baik ruas jalan maupun trotoar untuk pejalan kaki, kanal-kanal kembali dihidupkan dengan membangun turap beton dan penataan pedagang serta terminal. Ada anggaran sekitar 70 milyar yang terpampang di papan plang proyek.

Di masjid ini pula terdapat makam Maulana Hasanuddin dan permaisuri, Sultan Ageng Tirtayasa dan permaisuri serta Sultan Abu Al Fadhol Muhammad Yahya.

Selamat HUT ke 18 Provinsi Banten, Semoga kejayaan Banten masa lalu menjadi spirit pembangunan Banten saat ini. Sikat korupsi..! (Nur.H/kar

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.