Menikmati Kopi Gunung, Saat Warung Desa Tak jual ”Kopi Sachetan”

Menikmati Kopi Gunung, Saat Warung Desa Tak jual ”Kopi Sachetan”
Menikmati Kopi bakar pak Ndut, kopi lokal Cibaliung Pandeglang sajian Ginanjar (foto-BantenTribun)

*Oleh: Kamim Rohener

Jari saya terasa begitu gatal. Ingin menulis tentang kasus Tunda. Yang terasa lamban berjalan. Saya bayangkan betapa ruwet gerak kasak-kusuk dari oknum-oknum yang terlibat.

Jari ini juga begitu gatal. Ingin menulis tentang potongan 20 persen TPP pegawai yang terkesan semua menutup rapat. Tapi otak saya menolak. Apakah ini sudah jadi pemandangan garis sejajar yang lama-lama akan  samar lalu menghilang sejauh mata memandang? seperti halnya berdiri ajeg ditengah jalan menatap rel kereta?

Atau kalau tidak, tulis saja tentang bintek e-proposal dan e-Bumdes yang harus bayar 8 juta per desa. Bisa juga rencana mobilisasi proyek website desa seharga 17 juta, mumpung DD dan ADD bertaburan.

Mengalahkan jari saya: jangan menulis itu. Kadang sampai harus saya pukul jari ini: tidak boleh. Sesaat kemarahan otak saya reda: setidaknya jangan dulu.

“Lalu harus menulis apa?” tanya jari saya. Sambil meremas-remaskan dirinya.

Tulislah yang lain. Misalnya tentang kopi. Maka dengan terpaksa jari ini menulis tentang kopi. Ya, kopi saja.

Tidak ada resikonya. Bahkan banyak sekali manfaatnya, termasuk bagi Pandeglang. Kalau mau.

Jangan anggap sepele. Pabrik kopi rumahan berlabel ’Kapal Air’ mampu produksi kopi siap seduh hampir 2 kuintal perminggu. Atau Kopi cap Kilat yang sudah diatas 10 ton perbulan,  atau Kopi Bakar Pak Ndut, yang terus berjuang membangun brand kedai kopi lokal, meski baru 50 kilo perpekan.

Produksi Kopi lokal Pandeglang (foto-BantenTribun)
Produksi Kopi lokal Pandeglang (foto-BantenTribun)

Ketiganya itu memang baru secuil contoh pengusaha kopi Robusta lokal ditengah ekspansi besar kopi pabrikan. Entah, berapa ton aneka kopi yang dikonsumsi masyarakat Pandeglang saban harinya tersebut jika ditimbang.

Tapi masih beruntung. Kopi pabrikan yang gampang dijumpai di warung kopi di hampir pelosok kota ini bisa dengan mudah mengobati pecandu berat kopi seperti saya.

“Ngopi, sambil istirahat sejenak dari kejaran waktu liputan berita”. Coba saja kalau ternyata tidak ada kopi sachet pabrikan, hanya mengandalkan olahan kopi pengusaha lokal tadi, niscaya kita akan alami krisis kopi.

Betapa malunya kita jika itu terjadi.Kesulitan minum kopi di “tanah subur kopi”, seperti Pandeglang.

***

Pekan lalu, saya harus menempuh jalan kecil berliuk menuju Kampung Cinyurup, Sebuah kampung di ketinggian 800 dpl.

Sepanjang jalan butuh konsentrasi ekstra agar kendaraan tidak alami petaka, terpeleset di parit atau slip roda. Jalan yang terus menanjak, membuat suara mesin mobil seperti  “mengerang kesakitan”.

Sampai tujuan, hasrat pertama yang terlintas cuma pingin menikmati secangkir kopi  panas. Menyeruputnya di tengah udara sejuk hawa pegunungan.

Warung yang diharapkan bisa melayani  secangkir kopi pesanan saya, ternyata tidak sediakan kopi luwak atau  kopi hitam sachetan merk pabrikan. Hanya kopi hitam dalam kemasan kertas coklat sampul buku tulis, seperti sampul buku  siswa SD. Kata pemilik warung, kopinya merk Kapal Air, asli produksi Pandeglang.

Apa boleh buat, saya pun mengiyakan tawaran itu karena mulut sudah terasa asem. Dan…tegukan pertama kopi hitam itu terasa nikmat juga. Padahal,   bisa dibilang ini kali  pertama saya meneguk kopi bubuk sampul buku.

Sejak itu, rasa penasaran saya untuk tau lebih banyak tentang kopi kapal air, kopi kilat atau kopi lokal lainnya terus menggelitik. Pertanyaan dasar selalu muncul, jika kedai kopi yang menyajikan kopi lokal terbangun dan tersebar baik, cukupkah produksi Kopi Pandeglang? Bagaimana meningkatkan kualitas kopi dan meningkatkan kesejahteraan petaninya? Lalu apa yang sudah dilakukan pemerintah daerah berikut Dinas Pertaniannya? Bukankah dataran tinggi seperti Mandalawangi, Kaduengang, atau Kaduhejo di kaki Gunung Karang itu lahan bagus untuk kopi berkualitas?

Saya jadi teringat Ginanjar, yang terus membangun kopi bakar ‘Pak Ndut-nya’ dengan membuka beberapa kedai kopi. Boleh jadi, masyarakat Pandeglang belum terbiasa menikmati kopi di kedai-kedai yang representatif. Disela senggangnya, atau sambil tetap beraktifitas.

Di kota kecil ini, untuk secangkir kopi yang dibandrol 20-30 ribu, memang bukan perkara mudah. Bahkan boleh tanya instansi terkait, dari mana harus memulai membangun itu, niscaya tidak punya jawaban pasti.

Ahirnya, kopi sachetan siap menyerbu perkampungan di pegunungan. Kampung yang subur untuk tanaman kopi.Warganya minum kopi ‘sachet pabrikan’, dari hasil menjual biji kopi dipasar.*

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.