Masjid Kayu Pasir Angin, Disebut Masjid Tertua Di Pandeglang

691

Tidak ada catatan atau manuskrip  atau  naskah tulisan tangan yang menjadi kajian filologi yang pasti kapan masjid ini dibangun, kayu yang digunakan  dan oleh siapa. Untuk mendapatkan manuskrip  itu katanya perlu terbang ke Negeri Belanda.

Pandeglang,BantenTribun.id – Masjid  Tua  “Baitul Arsyi” Di Gunung Karang Pandeglang ini, -sebuah gunung aktif  yang memiliki ketinggian 1.778 –  disebut-sebut sebagai bangunan masjid tertua di Pandeglang-Banten. Bangunan Masjid yang terbuat dari kayu  tanpa paku itu, juga sudah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pandeglang.

Namun, hingga sekarang, belum ada seorangpun  yang bisa memastikan kapan Masjid Tua di Kampung Pasir Angin, Kelurahan PagerBatu, Kecamatan Majasari,Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten ini mulai didirikan.

“Diperkirakan sekitar abad 17-an Masjid Tua Pasir Angin itu sudah ada,” kata Ustad Jaja Mujani (39), warga Kampung Campura Santa, Kelurahan PagerBatu, kepada BantenTribun, Senin (2/10), di Kantor Kelurahan.

Masjid berukuran panjang sekitar 12 meter dan lebar 10 meter ini masih terawat dengan baik. Bangunannya menghadap ke Gunung Karang dan memiliki tiga pintu. Dua pintu samping (kiri-kanan) dan satu pintu masuk bagian depan.

Di atap masjid terdapat kubah yang terbuat dari kayu, dan tiang-tiang masjid masih terlihat kokoh, termasuk umpak atau pondasi bawah masjid  yang juga terbuat dari kayu.
Selain itu, tampak bagian depan masjid tempat imam masih terlihat utuh, termasuk benda kuno seperti kentongan  kayu,  masih tergantung di luar masjid dan terlihat masih bagus. Sambungan tiang kayu dan lainnnya, tidak  menggunakan paku.

“ Kalau bedugnya lagi diperbaiki dirumah kami,” kata H.Apipudin (40), Warga RT03/03, Kampung Pasir Angin, Kelurahan PagerBatu,  yang juga tercatat sebagai penjaga masjid.

Menurut Apipudin, sampai sekarang belum ada yang tahu persis jenis kayu yang digunakan untuk bangunan masjid ini. Penamaan Baitul Arsyi, atau “Rumah Ibadah  Di Tempat Tinggi ”, mungkin hanya karena posisi Kampung Pasir Angin yang memang terletak didaerah Gunung Karang yang memiliki ketinggian.

“Tidak ada catatan atau manuskrip yang pasti kapan masjid ini dibangun, kayu yang digunakan  dan oleh siapa. Untuk mendapatkan manuskrip  itu katanya perlu terbang ke Negeri Belanda” terang Apipudin.

Ia juga menceritakan, jika masjid kayu ini belum pernah direhab. Perluasan bangunan dengan konstruksi tembok, diperlukan semata-mata untuk menampung jamaah yang semakin banyak.

Menurut cerita Apipudin,  keanehan masjid itu muncul saat warga hendak merehab bagian tiangnya. Setelah tiang masjid diganti dengan kayu baru, entah ada kekuatan gaib apa, tiba-tiba pagi harinya tiang kayu tersebut kembali ke semula (ke bangunan aslinya). Dari situlah, warga akhirnya melestarikan masjid itu dan memberi nama sebagai masjid kuno.

Apipudin, sangat berharap pemerintah daerah, turun tangan untuk menjaga kelestarian masjid kuno tersebut.

“Menjaga dan merawat masjid ini tentu memerlukan biaya, termasuk dukungan insfrastrukur jalan ke kampung ini sangat diperlukan bagi pengunjung ” ucapnya.

Pada hari dan bulan  tertentu, seperti  setiap malam jumat, dan bulan Maulud, Masjid Tua  Pasir Angin, sangat ramai dikunjungi peziarah dari luar kota.

Lurah Pager Batu, A. Yana Wijaya, juga sangat mengharapkan Pemda Pandeglang memperbaiki infrastruktur jalan guna mendukung “Wisata Religi” ke Masjid Kuno ini.

“ Kami sangat berharap Pemda Pandeglang serius membangun jalan PagerBatu  yang sudah hancur . Ini untuk mendukung keberadaan Masjid Kuno Pasir Angin,  menjadi tujuan wisata religi,” kata Yana, kepada BantenTribun, di Kantornya, Senin(2/9).

Sumber mata air yang mengalir

Di samping kanan Masjid Tua ini,  terdapat sumber mata air yang mengalir tiada habisnya. Tak jarang, warga luar Pandeglang setiap pekan selalu ada yang datang ke lokasi ini hanya ingin mengetahui keberadaan masjid kuno. Pengunjung menyempatkan waktu Shalat Zuhur dan Ashar di masjid tersebut.

 “Ya, banyak pengunjung ke masjid ini dan tidak sedikit pengunjung pulang sambil membawa air dari sumur dekat masjid yang jernih dan dingin, untuk syareat” tutur Apipudin.*(kr).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here