Menjemput Rezeki Dengan Mobil Modifikasi Ala Kang Mboy

 

Warung kopi Kang Mboy di mobil modifikasi (BantenTribun)
Warung kopi Kang Mboy di mobil modifikasi (BantenTribun)

Kang Mboy, begitu nama populernya, setia berdagang kopi sejak 18 tahun lalu di lingkungan Kantor Setda Pandeglang. Dua tahun belakangan, ia beralih dengan menggunakan mobil tua yang dimodifikasi. Selain praktis dan murah biaya, dengan mobil itu ia mudah berpindah lokasi untuk menjemput rezeki.

Pandeglang,BantenTribun.id – Berjualan diatas mobil memang bukan hal baru. Memberdayakan fungsi mobil  yang sudah ada untuk menambah pundi-pundi penghasilan, atau cari tambahan untuk meringankan angsuran mobil anyar, atau sengaja merubah fungsi dengan memodifikasi demi menjemput rezeki, kini menjadi trend. Yang penting tidak gengsi dan pintar mencari celah berdagang, peluang meraih pundi itu bisa terbukti.

Berdagang di mobil memang layak dicoba. Selain lebih praktis, biaya yang relatif kecil, keuntungannya juga tak sedikit.

Tengok saja usaha warung kopi Kang Mboy yang setia dengan mobil Carry  minibus tahun 1991-nya yang sudah dimodifikasi.  Boleh juga lihat di sekitaran Alun-alun Pandeglang hingga samping Kodim. Di sepanjang jalur ini, kita akan menemukan cukup banyak  mobil berjejer dengan merk dan jenis berbeda, dengan bermacam-macam barang dagangan di dalamnya.

Transaksi pedagang dan pembeli di mobil toko itu, jika sedang ramai, kadang terlihat tak kalah serunya jika dibandingkan dengan yang terjadi di lapak-lapak lain seperti toko.

Kedai Kopi Kang Mboy di Mobil Modifikasi

Kang  Isa (35), lebih ngetop dengan panggilan Kang Boy  warga Kadu Salak Kelurahan Juhut, Kecamatan Karangtanjung, Kabupaten Pandeglang  ini, memang tidak asingdi telinga bagi pegawai di lingkungan Setda Pandeglang dan pekerja pencari berita.

Sejak usia belia, ia sudah  terjun berdagang di pasar Pandeglang, sebelum akhirnya membuka dagangan di Jalan Kesehatan atau di depan halaman Kantor Setda lama. Menurutnya, ia sudah berdagang kopi dan aneka minuman lainnya sejak 18 tahun silam. Itu artinya Boy sudah merasakan 4 kali masa kepemimpinan bupati Pandeglang.

“Saya berdagang kopi di Kantor Setda ini sejak jaman Bupati Yitno dulu. Tapi sejak bangunan Setda pindah di gedung baru, saya coba berdagang dengan menggunakan mobil modifikasi ini,” kata Boy, kepada BantenTribun.

Dengan mobil cary keluaran tahun tua yang dibelinya seharga Rp10 juta, Mboy lalu merombak dan memodifikasi. Bagian body samping kanan-kiri serta belakangnya mobilnya di bobok dan dibuat bisa terbuka. Dengan tuas penyangga yang terpasang, bagian itu bisa terbuka menjadi kap terbuka.   Biaya modifikasinya, menurutnya, justru lebih mahal dari harga mobilnya sendiri.

“Biaya modifnya malah habis sekitar Rp15 juta-an. Itu juga tidak sekaligus, tergantung dari keuntungan yang saya sisihkan sedikit-sedikit” terangnya.

Alasan Boy memilih berjualan memakai mobil,  selain dianggap praktis, juga bisa berpindah-pindah jika ada pusat keramain.

“Mobil, kan, mudah dibawa ke mana-mana plus tidak perlu repot setiap kali membuka dan menutup jualan. Biayanya juga terhitung murah. Untuk satu minggu Cuma butuh 3 liter bensin saja.” jelas Boy.

Ditanya mengenai hambatan berdagang memaki mobil modif tua, Mboy yang rutin membuka dagangannya sejak pukul 7 pagi hingga malam itu ,  hanya tertawa renyah.

“Kalau mobilnya mogok, haha. Jadi, saya terpaksa  tidur dimobil  atau saya parkirkan di Kantor Setda menunggu diperbaiki. Kalau masalah keuntungan mah lumayan lah untuk mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari, ” kata kang Boy, tanpa mau merinci  nilai keuntungan yang didapatnya dari berdagang kopi diatas mobil modifikasi.*(mi)

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here