Kaleidoskop Pandeglang 2017: Saat Srikandi Merajut Mimpi

 

Bupati & Pendopo Kabupaten-Pandeglang-ilustrasi@IGS
Bupati & Pendopo Kabupaten-Pandeglang-ilustrasi@IGS

*Oleh : Kamim Rohener

Dua tahun ini, Pandeglang dipimpin oleh sosok Srikandi.  Suatu yang luar biasa, pasalnya kota di ujung Banten itu, seumur hidupnya baru pertama dipimpin oleh seorang wanita.

Ia adalah Irna Narulita, mantan anggota Wakil Rakyat di Jakarta, istri mantan Petahana Dimyati Natakusuma.

Ada ambisi besar didada wanita beranak tiga itu. BantenTribun ingat betul, kala dirinya diundang salah satu stasiun tv di momen istemewa di bulan Juni.

Dalam acara bertajuk Kartini Pemimpin Negeri, Si romantis Marcel Siahaan sempat bertanya, apa yang akan Irna lakukan untuk membangun daerah yang dipimpinnya.

Jawaban lugas keluar dari lisannya. Ia ingin membangun Pandeglang dengan Manajemen Cinta.

Cinta itu nampaknya tertuang dalam visi yang dibangun bersama timnya.

Visi Irna dan Tanto wakilnya cukup jelas dan “terpampang nyata” Harmoni Agrobisnis, Maritim Bisnis, dan Wisata Bisnis. Menuju Keluarga Sejahtera 2020.

Sebuah ambisi mulia, namun sayang dua tahun ini nampaknya belum terejawantah dalam program dan kegiatan  yang disusun anak buahnya.

Ia masih harus berjuang mendampingi setiap masa. Ekspose demi ekspose, perubahan sana-sini, hingga pendampingan dari berbagai Universitas terkemuka tersaji ditiap instansi.

Wanita anggun itu, ingin membangun monumen terbaik dalam kinerja. Namun apa nyana, sepertinya ia malah membangun pondasi untuk periode berikutnya.

Apapun itu, saat ambisi telah terungkap di sosial media – mengangkat harkat martabat pandeglang tercinta, maka jangan salahkan rakyat bila menagih setiap janjinya.

Rumah Sakit atau Puskesmas Tingkat Kabupaten?

Kalimat ini sering keluar dari mulut warga Pandeglang. Mereka risau bin galau dengan kondisi dan layanan Rumah Sakit yang dulu terletak di depan Masjid Agung itu.

Banyak warga mengeluhkan soal tak adanya dokter di poli strategis, seperti Jantung dan Syaraf. Beberapa poli lain juga tak jauh beda, dokter yang ada hanyalah seorang part time yang tidak full bekerja.

Entah mengapa, apakah soal gaji yang tak seberapa atau kondisi manajemen yang penuh tandatanya yang membuat para petugas berjas putih dan berstetoskop itu seperti enggan bertugas di kota santri?

Layanan administrasi juga sering dikeluhkan oleh Pasien. Banyak yang mengadu ke pihak berwenang dan sampai di telinga Bupati.

Respon cepat pun dilakukan. Irna berjanji bila dirinya akan ngantor di Rumahsakit seminggu sekali.

Mulanya berjalan lancar. Ia hadir menyapa pasien dan pengantarnya. Ia pun berjibaku melayani. Namun lama-lama mungkin bosan juga.

Sepertinya ia hanya ingin teguran halus itu mengena dihati para petugas jaga, namun lagi-lagi hal itu belum sepenuhnya berhasil.  Kondisinya tak jauh beda hingga 2017 ini di ujung waktu.

Lalu, di tahun 2018 nanti kita masih berharap, semoga Rumah Sakit itu berubah menjadi benar-benar Rumah Sakit, bukan Puskesmas terbesar di Kabupaten Pandeglang.

Teguran SD Laskar Pelangi

Nasib dunia pendidikan di kabupaten dengan 35 kecamatan itu juga tak jauh berbeda dibanding bidang kesehatan. Kebutuhan mendasar ini – harus diakui, belum sejalan dengan harapan sang pimpinan.

Kasus SD Laskar Pelangi di Desa Sorongan Kecamatan Cibaliung pun menyentak ditengah upaya sektor ini sedang mencerdaskan anak bangsa.

Sebuah SD bak kandang kerbau, dengan  jumlah guru minimalis bagaikan ironi 20% jatah anggaran pendidikan.

Sektor Pendidikan bahkan menempati urutan pertama dalam kuota anggaran 2017. Bukan 20% tapi hampir 35 % dari dana APBD 2017 terserap untuk sektor ini.

Tapi jumlah anggaran yang besar itu entah diserap kemana? Sebab mestinya kasus SD Laskar Pelangi versi Pandeglang itu sudah terhapus dari episode pembangunan.

Bukan hanya soal SD Sorongan yang menjadi viral. Sektor Pendidikan di Kabupaten Pandeglang juga menghadapi berbagai penyakit akut.

Kasus jual beli buku menyeruak di sebuah SD di perkotaan, pun demikian kasus korupsi tunjangan daerah yang merugikan negara miliaran rupiah juga telah menodai cita-citra luhur Ki Hajar Dewantara.

