Merasakan Jari Shiatsu Dari Handi “Sang Tuna Netra”

94
Handi sedang men -shiatsu -pasiennya di tempat praktek,foto kr-BantenTribun

Pandeglang, BantenTribun.id – Handi Suherman,  sepintas kelihatannya normal saja. Tidak seperti tuna netra kebanyakan yang kelopak matanya tertutup atau mengecil. Pria ini sudah mengenyam kursus Bahasa Inggris di Harvard Bandung selama dua tahun. Penyakit penyempitan retina matanya ( Retinitis pigmentosa), yang semakin parah, mengkandaskan asa-nya  memiliki lembaga kursus bahasa inggris sendiri.

Sudah hampir 2 tahun, Handi Suherman (41) pria penyandang tuna netra akibat penyempitan retina matanya ( Retinitis pigmentosa)  ini membuka praktek pengobatan pijat metode Shiatsu, di rumah kontrakannya di Gang sempit,   Kampung Maja Timur Rt 02/01 Kelurahan Sukaratu Kecamatan Majasari Kabupaten Pandeglang.  Sebuah  metode pemijatan dengan menggunakan tekanan jari tangan ke sekujur tubuh.

Handi,  sepintas kelihatannya normal, tidak seperti tuna netra kebanyakan yang kelopak matanya tertutup. Pria kelahiran Bandung ini, baru terlihat jelas bahwa ia  buta tatkala diajak bersalaman atau ketika menerima uang jasa.

“Saya sudah 2 tahun praktek disini pak, sebelumnya bekerja  di tempat pijat shiatsu di Bandung,”kata Handi.

Pria tamatan SMA yang juga beristri tuna netra asal Kecamatan Banjar Pandeglang ini  menceritakan bahwa semula  ia bercita-cita ingin  memiliki lembaga kursus bahasa inggris.  Namun karena penyakit yang dideritanya, penyempitan retina mata yang semakin parah,  keinginannya kandas.

“Padahal saya sudah mengikuti kursus bahasa inggris di Harvard Bandung selama dua tahun pak,” ceritanya.

Menyadari keterbatasan matanya, ia lalu belajar pijat dengan metode shiatsu  dan belajar braile di  Panti Sosial Bina Netra Wyata Guna Bandung selama 2 tahun.

“Metode ini dari Jepang. Menggunakan tekanan jari tangan ke seluruh tubuh, jadi tidak diurut, tidak juga seperti refleksi yang hanya  di ujung saraf telapak kaki atau tangan. Shiatsu mirip akupuntur, hanya pakai tekanan jari bukan jarum pak,” jelas Handi.

Untuk  jasanya, Handi mematok Rp 30.000 perjamnya. Besaran biaya tersebut hanya separuh dari biaya di tempat prakteknya  dulu.  Jumlah pasiennya dalam sebulan rata-rata 40 orang.

“Dari pertama buka, taripnya belum pernah naik pak, paling kami akan menghapus paket sejam jadi minimal satu-setengah jam saja,” katanya.

Dengan tarip dan jumlah pasien sebanyak itu, Handi  mengaku masih belum mencukupi kebutuhan untuk membiayai istri dan seorang anak balitanya.

Jadi, jika ingin dipijat tapi malas karena alergi minyak urut atau merasa risih harus  buka  pakaian,  maka cobalah  metode penyembuhan yang satu  ini. Pijat Shiatsu dari tangan Handi tuna netra ini.*(kar)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here