Jurnalisme Dasar, Jawab Tantangan Jurnalis di Era Milenial

jurnalisme dasar

Hari ini seorang jurnalis tidak hanya dituntut memiliki tulisan yang komprehensif dengan sumber yang lengkap, namun mereka dituntut menjadi seorang sub editor, fotografer, paham internet, cekatan dan berpikir cepat.

BantenTribun.id- Profesi Jurnalis adalah profesi yang terhormat, dengan tulisan dan sudut pandang yang benar mereka adalah bagian dari agen perubahan. Sayangnya bukan perkara mudah menjadi seorang jurnalis, terlebih dijaman yang menuntut kecepatan dan ketepatan seperti sekarang.

Buku ‘Jurnalisme Dasar’ sedikti-banyak mampu menjawab bagaiamana seharusnya seorang jurnalis bekerja dengan sikap dan tanggungjawab yang benar.

Seorang jurnalis adalah mereka yang mampu menyampaikan pesan pada dunia tentang apa yang sebenarnya terjadi. Oleh karenanya sikap skeptis harus dikedepankan ketimbang sinis.

Skeptis dalam konteks Jurnalisme adalah mereka yang bekerja dengan keingintahuan yang tinggi, meragukan semua sumber informasi sebelum diketahui fakta dan data yang sebenarnya.

Skeptis berlawanan dengan sinis. Orang yang sinis adalah mereka yang sudah mempunyai jawaban jawaban dari perspektif dalam pikiran mereka. Sikap sinis akan ‘membunuh’ kreativitas sang jurnalis. Mereka akan malas mencari data dan fakta yang tersembunyi.

Jurnalis yang baik akan paham, bila press release, konferensi pers dan berbagai catatan yang dibuat oleh sumber berita, tidak melulu berisi kebenaran. Mencari data lebih mendalam dengan skeptisme tinggi adalah kewajiban agar tak terjebak daram Cheerleader Complex sebuah sifat yang puas dengan apa yang ada, hura-hura mengikuti arus opini.

Jurnalis Jaman Now, Multitalenta

Menjadi seorang jurnalis di jaman now, bukan hanya bertarung dengan idealisme dan realita yang kompleks. Digitalisme media, telah merubah arah sebuah perusahaan media.

Media besar dunia juga dibuat kelimpungan oleh internet dan sosial media. Sebab saat ini sebuah berita yang ditulis soerang jurnalis yang profesional bertarung dengan jurnalis independen, dan blogger yang konten tulisannya kadang bombastis namun tidak didasarkan fakta yang sebenarnya.

Audiens saat ini banyak yang senang dengan sesuatu yang ‘bombastis’ namun mereka (blogger, jurnalis independen) memiliki tanggungjawab yang rendah. Mereka tidak terikat dengan kode etik dan menulis sesuai dengan perspektifnya sendiri.

Hari ini seorang jurnalis tidak hanya dituntut memiliki tulisan yang komprehensif dengan sumber yang lengkap, namun mereka dituntut menjadi seorang sub editor, fotografer, paham internet, cekatan dan berpikir cepat.

Jurnalisme Dasar, Layak di Baca

Buku Jurnalisme Dasar adalah salahsatu bacaan yang tepat untuk mereka para jurnalis yang ingin tetap eksis ditengah persaingan dan tekanan tinggi dalam pekerjaan.

Buku ini mengajarkan filosofi dasar sebagai seorang jurnalis profesional, mengingatkan kembali tentang prinsip-prinisp dasar wartawan, dan memahami secara komprehensif semua unsur yang terkait dengan dunia jurnalisme.

Buku yang awalnya berjudul Catatan-Catatan Jurnalisme Dasar itu juga memaparkan bagaiaman seorang wartawan mampu menulis dengan gaya feature yang belakangan kembali tenar.

Satu yang paling penting, buku terbitan Kompas itu, mengajak mereka para Jurnalis untuk melibatkan audien bukan sekedar penerima informasi tapi mempoisisikan mereka sebagai seorang pembawa berita. (AJI)

jurnalisme dasar

Judul                              : Jurnalisme Dasar

Penulis                           : Luwi Iswara

Penerbit                         : Kompas

Halaman                         : 188

Presensi                          : Aji

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.