Menjaga “Bandung Boboko” dari Keengganan Generasi di Tengah Gempuran Industri

Sarmani, tetap menekuni anyaman bambu di tengah gempuran industri (foto-Nur-BantenTribun)

Sarmani, tetap menekuni anyaman bambu di tengah gempuran industri (foto-Nur-BantenTribun)

Pengrajin anyaman bambu di wilayah “Bandung Boboko” pasrah dengan keengganan generasi mudanya untuk menjaga keahlian turun-temurun karena gempuran industri. Namun, mereka tetap bertahan dan terus menekuni demi menjaga asap dapur.

Serang,BantenTribun.id– Kecamatan Bandung, sebagai pemekaran dari Kecamatan Pamarayan, Kabupaten Serang, Banten merupakan sentra industri kerajinan rakyat berbasis bambu.

Ketersediaan bahan baku bambu diwilayah ini menjadikan kebanyakan warganya memiliki keahlian dibidang kerajinan bambu berupa boboko, tampa, bakul, kukusan dan sejenisnya.

Ironisnya usaha turun temurun kerajinan Boboko dan sejenisnya yang menjadi andalan warga Kecamatan Bandung, Kabupaten Serang, Banten terancam punah. Hal ini akibat rendahnya minat generasi muda di daerah itu untuk menekuni kerajinan anyaman bambu dari orang tua mereka.

Gempuran produk sejenis dari bahan plastik yang banyak dipasaran menjadi ancaman serius, terlebih wilayah ini dikepung pembangunan industri, sehingga lebih banyak pemudanya lebih memilih bekerja di pabrik yang ada di wilayah itu.

“Anak-anak gak ada yang minat melanjutkan usaha ini, mereka lebih senang kerja dipabrik,” ujar Sarmani (50) warga Kampung Kiara, pengrajin beranak enam yang tak satupun dari mereka bisa menganyam.

Diketahui, kebanyakan warga di kecamatan ini merupakan petani sawah tadah hujan, sehingga untuk mengisi waktu saat musim kemarau, kebanyakan dari mereka mengerjakan usaha kerajinan dari bambu.

Itu sebabnya kecamatan ini lebih dikenal dengan sebutan “Bandung Boboko”. Usaha kerajinan ini juga dikerjakan saat mereka selesai mengerjakan garapan sawah mereka saat musim tanam.

Dari usaha kerajinan tersebut, setiap warga bisa mendapatkan tambahan penghasilan untuk dapur dan menutupi keperluan sehari-hari.

“Kalau musim kemarau kami mengerjakan usaha ini, atau sepulang menggarap sawah saat musim tanam,lumayan untuk ngisi keperluan dapur” sambung Sarmani sambil menganyam, ketika ditemui Banten Tribun.

Penyusuran Banten Tribun, hampir seluruh rumah warga di wilayah ini terdapat usaha kerajinan bambu untuk keperluan alat rumah tangga. Kegiatan tersebut dikerjakan oleh para orang tua.

Kebanyakan, produk kerajinan mereka ditampung oleh pembeli dari luar, atau ada juga yang menjual langsung saat hari pasar Selasa dan Jum’at hingga berkeliling keluar wilayah. Sebaran produksi mereka bahkan merambah hingga wilayah Jabodetabek.

Diantara persawahan dan perkampungan yang kebanyakan dilalui jalan yang kurang mulus, terdapat sebaran bangunan industri. Kondisi ini selain merubah minat generasi muda untuk bekerja di industri sekitar juga bisa mengancam kelestarian sawah mereka, baik desakan pembangunan maupun ancaman limbah industri jika kurang pengawasan instansi terkait.

Atas kondisi tersebut, Sarmani dan warga lainnya hanya bisa pasrah sambil terus menekuni usaha yang telah dikerjakan turun temurun. (Nur/kar)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.