Khamim, Pemuda Pekalongan yang Berhaji dengan Jalan Kaki itu Sudah Kembali

246
Khamim Setiawan ( baju putih) bersama Aan Nurhandiat, sebelum kembali ke Pekalongan, usai menunaikan ibadah haji dengan berjalan kaki menempuh 9000 Km.( foto-BantenTribun)
Khamim Setiawan ( baju putih) bersama Aan Nurhandiat, sebelum kembali ke Pekalongan, usai menunaikan ibadah haji dengan berjalan kaki menempuh 9000 Km.( foto-BantenTribun)

Sepanjang perjalan berhaji dengan berjalan kaki selama  1,6 tahun, Khamim tak membawa bekal uang, kecuali beberapa potong pakaian. Atas pertolongan-Nya yang menjadi pegangan hidupnya, Ia mendapat banyak kemudahan sepanjang perjalanannya. Dia bahkan tak pernah menemui kendala berarti saat melintasi perbatasan beberapa negara. Khamim kembali ke Kampung halamannya di Pekalongan, setelah menempuh hampir 9000 Km berjalan kaki  untuk berhaji di Tanah Suci Makkah.  

Serang,BantenTribun.id- Menunaikan ibadah haji, memang wajib hukumnya bagi mereka yang mampu. Namun, bagi Mochammad Khamim Setiawan (29),  sarjana ekonomi alumni Universitas Negeri Semarang (Unes), membuktikan kemampuan yang dimaksud menunaikan ibadah hajinya dengan berjalan kaki.

Khamim, panggilan  pemuda Desa Rowokembu, Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah  ini, memulai perjalanannya dari Pekalongan pada 28 Agustus 2016 lalu. Ia melewati berbegai negara dengan berjalan kaki. Istirahat di masjid, menumpang di rumah orang yang ditemui, hingga bermalam di hutan di berbagai negara ia lakukan.

Dari awal dia menargetkan berjalan selama 1 tahun dari Pekalongan dan diperkirakan tiba di Kota Mekkah, sebelum hari H ibadah haji. Ternyata perjalanannya lebih cepat dari yang diperkirakan. Dia sudah sampai di Kota Mekkah beberapa hari lalu dan telah menunaikan ibadah umrah, sebelum musim haji tiba.

Pada 19 Mei 2017, atau  hampir 11 bulan waktu perjalanannya,  ia telah tiba di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Kepada laman Khaleej Times, ia  pernah ceritakan perjalanannya.

khamim  tiba dimekkah pada 19 Mei 2017 (foto-Ist)
khamim tiba di  Makkah pada 19 Mei 2017 (foto-Ist)

Khamim meyakini bahwa berjalan kaki adalah keutamaan dalam menunaikan ibadah haji. Ini yang menjadi alasan baginya untuk menempuh perjalanan tersebut. Menguji kekuatan fisik dan spiritual merupakan tujuannya berjalan kaki, selain keinginan untuk menyebar pesan berupa harapan, toleransi dan keharmonisan hubungan sesama manusia.

Selama perjalanan, Khamim menjalankan ibadah puasa setiap hari. Kebiasaan berpuasa setiap hari, kecuali di hari besar agama Islam, telah ia lakukan selama lima tahun terakhir. Kondisinya yang berpuasa, membuatnya hanya berjalan di malam hari. Dalam kondisi fisik yang baik, ia dapat menempuh perjalanan sepanjang 50 kilometer, dan hanya sekitar 15 kilometer jika kakinya merasa capek.

Hebatnya, meski tidak meminum suplemen khusus, selama perjalanan ini hanya dua kali ia mengalami sakit, yaitu di Malaysia dan India. Untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya dari perubahan cuaca di negara-negara yang dilalui, Khamim hanya mengonsumsi campuran air dan madu.

