Masjid Pecinan Tinggi di Kampung Dermayon Banten Lama

228
Masjid Pacinan Tinggi, Banten Lama
Masjid Pacinan Tinggi, di Kampung Dermayon-Banten Lama (foto-NUR.H-BantenTribun)

Memasuki Kawasan Banten Lama,  kita bisa melihat sisa-sisa situs pecinan seperti reruntuhan masjid dan makam Tionghoa. Masjid Pecinan Tinggi, seperti namanya dibangun di daerah permukiman China pada masa Kesultanan Banten.

Serang,BantenTribun.id– Reruntuhan masjid ini terletak kurang lebih 500 meter ke arah barat dari Masjid Agung Banten atau 400 meter ke arah selatan dari benteng Spelwijk. Sampai sekarang belum banyak literatur yang menjelaskan asal usul didirikannya masjid ini. Di area ini sekarang kerap dijadikan tempat anak-anak sekitar bermain sepakbola.

Masjid Pecinan Tinggi terletak dikampung Dermayon, Desa Pamengkang, Kecamatan Kramatwatu Kabupaten Serang, Provinsi Banten.

Penamaan Masjid Pecinan Tinggi dikarenakan pada masa silam, banyak pedagang Cina yang berdagang dan bertempat tinggal di daerah ini pada masa Maulana Hasanudin. Menurut catatan sejarah, masjid ini adalah masjid yang pertama dibangun oleh Syarif Hidayatullah dan dilanjutkan oleh Maulana Hasanudin.

Keberadaan Masjid masih menimbulkan berbagai silang pendapat. Menurut Banten Heritage, ada sumber yang mengatakan bahwa Masjid PacinanTinggi merupakan masjid yang pertama kali dibangun di Banten Lama untuk penduduk imigran Cina yang memeluk agama islam,termasuk istri Sultan Syarif yang berasal dari Tiongkok.

Juga ada sumber lain yang mengatakan bahwa Masjid Pacinan Tinggi sengaja dibangun sebagai satu-satunya tempat ibadah di Banten Lama setelah sultan Banten hijrah dari Banten Girang ke Banten Lama. Namun dapat disimpulkan dari kedua pendapat tersebut bahwa Masjid Pacinan ini dibangun di Kampung Pacinan sebagai sarana islamisasi masa Sultan Syarif sekaligus sebagai tempat ibadah bagi warga sekitar dan Penduduk Cina yang telah memeluk islam.

Setelah Masjid Agung Banten dibangun, Masjid Pacinan Tinggi tidak lagi digunakan,tidak dipelihara dan lambat laun terabaikan hingga kondisinya seperti saat ini. Secara keseluruhan, ada dua versi yang terjadi pada Masjid Pacinan Tinggi.

Yang petama, pada awalnya masjid memiliki komponen utuh, aktivitas sempat terjadi, kemudian hancur hingga menyisakan komponen bangunan seperti saat ini. Yang kedua, Masjid Agung Banten tadinya akan berlokasi disini, namun saat itu, baru terbangun pondasi, mihrab dan menara masjid dan akhirnya tidak pernah terselesaikan.
Reruntuhan bangunan yang tersisa cuma secuil yakni menara masjid itu adalah sisa dari bangunan masjid bergaya arsitektur Tionghoa.

Selain menara Masjid Pecinan Tinggi, di sebelah selatan masih tersisa lantai masjid dan bangunan mimbar masjid.

Masjid Pecinan Tinggi bisa dikatakan tinggal puing-puingnya saja. Selain sisa fondasi bangunan induknya yang terbuat dari batu bata dan batu karang, juga masih ada bagian dinding mihrabnya.

Di halaman depan di sebelah kiri (utara) masjid tersebut, masih terdapat pula sisa bangunan menaranya yang berdenah bujur sangkar. Menara ini terbuat dari bata dengan fondasi dan bagian bawahnya terbuat dari batu karang. Bagian atas menara ini sudah hancur, sehingga wujud secara keseluruhan dari bangunan ini sudah tidak tampak lagi.

Tidak jauh dari menara tersebut, terdapat pula sebuah makam Tionghoa. Makam tersebut hanya satu-satunya yang terdapat di lokasi ini. Tulisan China yang ada di makam tersebut masih terpatri dengan jelas.

Tulisan itu menjelaskan bahwa yang dikuburkan di sana adalah pasangan suami istri (Tio Mo Sheng dan Chou Kong Chian) yang berasal dari desa Yin Shao dan batu nisan tersebut didirikan pada 1843.*(red)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here