Kisah Iman “Porter” Cilik Penanggung Beban

88
Muhamad Iman, Porter cilik di Pasar Badak Pandeglang, foto BantenTribun.

Pandeglang,BantenTribun.id – Pernah merasa terbebani dengan barang belanjaan pasar kebutuhan dapur? Bisa jadi, ini bagian dari aktifitas belanja di pasar becek yang sering membuat kita agak malas. Pasar becek, belanjaan lumayan berat. Tapi jangan dulu  risau.  Sebab, jika belanja di Pasar Badak Pandeglang, kita bisa gunakan jasa porter cilik atau bocah  pengangkut barang yang banyak bersliweran.

Mereka siap mengangkut beban belanja dan menguntit kita dengan “kantong kresek” kemanapun kita belanja di pasar basah tersebut. Mereka, ternyata  juga sudah terbiasa membagi “beban hidup” keluarganya, dikala teman sebayanya masih menikmati asyiknya dunia bermain.

Setidaknya sekitar 20 orang terdapat porter- porter kecil di sekitar Pasar Badak Pandeglang. Selain menawarkan jasa membawakan barang, mereka juga menawarkan kantong plastik besar untuk wadah barang belanjaan.

“Ada sekitar 20 orang mah pak. Kalau hari minggu bisa lebih banyak,” kata Aan, porter  yang sudah menginjak remaja,kepada BantenTribun, Minggu (17/9).

Muhamad Iman adalah salah satunya.  Setiap hari, bocah kurus berusia 14 tahun dari Desa Citundun RT 04/16 Kecamatan Warung Gunung ini,   bekerja membantu membawakan barang belanjaan konsumen.  Iman mengaku sudah  sejak kelas 4 SD menjadi kuli angkut untuk mendapatkan uang tambahan demi kebutuhan sekolah dan membantu  keperluan orangtuanya. Ia sekarang masih duduk  di kelas 2 SMP program paket B di Warung Gunung.

“Sekolahnya cuma hari minggu mulai jam 10 sampai jam 1 siang pak,” katanya.

Hampir setiap pagi, sesudah sholat shubuh dan beres mengaji pagi sama bapaknya, bocah kurus ini  berangkat ke pasar menggunakan angkot. Berangkat pagi buta, agar jam 7 sudah sampai di Pasar Badak.

“Ongkosnya dua ribu. Saya berangkat sesudah sholat subuh dan beres ngaji ama bapak sebentar,” kata Iman, kepada BantenTribun.

Menurutnya, dari hasil menjual jasanya itu, ia bisa mendapatkan uang sekitar Rp 10.000 sampai Rp 40.000,- perhari. Uang sebesar itu Ia gunakan untuk membeli tahu- tempe atau ikan asin, saat pulang dari pasar. Sisanya, ia pakai untuk jajan dan keperluan sekolah.

“Kalau dapat banyak, saya kasihkan ke Ema,” ucapnya.

Anak ke 4 dari 8 bersaudara ini, juga menceritakan kalau kedua orangtuanya hanya seorang buruh tani. Sementara 4 adik-adiknya masih kecil. Iman sendiri masih menyimpan mimpinya  bisa menjadi tentara suatu saat nanti. Sebuah potret perjuangan seorang bocah yang sering luput dari perhatian kita.*(kar)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here