Makam Syekh Raqo di Gunung Karang, Air Pohonnya Diburu Untuk Syare’at

1234

Di Komplek kuburan ini, terdapat dua pohon besar yang berdiri tegak. Satu pohon Angsana, yang berlubang dan  menyimpan air, yang tidak pernah habis. Dari lubang atau cekungan batang pohon inilah para peziarah mengambil air tersebut untuk digunakan sebagai syareat. Namun, peziarah selalu diingatkan agar tidak tergelincir kemusrikan.

Pandeglang,BantenTribun.id– Ziarah makam tergolong tradisi yang sangat tua, barangkali setua kebudayaan manusia itu sendiri. Tradisi ini umumnya berhubungan erat dengan unsur kepercayaan atau keagamaan.

Peziarah, umumnya mengunjungi makam  keramat sebagai perantara (wasilah) untuk menyampaikan doa atau keinginan mereka kepada Tuhan. Mereka percaya, bahwa tokoh-tokoh itu mempunyai karomah atau keistimewaan spiritual tertentu.

Oleh karena itulah, aktivitas ziarah ke makam keramat sering disebut ngalap barokah, yaitu mencari berkah dari keramat yang terdapat pada makam sang tokoh. Hal itu juga terjadi di Makam Syekh Raqo di Simpeureum, Pakuhaji.

”Kami berusaha untuk mendampingi agar  para peziarah tidak terpeleset musrik. Sebab berziarah ke makam ini, untuk mendoakan ahli kubur, bukan untuk meminta kepada kuburan. Jika berdoa  untuk meminta ya hanya  kepada  Allah Yang Maha Kuasa,” kata H.Muhammad  Luth (46), kepada BantenTribun, di Lokasi Makam Syekh Raqo, Blok Simpeureum, Kampung Pakuhaji,Kelurahan PagerBatu, Kecamatan Majasari,Kabupaten Pandeglang-Banten, Senin (2/10).

Menurut H.Luth, Penjaga Makam Syekh Raqo sejak tahun 2003,  peziarah  tampaknya memiliki tujuan atau motivasi yang beragam. Hal ini mengingat bahwa orang-orang yang berziarah ke makam keramat berasal dari berbagai daerah dari kalangan serta status sosial yang bermacam-macam. Peziarah bisa berasal dari daerah yang sangat jauh, luar pulau, sampai luar negara.

”Yang datang kesini ya untuk mendoakan dengan cara membaca tahlil dan lainnya. Sesudah itu mereka juga mengambil air yang ada di lubang Pohon Angsana, untuk digunakan sebagai syareat,” ujarnya.

Di Komplek kuburan ini, terdapat dua pohon besar yang berdiri tegak. Satu pohon Angsana, yang berlubang menyimpan air, yang tidak pernah habis. Dari lubang atau cekungan batang pohon inilah para peziarah mengambil air tersebut untuk digunakan sebagai syareat.

Satu pohon lainnya, adalah Pohon Lame, yang berdiri menjulang sejajar dengan pohon Angsana tadi. Kedua pohon tersebut diperkirakan sudah lebih dari 100 tahun.

”Wah saya nggak tahu persis berapa umur  pohon itu, tapi waktu saya masih sekitar 7 tahun-an pohon itu sudah ada sebesar dan setinggi itu, mungkin sekitar 100-an” kata Hasan (28) warga sekitar, kepada BantenTribun.

Luth menceritakan lebih jauh, di lokasi makam  Syekh Raqo ini  hampir setiap minggu ada saja peziarah yang melakukan nazar dengan memotong kambing atau kerbau, sebagai wujud atas terkabulnya doa atau keinginan.

”Setidaknya satu kali dalam seminggu mah ada saja yang melaksanakan nadar disini,” katanya.

Aktivitas ziarah ke makam Syekh Raqo,  biasanya meningkat tajam pada bulan Mulud (Rabiul Awal, bulan lahirnya Nabi Muhammad Saw.), menjelang bulan Ramadan, sehabis Lebaran, pada malam Jumat, dan pada hari-hari libur. Tetapi pada hari-hari biasa pun selalu ada saja orang yang berziarah.

“Ada saja setiap harinya yang berziarah, temasuk air dari pohon itu juga pernah dibawa keluar negeri” tutup H.Luth.(kar)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here