Kakek Renta ini Tetap Berjualan Pisang Berkeliling Kampung

249
Abah Menjemput rezeki Mukri(80) tetap berkeliling kampung menjajakan pisang dagangannya.(BantenTribun)
 Menjemput rezeki i: AbahMukri(80) tetap berkeliling kampung menjajakan pisang dagangannya.(BantenTribun)

Tubuh renta, jalan perlahan, dan tulang belakang yang telihat  jelas  melengkung,  tidak menghentikan kaki Abah Mukri (80 tahun) untuk terus melangkah menjajakan sisiran pisang di pikulannya, untuk menjemput rezeki menghidupi keluarganya. Ia tetap meneriakkan barang dagangannya. “Pisaaang…..”

Pandeglang,BantenTribun.id– Tubuh renta itu biasa dipanggil Abah Mukri. Usianya kini sudah menginjak 80 tahun. Mukri, pria kelahiran Kecamatan Bojong tahun 1937, tercatat sebagai warga Kampung Ciekek Karaton, Kelurahan Karaton, Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang ini, memang dikenal sebagai “penjual pisang keliling”.

Sebelumnya, di sekitar wilayah tempat tinggal dan wilayah Kelurahan Karaton, nama Abah Mukri dikenal sebagai petugas yang pembersih rerumputan di komplek kuburan Karaton.

Hampir setiap hari, dalam empat tahun terakhir ini,  Abah Mukri berkeliling kampung dan berharap ada orang yang membeli pisang dagangannya, tetap berharap mendapat rizki yang berkah untuk sekedar makan keluarganya.

Seperti hari  itu, Minggu (31/12/17), Abah Mukri terlihat memikul 8 sisir pisang ketan-nya berjalan menyusuri gang-gang rumput di tanah milik seorang warga Ciekek Babakan Karaton.

“Baru laku 4 sisir, mudah-mudahan hari dagangan ini laku habis,”katanya lirih, saat beristirahat dirumah warga.

Abah Mukri menceritakan bahwa ia hidup bersama seorang istri dan 4 orang anaknya dari istri terakhirnya kini.  Ia menceritakan  jika anak-anaknya masih belum mampu mandiri. Ia juga mengaku memiliki anak saat usianya sudah separuh baya. Di masa mudanya ia mengaku berdagang dan bertani.

Dengan agak malu, abah Mukri juga menceritakan pada masa mudanya sering berganti istri. Ketika ditanya berapa kali berganti istri, ia menjawab pelan,

 “ Ada 7 kali mah,” ucapnya pelan.

Ada pelajaran berharga yang  diingatkan abah Mukri. Menurutnya, jangan pernah “ Ngalagu teu boga laga apalagi balaga teu boga lagu”, (Hidup jangan banyak tingkah apalagi jika tidak memiliki kemampuan-red)

Hari-hari selanjutnya ia terus berkeliling kampung, dengan  beragam jenis pisang sebagai dagangan utamanya. Jika sedang laris, dalam sehari abah Mukri bisa 4 sampai 5 kali mengambil pisang dari kios buah-buahan di pasar Maja. Di tempat itu, ia bisa mengambil lebih dulu dan menyetor jika sudah terjual.

“Ya lumayanlah  sekedar  buat makan, yang penting halal dan semoga berkah,” tuturnya.

Mukri  mengaku bisa mendapat keuntungan sektar Rp 20.000-an untuk setiap pikulnya yang  berisi 10-12 sisir pisang yang didagangkan.

Baginya, yang penting di sisa umur senjanya ia tidak meminta-minta alias mengemis. Selama tubuh masih dapat berjalan dan bergerak ia tetap berusaha demi sesuap nasi untuk kelarga sederhananya.

Sebuah potret perjuangan seorang bapak tua yang terus berjuang ditengah deraan sulitnya hidup. Potret bapak tua yang seharusnya sudah tenang  beristirahat menjalani sisa hidup. (Kar)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here