Jogja, antara Budaya, Etika dan Jalinan Silaturahmi Sebuah Keluarga

107

Jogja, antara Budaya, Etika dan Jalinan Silaturahmi Sebuah Keluarga

Pandeglang, BantenTribun.id- Jika boleh memilih, saya lebih senang tinggal di Jogjakarta. Kota pelajar dengan kesan aman dan tentram. Perhatian penuh dari sang Sultan untuk rakyatnya terlihat dari berbagai kebijakan yang kadang berbeda dengan pemimpin nomor satu Indonesia.

Kota “Gudeg” ini memiliki berjuta daya tarik, bukan hanya spot wisata baru yang bermunculan setiap waktu. Bukan juga soal harga makanannya yang murahnya nomor satu. Ini soal etika, budaya dan indahnya jalinan silaturahmi sebuah keluarga memecah rindu.

Budaya dan Etika Jawa

Jogja memang kental dengan budaya. Tak heran banyak peminat culture baik lokal maupun internasional bolak-balik datang ke daerah istimewa ini.

Bicara soal budaya jawa, sejatinya terbagi dalam tiga jenis, yakni budaya jawa Banyumasan, Jawa Tengah-DIY dan Jawa Timuran. Selain amat memperhatikan, soal keselarasan, kesederhanaan dan keserasian dalam kehidupan sehari-hari, budaya ini juga sangat memperhatikan etika dan kesopanan.

Jangan heran, bila anda berjalan atau sedang duduk lalu di lewati orang, ucapan-ucapan yang memiliki arti “permisi” atau “mohon maaf” pasti terdengar di telinga. Belum lagi senyuman yang harus di sunggingkan meski anda tidak mengenal mereka.

Etika dalam bertutur kata, sopan santun dalam bertamu, cara duduk apalagi berhadapan dengan orang yang lebih tua, selalu menjadi perhatian.

Keserasian dan keselarasan juga tampak dalam tata bangunan. Rumah tradisional jawa, selalu terbagai dalam dua skala, yakni skala  horisontal dan vertikal. Skala horisontal berbicara soal ruang dan pembagiannya sementara skala vertikal membahas mengenai struktur dari lantai dasar atau kaki hingga bagian atas atau atap.

Bagi orang jawa, bangunan ruah merupakan adopsi dari gunung dan samudra. Dua kosmos yang saling berhadapan, bahkan keduanya amat disakralkan.

Jalinan Sebuah Keluarga

Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah sebuah filosofi dimana kerukunan dalam keluarga selalu menghadirkan kebahagiaan, sebaliknya bila sering terjadi perpecahan dan pertengkaran yang menyebabkan kerusakan dalam keluarga.

Bila dilihat lebih luas, kerukunan dimaksud bukan sekedar hubungan seorang istri dan suami, bisa juga adik dengan kaka atau Pak Lik (paman) dengan keponakan.

Hal tersebut juga sejalan dengan ajaran Islam, bahwa menjalin silaturahmi apalagi dengan keluarga yang sudah  lama tidak bertemu – kepaten obor– memiliki nilai dan pahala yang tinggi.

Selalu ada haru-biru, pancaran kebahagiaan dan pesona keberkahan saat terajutnya kembali jalinan sebuah keluarga.

“Barangsiapa yang senang diluaskan rizqinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturahmi”

Sebuah dalil yang sejalan dengan filosofi jawa  di atas.

Terimakasih jogja, Banyak hikmah dalam perjalanan saya kali ini, tak sekedar pesona wisatamu, tapi budaya, etika dan jalinan silaturahmi sebuah keluarga, telah mengajarkan saya bagaimana seharusnya hidup. (red)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here