Kiki Rizki Febriani, Membesarkan Jam Tangan Kayu di Kampung Halaman

296
jam tangan kayu
Salahsatu produk jam tangan kayu milik Kiki Rizki Febriyani dari Pandeglang. Foto BantenTribun

Pandeglang,BantenTribun.id-  Memasuki  rumah produksi Kaywood Wacth di Kampung Ciekek Babakan karaton Rt 02/12 Kecamatan Majasari Pandeglang, nampak tenang. Seorang perempuan terlihat menenangkan anak kecil seusia 4 tahunan. Sementara disudut lain, seorang laki-laki terlihat serius mengamati frame kayu arloji menggunakan lampu dan kaca pembesar.  Berbagai jenis  mesin; CNC router yang berfungsi seperti mesin pahat, dan mesin open terlihat seperti jarang terpakai. Di tembok itu, juga terpajang piagam penghargaan dari Bupati Pandeglang, Irna Narulita.

“ Mesin itu saat ini memang jarang terpakai. Kami  harus mengakui jika sekarang ini butuh modal dan ruangan produksi yang lebih luas,” ucap Kiki Febriani, mengawali perbincangan.

Pelaku woodcraff  di Indonesia yang menggeluti  jam tangan kayu, memang masih terbilang sedikit. Selain merk Matoa, Lima, Woodha, juga ada KaywoodWatch. Produsen jam tangan kayu yang berkibar sejak 2015 lalu dan semula bermarkas di Bandung sebagai pusat produksinya, kini harus hijrah ke Pandeglang. Disini, Ia juga  bereksperimen dengan tenun Baduy dan Batik Pandeglang sebagai identitas daerah .

Kiki rizki febriani (tengah) bersama tamu dari PPEI Dirjen kementerian perdagangan RI, di rumah produksi KaywoodWatch

Di kota kelahirannya sekarang, Kiki Rizki Febriani, sebagai pemilik “Kay” tetap bertekad  mempertahankan dan membesarkan usaha yang telah dirintis bersama almarhum suaminya yang jebolan design manufaktur Polman Swiss ITB Bandung.

Menurut Kiki, membangun usaha ini memang tidak mudah, apalagi jika berbicara Sumber Daya Manusia (SDM) yang terampil dan teliti  dalam melakukan pekerjaan ini.

“Tenaga kerja lokal ternyata  memiliki  sikap dan etos kerja yang masih rendah,” kata Kiki,  kepada BantenTribun, Kamis(10/8).

Produk jam tangan kayu Kaywoodwatch  milik Kiki memang mengandalkan ketelitian dan menonjolkan kehalusan dalam pengerjaannya.

“Itu salah satu kunci untuk mempertahankan kepuasan dan kepercayaan pasar,”katanya.

Meskipun Kay Watch sudah berhasil melintasi Benua Afrika dan Eropa melalui penjualan on line, Ia mengaku masih memerlukan dukungan banyak pihak untuk mengibarkan bendera dari kampung halamannya.

Omzet Jam Tangan Kayu

Sekarang ini, omzet penjualannya sekitar 20-30 pcs perbulan. Omzet sebesar ini menurun di banding ketika masih produksi di Bandung dulu. Padahal kemampuan produksinya bisa 300 pcs perbulan.

Kiki,  perempuan alumni Agribisnis IPB Bogor ini  menuturkan,  meskipun harga produknya terbilang tidak murah, namun peminat jam tangan kayu terus bertambah dan pasar masih terbuka lebar. Pemakai jam tangan kayu  masih kata Kiki, memiliki profil yang unik, hangat dan luwes.

“Banyak pesohor dan artis yang mengisi daftar pemakai produk Kay, seperti Ikang Sulung, pemeran Kang Jamal dalam sinetron Preman Pensiun, Irfan Hakim, Deswita Maharani. Juga sering diboyong ekspatriat ke Eropah sebagai souvenir,”katanya.

Produk Kaywatch  terbuat dari  empat jenis pilihan bahan dasar kayu.  Kayu Jati, Maple, Eboni, dan juga Sonokeling yang didatangkan dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Harga jam Kay, dibandrol mulai dari Rp 400 ribu hingga Rp 1,2 juta.

Saat ini, selain memenuhi pesanan dari pemilik merk lain, Kay juga memenuhi pesanan yang bersifat personal dengan pembuatan grafir seperti nama,logo serta siluet wajah.

“Kay lahir dari kecintaan, karena itu kami juga  ingin membuatnya lebih personal” katanya.(Kar).

  BIODATA      

Nama Lengkap

Pendidikan

 

Suami

Anak

: Kiki Rizki Febriani

: SMA Negeri 1 Pandeglang

  Institut Pertanian Bogor (IPB) jurusan Agribisnis

: Irsan Nurdiansyah

: 1. Kay Quina Giftarin (9thn)

: 2. Ahtar Elsama (4)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here