Menjual Jasa di Usia Senja

66
menjual jasa
Abah Emed menjual jasa membabat rumput di rumah orang lain meski usianya sudah senja

Pandeglang,BantenTribun.id- Tubuhnya terlihat begitu kurus. Tulangnya nampak jelas menonjol di sekujur tubuh yang terbalut kulit keriput. Garis kelelahan dimukanya terlihat benar. Namun, tubuh renta itu terus menggerakkan aritnya, sebagai senjata utama, melakukan pekerjaan membersihkan rerumputan di halaman rumah orang. Dari situ ia akan menerima imbalan sekedarnya atas jasanya.

Tubuh tua itu biasa dipanggil Abah Emed. Usianya kini sudah menginjak 77 tahun. Emed, warga Kampung Curug Anggur, Kelurahan Kadomas Kecamatan Majasari ini, memang dikenal “tukang nyacar” atau tenaga pembersih rerumputan lepas. Di sekitar wilayah tempat tinggal dan sekitar wilayah Kelurahan Karaton, nama Emed sebagai penjual jasa membersihkan rumput, memang sudah tidak asing di telinga.

Hampir setiap hari ia berkeliling kampung dan berharap ada orang yang berniat menggunakan jasa tenaganya. Seperti hari  itu, Selasa (14/8), Abah Emed terlihat membersihkan rumput di tanah milik seorang warga Ciekek Babakan Karaton.

Pagi itu jarum jam sudah menunjukkan angka 10. Saat ditanya, ia mengaku belum sarapan pagi untuk mengisi perut tipisnya.

“Saya baru mulai pak, nanti juga dikasih sarapan sama yang punya rumah,”katanya lirih, sambil tetap menggerakkan tangan membersihkan rumput.

Abah Emed menceritakan bahwa ia hidup bersama seorang istri dan 2 orang anak laki-lakinya yang belum memilki pekerjaan. Sementara 3 anak perempuannya sudah berumahtangga dan hidup terpisah. Di masa mudanya ia mengaku berdagang dan bertani. Namun, dagangannya sudah lama bangkrut dan tidak memiliki lagi   lahan sawah untuk bertani.

Hari-hari selanjutnya ia terus berkeliling kampung, dengan tetap berharap mendapat rizki yang berkah untuk sekedar makan keluarganya.

“Ya lumayanlah pak sekedar  buat makan, yang penting halal dan semoga berkah,” tuturnya.

Ia juga mengaku tidak pernah sekalipun  memasang tarif atas jasanya. Menurutnya yang penting orang senang atas hasil pekerjaannya sehingga tidak kapok untuk menyuruhnya lagi.

“ Ya segamana dikasihnya aja. Ada yang kecil ada besar, yang penting senang dan ikhlas,” katanya.

Baginya, yang penting di sisa umur senjanya ia tidak meminta-minta alias mengemis. Selama tubuh masih dapat berjalan dan bergerak ia tetap berusaha demi sesuap nasi kelarga sederhananya. Sebuah potret seorang bapak tua yang terus berjuang ditengah deraan sulitnya hidup.(Kar)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here