Merawat “Ngarengkong” Tradisi Adat di Kasepuhan Guradog Lebak

Tradisi Ngarengkong yang tetap terpelihara di Kampung Kampung Guradog, Desa Guradog, Kecamatan Curugbitung, Kabupaten Lebak-Banten (foto-ist -BantenTribun)
Tradisi Ngarengkong yang tetap terpelihara di Kampung Kampung Guradog, Desa Guradog, Kecamatan Curugbitung, Kabupaten Lebak-Banten (foto-ist -BantenTribun)

Ngarengkong atau Ngunjal Pare merupakan tradisi masyarakat adat yang ada di Kampung Guradog, Kecamatan Curugbitung, Kabupaten Lebak-Banten.  Kegiatan ini digelar setiap tahun oleh masyarakat setempat bersama tokoh masyarakat dan tokoh adat.Padi yang disimpan, bisa digunakan warga yang alami kesusahan dan membayarnya saat panen tiba.

Lebak, BantenTribun.id– Ribuan masyarakat dan tokoh adat Kampung Guradog, Desa Guradog, Kecamatan Curugbitung tumplek memeriahkan upacara adat Ngunjal atau Ngarengkong (mengangkut padi hasil panen,-red) untuk kemudian disimpan dalam leuit atau lumbung padi, Minggu  kemarin.

“Ngunjal ini merupakan tradisi masyarakat Guradok yang sudah ada sejak dulu,” kata Kepala Desa (Kades) Guradog, Sukarma saat disela-sela kegiatan.

Pesta adat juga dimeriahkan oleh penampilan seni musik kendang rampak, bobodor dan kuda adul yang di bawakan oleh warga adat setempat dan simpatisan warga luar desa.

Sukarma menjelaskan, Ngarengkong atau Ngunjal pare merupakan tradisi masyarakat adat yang ada di Guradog. Kegiatan tersebut digelar setiap tahun oleh masyarakat setempat bersama tokoh masyarakat dan tokoh adat.

“Hasil panen padi dari sawah seluas dua hektar terdebut disimpan di Leuit (lumbung padi adat,-red) yang nantinya digunakan untuk keperluan tatanan adat, juga bisa digunakan oleh masyarakat yang sedang mengalami kesusahan terutama bagi masyarakat yang tidak mampu dengan cara meminjam padi tersebut dan membayarnya pada saat  panen,” ujarnya.

Selain untuk meningkatkat kesejahteraan masyarakat setempat, tradisi Ngunjal ini juga untuk menjalin kebersamaan, kekompakan, dan kesatuan juga untuk memperkenalkan tradisi leluhur kepada masyarakat luar.

“Alhamdulillah hasil panien dari sawah adat cukup melimpah. Padi ini akan disimpan di Leuit (Lumbung padi) untuk ketahanan pangan sampai musim panen berikutnya,” jelasnya.

Kepala adat atau kesepuhan Guradog Ono Rohadi atau yang biasa dipanggil Abah Ono, mengatakan tradisi Ngunjal pare merupakan tradisi yang sudah berjalan cukup lama dan diadakan setiap tahun setelah musim panen.

Ribuan warga mengikuti tradisi ngarengkong atau ngunjal pare di Kampung Guradog, Kabupaten Lebak, Banten
Ribuan warga mengikuti tradisi ngarengkong atau ngunjal pare di Kampung Guradog, Kabupaten Lebak, Banten (foto-yud)

Sawah adat tersebut hanya bisa digarap oleh petani dan tokoh masyarakat serta pemangku adat hanya satu tahun sekali disetiap musim tanam.

Ya, Alhamdulilah  tahun iye hasilna bagus ditahun kamari hasilna 400 pocong pare. Tahun ayena hasilna nyampe 840 pocong pare. (Hasil tahun ini cukup bagus dan ada peningkatan dari tahun sebelumnya yang hanya menghasilkan 400 ikat, sekarang menjadi 840 ikat padi. Mudah- Mudahan tahun yang akan datang hasil panen terus meningkat sehingga masyarakat menjadi maju dan sejahtera,” katanya. (yud/red).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here