Laboratorium Banten Girang Angkat Sejarah Baduy dan Tionghoa di Banten

Baduy

Musik tradisional Angklung Buhun oleh masyarakat Baduy (foto-Nur-BantenTribun). 

Dari sebuah wilayah yang terkesan terpencil yang berada ditengah Kota Serang, Ibukota Provinsi Banten, sebuah gelaran festival tentang sejarah alternatif Banten dilaksanakan oleh kelompok pegiat budaya dan sejarah di Banten Girang. Kelompok pegiat tersebut menyebut dengan Laboratorium Banten Girang.

BantenTribun.id– Gelaran festival dalam bentuk seminar yang mengusung tema Banten Girang Writers And Cultural Festival (BGWCF) 2018, akan mengangkat sejarah Banten dari tinjauan alternatif, misalnya soal sejarah Banten Girang, sejarah Baduy dan sejarah Tionghoa.

“Banten memiliki beragam sejarah yang sangat panjang, dari periode Pra Islam, Kesultanan Islam hingga kolonial yang mana dalam perjalanan sejarah tersebut ada masyarakat Baduy dan Tionghoa yang harus kita kaji bersama sebagai bentuk khasanah kekayaan sejarah Banten,” ungkap ketua Laboratorium Banten Girang Aliun dalam sambutannya.

Tenun Baduy (foto-Nur-BantenTribun)
Tenun Baduy (foto-Nur-BantenTribun)

Acara pembukaan hari pertama yang berlangsung Senin siang (6/11), di kawasan Banten Girang, pelataran komplek makam Agus Jong dan Agus Ju juga diisi dengan sambutan dari peneliti sejarah BPCB Juliadi yang pernah menulis buku Masjid Agung Banten, pembacaan puisi oleh Muhammad Rois Rinaldi, musik tradisional Angklung Buhun oleh masyarakat Baduy dan ditutup dengan tampilan grup kesenian temporer Kebon Sora yang memadukan alat tradisional Banten berupa Terbang Gede dan Gitar elektrik.

Selain itu ditampilkan pula demo memnenun tradisional dari seorang perempuan Baduy.

Selanjutnya pada hari berikutnya akan berlangsung seminar tentang sejarah Banten Girang dan sejarah Baduy yang akan berlangsung di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Serang di wilayah Penancangan, Kota Serang.

Sementara hari ketiga seminar akan mengangkat tema sejarah Tionghoa di Banten yang akan berlangsung di Vihara Avalokistesvara di Banten Lama.

Berdasarkan catatan sejarah, Banten Girang merupakan pusat kekuasaan Pajajaran yang berlangsung periode sebelum masuknya Islam ke Banten. Dari hasil ekskavasi disini, ditemukan berbagai artefak berupa senjata perang, pernik hias dan pecahan keramik buatan kekasaran China.

Ditempat ini juga terdapat sebuah Goa dengan dua pintu yang diyakini peninggalan periode tersebut. Lokasi ini masuk dalam wilayah Sempu, Kota Serang, tak jauh dari belakang kantor Kejaksaan Negeri Serang. (Nur.H/kar)

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.