Istri Terpidana Kasus Tunda Disdikbud : Saya Yakin Suami Saya Tidak Bersalah

Kediaman mantan Kasubag Keuangan, terpidana kasus tunda disdikbud pandeglang( foto-BantenTribun)
Sepi :Kediaman mantan Kasubag Keuangan di komplek Ciputri Kaduhejo, terlihat sepi, Minggu,25/2.  Kasubag tersandung kasus tunda di disdikbud pandeglang. ( foto-BantenTribun)

Dari awal, Erna Ratna Mulia, istri terpidana  “kasus tunda” Disdikbud Pandeglang, merasa yakin suaminya tidak bersalah. Vonis  itu terpaksa harus dirasakan oleh semua keluarganya. Di tingkat banding, pengadilan menjatuhkan hukuman kurung lebih tinggi, meskipun tidak ada kewajiban mengembalikan kerugian uang negara. Ia kini  harus berjuang sendiri menjalani kehidupan sehari-harinya, dengan berdagang di kantin sekolah.

Pandeglang,BantenTribun.id– Sejak  pagi  hingga siang itu, rumah sederhana di Komplek Ciputri Blok A No 4 RT 01 RW 05, Kelurahan Ciputri, Kecamatan Kaduhejo, Pandeglang, Banten, itu terlihat lengang. Bahkan dari luar terlihat nyaris seperti  tidak berpenghuni. Pintu depan pagar rumah bercat kuning-hijau  yang mulai kusam itu tampak tetutup. Begitu pula, semua jendela tertutup rapat.

Minggu,(25/2), beberapa kali ucapan salam dari BantenTribun yang mengunjungi rumah itu belum djawab juga. Selang beberapa saat, Erna Ratna Mulia(45), wanita kelahiran Bandung istriTata Sopandi, mantan Kasubag Keuangan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaen Pandeglang, yang tersandung kasus “korupsi tunda” dan diganjar  vonis 6 tahun, disertai denda  itu pun keluar.

“Maaf terlambat menemui. Rumah ini terlihat sepi ya,” ucap Erna, sambil mempersilahkan duduk.

Erna  lalu menceritakan, bagaimana  ia menjalani  kehidupannya sekarang dan harus bertahan, pasca suaminya di vonis bersalah di pengadilan Tipikor Serang, dengan hukuman 6 tahun kurungan, disertai denda Rp200 juta serta kewajiban mengembalikan kerugian negara Rp 1,883 milyar.

“Kami  merasa sendirian, awalnya tidak tahu harus minta tolong kepada siapa. Hanya kepada Allah kami meminta pertolongan. Tapi kami sangat yakin, suami saya tidak bersalah melakukan tindakan korupsi memperkaya diri. Jika kesalahan administrasi yang dilakukan suami, itu sudah diakui suami saya juga,” tutur Erna dengan tatapan kedepan.

Kaget dengan tingginya vonis yang harus diterima, menurut Erna semula  berencana mengajukan banding. Namun, ketiadaan biaya, niat itu sempat tertunda.

“Semula berniat mengajukan banding, namun sempat urung, karena kami tidak memiliki biaya yang cukup. Beruntung keluarga kami di Bandung mendukung dan bersedia ‘patungan’ seadanya, karena kami memang bukan berasal dari keluarga mampu. Kebetulan juga pihak jaksa penuntut mengajukan banding lebih duluan. Kalau harta yang kami miliki apa? Rumah ini kami beli tahun 1996 dengan mencicil,” katanya.

Dalam putusan pengadilan Tipikor Serang, Kamis (12/10) lalu,  Tata Sopandi, mantan Kasubag Keuangan Disdikbud Pandeglang ini akhirnya dijatuhi vonis 6 tahun, denda Rp 200 juta serta   diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp1.883.419.270,74.  Jika tidak membayar, harta benda Tata akan disita oleh negara.

Di tingkat banding Pengadilan Tinggi Banten yang diputus pada Kamis, (4/1/2018) lalu, Tata justru mendapat vonis pidana penjara lebih tinggi setahun dari putusan sebelumnya. Tata divonis 7 tahun kurungan dan denda Rp 200 juta subsider 2 bulan. Di tingkat ini Tata Sopandi dibebaskan dari kewajiban mengembalikan kerugian negara Rp1,883 milyar.

“Ya, vonis kurungan di tingkat banding malah bertambah setahun,  dan tetap bayar denda Rp 200 juta, meskipun tidak mengembalikan kerugian negara yang miliaran itu. Katanya jaksa penuntut kembali mengajukan Kasasi atas putusan pengadilan tinggi itu, saya belum tahu hasilnya,” jelas Erna.

Meskipun ia dan suaminya akan tetap mengikui proses hukum yang masih berjalan, Erna harus kerja ektra menjaga kelangsungan hidup keluarganya. Ia kini terpaksa berjualan kue di kantin sekolah. Kondisi itu membuatnya terpaksa mengurangi waktu besuk suaminya  menjadi seminggu sekali.

Pasca vonis yang diterima suaminya, ia hanya menerima  gaji separuh  dari biasanya. Beruntung, dua anaknya sudah bekerja di swasta. Namun, ia tetap merasa sendirian berjuang mencari keadilan. Ia juga merasa diasingkan. Pengabdian suaminya sebagai PNS selama 27 tahun merasa dibuang tidak berarti.Kolega suaminya dari Disdikbud, juga tidak ada yang menengok, sekedar menanyakan kabar.

Erna Ratna Mulia dan keluarganya mengaku harus tegar dan tetap menghadapi. Ia berencana akan hijrah kembali ke kampung halamannya, jika kasus hukum yang membelit suaminya sudah tuntas. Hal yang membuatnya kuat, karena ia yakin suamninya tidak bersalah dan hanya menjadi korban dari skenario kuripsi tunda tersebut. (kar)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.