Miris, sebab tak ada yang bisa diteladani dari kasus pejabat Dinas Pendidikan yang terlibat korupsi.

Sekarang kita tinggal bertanya? Apa kabar perkembangan korupsi itu di tahun 2018?

OTT Disduk  

Operasi Tangkap Tangan juga menjadi kabar memalukan yang menodai citra Irna Tanto di tahun 2017.

Tertangkapnya 10 orang Pegawai Disduk dari setingkat Kabid hingga Honorer sempat membuat heboh Pandeglang di tahun 2017.

Keinginan Irna agar Pandeglang menyelenggarakan Good Governance di masa pemerintahannya nampaknya terganjal kasus ini.

Warga pun makin sulit untuk percaya pada aparatur yang melayani mereka. Sebab, hal itu sejatinya sudah sering terjadi dan tak hanya di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil yang mengurus Akta Kelahiran, Kartu Keluarga hingga KTP.

Minimnya  insentif ditenggarai menjadi penyebab. Wajar bila yang dilihat adalah Kabupaten tetangga yang tengah menggeliat, atau daerah induknya yakni Provinsi Banten yang duitnya tak akan habis tujuh turunan.

Tahun 2018, Irna pun berencana meningkatkan itu semua dalam format Tambahan Penghasilan Pegawai.

Hal itu sudah menjadi informasi umum, dan setiap pegawai pun sering bertanya  dengan sedikit keraguan, “benarkah naik?”

Namun ada sisi lain yang harus Irna dan pejabat teras di Pandeglang pahami. Pegawai di instansi yang mereka pimpin tak hanya PNS/ASN tapi juga ada honorer (TKK, TKS). di beberapa Dinas peran honorer bahkan lebih dominan dibanding PNS- nya.

Jadi, jika Pandeglang ingin memiliki layanan bersih tanpa pungli, tak ada salahnya bila honorer pun diperhatikan juga.

Honor mereka itu minim, tapi kerap diperas bekerja ekstra menyelesaikan tugas atasannya. Mereka sering disuruh tandatangan, untuk tujuan yang tidak mereka terima atau pahami.

Infrastruktur Minim Anggaran

Kendala terbesar di Pandeglang adalah buruknya Infrastruktur, terutama jalan.

Kesal dengan kondisi yang ada, Hudan Zulkarnain salah seorang warga di Kecamatan Sumur membuat petisi di salahsatu laman terkenal.

Berbagai foto di lini masa pun sering diupload oleh warga Pandeglang yang mengeluhkan buruknya infrastruktur transportasi itu.

Pemerintah setempat bukan tak menyadari kondisi itu, namun kendala minimnya anggaran menjadi alibi yang tak berkesudahan.

Sebagai daerah dengan keseimbangan fiskal yang minor, Kabupaten berlogo badak itu memang tak bisa berbuat banyak.

Langkah yang tepat hanyalah membuat skala prioritas mana saja daerah yang akan dibangun jalannya.

Prioritas itu tentu membuat dilema, sebab semua warga yang mengaku masyarakat pandeglang memerlukan jalan yang layak untuk mobilitas kehidupan mereka.

Mulai dari sekolah anak-anak hingga jual beli hasil bumi di pedesaan.

Melambung dengan Jagung

Berbagai masalah yang ada, sepertinya tak membuat Irna berhenti bermimpi. Sosok pemimpin ini terus melakukan terobosan terutama di sektor dengan penyerapan tertinggi di daerahnya, sektor pertanian.

Tantangan Menteri Pertanian di jawabnya dengan menanam ribuah hektar Jagung.

Lewat upaya khusus, Irna meminta Dinas Pertanian melakukan identifikasi terhadap potensi pengembangan jagung.

Masalah pun bermunculan, mulai biaya buka lahan yang tinggi hingga kebiasaan petani menjadi penghalang kesuksesan.

Meski akhirnya secara data upsus  Jagung mampu melambungkan nama Pandeglang di level nasional. Realitas lapangan harus tetap menjadi perhatian.

WTP

Bukan hanya kelumit masalah yang membuat kening wanita cantik itu mengkerut. Pandeglang di tahun 2017 ternyata memiliki prestasi.

Status Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari audit BPK adalah sebuah kemajuan. Tak adalah catatan atau Disclaimer dari auditor nasional itu.

Status itu menunjukan perbaikan dalam tata kelola pemerintah khususnya di bidang keuangan dan aset.

Meski jujur, bila ditilik lebih dalam banyak yang masih harus di benahi.

Upaya irna membangun citra wisata juga patut di apresiasi, pun demikian untuk sektor pertanian.

Akhirnya semoga mimpi sang srikandi itu, bisa terwujud ditengah ketertinggalan.

Semoga ambisi membangun  Pandeglang, tak diiriingi dengan ambisi derivatif yang tersembunyi.

Ketulusan akan selalu membawa kebahagiaan. Seperti apa yang telah diungkapkan. Membangun Pandeglang dengan Manajemen Cinta. (**)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.