Menyigi Upsus Jagung (3): Kuncinya Adalah Penyuluh dan Keseriusan

Petani Desa Rocek,saat menjemur hasil jagung(foto-BantenTribun)
Seorang Petani Jagung di Desa Rocek,saat menjemur hasil panennya.(foto-BantenTribun)

Oleh* : Kamim Rohener

Angka capaian CPCL sebesar 51.400 ha untuk Upsus jagung ini, tentu saja masih angka berdasar data luasaan lahan calon penerima. Dari jumlah lahan tersebut, berdasar jumlah benih jagung yang sudah terkirim, menurut Nasir, Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian Pandeglang, tercatat 48.317 ha.  Jumlah real yang tertanam sampai hari ini (5/12/17), menurutnya sudah mencapai 36. 400 ha.

Rasanya tidak perlu malu atau menutup-nutupi angka keberhasilan capaian, kualitas ataupun kuantitas dari upsus jagung tersebut. Berbagai kendala dan masalah yang muncul, menjadi evaluasi untuk tahun berikutnya.

Adanya kabar penjualan benih jagung sebanyak 2 ton oleh Ketua Poktan di wilayah Desa Citeureup Kecamatan Panimbang (meski ahirnya mengganti), kabar petani yang menjual hasil panen jagung mudanya seluas 10 ha di Kecamatan Bojong karena dibeli dengan harga tinggi, termasuk betapa “ketagihannya” petani di Kecamatan Mekarjaya yang sudah 4 kali melakukan penanaman, setelah merasakan manisnya hasil panen jagung, serta terekamnya petani yang menjemur jagung diatas tanah tanpa alas, memang turut mewarnai perjalanan upsus jagung tersebut.

Meski demikian, keseriusan dari semua pihak, terutama Dinas Pertanian Pandeglang, plus “kadis anyarnya” yang mulai terdengar kesan enggan dan dianggap belum melakukan langkah kongkret untuk jagung, menjadi titik penentu kesuksesan program ini. Namun, dari semuanya itu, tenaga Penyuluh Pertanian, kiranya memegang peran sentral dan menjadi kunci penting keberhasilan. Fokus dukungan yang dibutuhkan barisan penyuluh, tak boleh diabaikan.

Peran penyuluh dalam membangun pertanian, memang acapkali dilihat dalam sorotan negatif. Kabar tentang kurangnya pembinaan penyuluh di lapangan, adanya Reward and Punishment perlu mendapat perhatian serius.

Van den Ban dan H.S Hawkins (1988) menyatakan bahwa penyuluh adalah pendamping perubahan (Agent of Change). Sebuah statemen yang tepat bila melihat proses penyuluhan pertanian sebagai sebuah pendidikan non formal yang bertujuan merubah pengetahuan sikap dan keterampilan petani agar mau dan mampu mengambil keputusan sendiri terkait usaha tani yang dilakukannya.

Dalam konteks pengembangan Jagung, Penyuluh memiliki peranan teramat penting, dari awal hingga akhir.

Mereka adalah orang-orang yang membersamai petani melakukan pendataan luas lahan. Bisa jadi mereka juga adalah orang yang pertama meyakinkan petani untuk menanam jagung dengan alasan-alasan logis sebagaimana ditulis dalam bagian sebelumnya.

Penyuluh pula yang senantiasa mendampingi petani, dari mulai meyiapkan lahan hingga jagung itu bisa di panen dan di pasarkan.

Meskpun beigitu, kita tentu tidak bisa menafikan pihak-pihak lain yang juga berjuang mewujudkan target Pandeglang menuju swasembada jagung. Ada pihak yang berjuang menyediakan sarana, mengelola administrasi mengawal distribusi, yang melobi pasar dan investor dan lain sebagainya.

Namun sekali lagi, Penyuluh adalah pihak yang setiap hari langsung berinteraksi dengan petani. Sehingga berbagai permasalahan yang timbul di lapangan dalam pengembangan jagung, merekalah pihak pertama yang tahu dan menindaklanjutinya.*(habis deh…)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.