Dua potong kaos dan celana, dua pasang sepatu, sejumlah kaos kaki dan pakaian dalam, sebuah kantung tidur, tenda, lampu, telepon pintar dan GPS, adalah seluruh barang yang ia bawa. Hanya itu. Seluruh perlengkapan ia masukkan dalam sebuah tas punggung yang di luarnya terpasang sebuah bendera mini Indonesia. Ada tulisan “I’m on my way to Mecca by foot” di kaosnya, untuk memberi pesan kepada orang-orang yang ditemui di perjalanan tentang misinya menuju Mekah.

Khamim, seorang Sarjana Ekonomi dari Universitas Negeri Semarang. Ia memiliki perusahaan kontraktor yang sedang berkembang, namun ia tinggalkan demi menjalankan misi ini. Ia jalani misi dengan modal hanya sedikit rupiah di saku.

“Saya tak pernah meminta-minta, namun saya selalu bertemu orang yang memberi makanan dan bekal lainnya,” jelas Khamim.

Dalam perjalannya, Pemuda Pekalongan ini diterima di berbagai tempat, termasuk di rumah-rumah ibadah agama lain.

“Saya disambut di kuil Budha di Thailand, diberi makanan oleh warga desa di Myanmar, bertemu dan belajar dengan ilmuwan muslim berbagai negara di sebuah masjid di India, dan berteman dengan pasangan Kristen asal Irlandia yang bersepeda di Yangon,” kisahnya.

Ia percaya, bahwa berhaji tak hanya soal interaksi dengan sesama muslim, namun juga manusia dari berbagai keyakinan berbeda. Bertemu dan mempelajari budaya berbeda, bagi Khamim, akan tumbuhkan rasa toleransi yang juga merupakan bentuk kepatuhan kepada Tuhan.

Baginya, kesempatan bertemu orang-orang baik dalam perjalanannya merupakan anugerah Tuhan. Sebab pertemuan itu membuatnya terus bisa lanjutkan perjalanan, meski tak miliki banyak uang.

Menurut penuturan Syaufani Solichin (73), ayahandanya, Khamim memang suka puasa. Sebelum berangkat dia juga sudah rajin berpuasa.

“Setiap bulan Ramadan, Khamim berpuasa serta salat tarawih di Masjid Istiqlal Jakarta. Padahal dia warga Pekalongan Jateng. Dia sebulan penuh di Masjid Istiqlal dan pulang saat Lebaran”, terang Syaufani, seperti dilansir laman tribun jateng.

Saat akan berangkat jalan kaki, segala keperluan dipersiapkan. Syaufani dipanggil ke kantor pemerintah untuk tanda tangan surat pernyataan. Dan itu pun telah dilakukan. Segala tahapan dilalui sesuai prosedur. Meski hanya berbekal Rp 1 juta, Khamim benar-benar mewujudkan azzamnya (keinginan keras) untuk jalan kaki ke Mekkah.

Kembali dan Tiba Di Kota Serang

Jum’at, 9 Maret 2018, Mochammad Khamim Setiawan yang balik kembali ke tanah air dengan berjalan kaki pasca menunaikan ibadah hajinya, tiba di Kota Serang. Khamim menyempatkan mampir  menghadiri acara aqigah putri Aan Nurhandiat, Mantan Ketua KNPI Kota Serang, yang kini aktif di bidang keagamaan.

Di pertemuan itu, BantenTribun sempat berbincang dengan Khamim.  Dari perbincangan itu, terlihat betul, Pemuda Pekalongan ini tidak hanya memahami persoalan agama,  tapi juga menguasai persoalan global, terlebih  persoalan dari negara yang sudah disinggahinya.

Salah satu nasihat  Khamim yang diungkapan secara filosofis, adalah  “jika ingin merubah hidup, harus dimulai dari dalam (hatinya), ibarat memecahkan telur, jika dipecahkan dari luar akan menciptakan kematian, tapi jika telur pecah dari dalam akan timbul kehidupan baru” terangnya.(Nur/kar)

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here