Marni, Nenek Miskin Penjual Sayuran yang Tak Pernah Mengeluh

Nenek Marni (67) tetap menjual sayur dan tak pernah mengeluh. Ia tinggal di gubuk reotnya diKampung Lemah Sari, Desa Kadu Badak, Kecamatan Angsana, Pandeglang (foto-NG-BantenTribun)
Nenek Marni (67) tetap menjual sayur dan tak pernah mengeluh. Ia tinggal di gubuk reotnya diKampung Lemah Sari, Desa Kadu Badak, Kecamatan Angsana, Pandeglang (foto-NG-BantenTribun)

Marni, seorang nenek tua yang mengenakan kaos bergambar wajah wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy itu duduk di teras rumah yang terbuat dari bilik. Kulitnya yang keriput dan terlihat renta,  tetap mencoba bertahan hidup dengan penuh kemandirian dan kejujuran tanpa mau meminta belas kasihan orang lain, dengan berjualan sayur dan hampir tak pernah mengeluh.

Pandeglang, BantenTribun.id – Hari ini Selasa 20 Maret 2018 langit begitu cerah. Disana, di pojokan Kota Pandeglang,  Nenek Marni (67), warga Kampung Lemah Sari, Desa Kadu Badak, Kecamatan Angsana, Kabupaten Pandeglang berjuang keras untuk tetap bertahan hidup.

Saat pagi tiba, Marni mulai melangkahkan kakinya menyusuri jalan yang masih di selimuti batu tajam, meski tanpa menggunakan alas kaki, namun Marni tetap semangat mencari sayuran yang tumbuh liar di hutan untuk di jual kepada warga di kampung tersebut.

Een,  relawan yang intens mengawal potret kehidupan Nenek Marni, menceritakan kisah Marni kepada BantenTribun.

Menurut Een Nuraeni, relawan Ketimbang Ngemis Pandeglang, Marni merupakan sosok yang selalu bersyukur meski hasil yang didapat dari menjual sayuran belum mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari dirinya dan kedua cucunya yang putus sekolah SMP.

“Setelah sayuran yang di kumpulkan di hutan, Ibu Marni menjualnya untuk kebutuhan makan sehari-hari. Memang hasilnya tidak seberapa tapi dia tetap bersyukur, tidak pernah mengeluh selalu menebar kebahagiaan kepada orang-orang di sekitarnya,” kata Een.

Kata Een, Rumah reot yang hampir ambruk, serta kelambu yang sudah tak jelas lagi bentuknya, menjadi tempat yang cukup nyaman untuk Marni melepaskan lelah, setelah seharian menyusuri jalan hingga kilo-anmeter untuk menjajakan sayuran.

“Ibu Marni selalu semangat tidak pernah mengeluh. Rumahnya yang sudah tidak layak membuat kami hawatir akan keadaannya, kami takut tiba-tiba rumah itu ambruk,” ujarnya.

Donasi Untuk Membangun Rumah Marni

Melihat kondisi kehidupan nenek tua itu, Een dan Pokja Relawan Pandeglang menggalang open donasi untuk membantu membuatkan rumah layak untuk Marni tinggal.  Ia mengajak seluruh unsur agar dapat berpartisipasi dalam kegiatan open donasi dan pembangunan rumah untuk Marni.

Di gubuk reot ini Nenek Marni bertahan menjalani hidupnya dengan berjualan sayur( foto-NG-BantenTribun)
Di gubuk reot ini Nenek Marni bertahan menjalani hidupnya dengan berjualan sayur( foto-NG-BantenTribun)

“Kami membutuhkan uluran tangan teman-teman untuk bisa ikut berdonasi menyisihkan sebagian rizkinya agar nenek Marni bisa tinggal ditempat yang lebih layak,” ucapnya.

Selain menggalang donasi, Een juga mengajukan permohonan bantuan kepada Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Banten.

“Rencananya minggu ini Baznas mau survey, tapi kalau tidak ada Baznas kita akan rehab menggunakan uang yang baru terkumpul sekitar Rp3juta,” ujarnya.(NG/red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.