Indonesia Tak Takut Hadapi Ancaman Trump Soal Cabut Dana

396
Demo anti Trumpyang berlangsung di New York, AS, Senin (20/2) pagi WIB. (foto-Reuters)
Demo anti Trumpyang berlangsung di New York, AS, Senin (20/2) pagi WIB. (foto-Reuters)

Pemerintah Indonesia tidak perlu takut dengan ancaman yang kembali dilontarkan Pemerintahan Trump, yang akan mencabut bantuan dana dari organisasi international tersebut. AS juga mengancam akan mencatat negara-negara pendukung resolusi yang mengutuk keputusan Trump soal Yerusalem.

Pandeglang,BantenTribun.id— Indonesia menganggap ancaman Amerika Serikat terhadap negara pendukung resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) soal penolakan keputusan Presiden Donald Trump terkait Yerusalem hanya gertak.

Ancaman itu kembali diutarakan Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley, sebelum sidang voting Majelis Umum PBB berlangsung pada Kamis (22/12) siang waktu New York.

Haley mengancam akan mencatat negara-negara pendukung resolusi yang mengutuk keputusan Presiden Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel itu.

Sebagai negara donor terbesar di PBB, dia bahkan mengatakan AS akan mencabut bantuan dana dari organisasi internasional itu. Padahal, selama ini, AS juga masih memiliki tunggakan dana tahunan kepada PBB yang belum terbayarkan.

Dilansir dari laman CNN, Direktur Jenderal Hukum & Perjanjian Internasional, Kementerian Luar Negeri Damos Dumoli Agusman mengatakan, Indonesia tidak khawatir dengan ancaman AS yang dianggapnya tidak akan terealisasi.

Pernyataan itu diungkapkan Damos, merespons ancaman yang kembali diutarakan Nikki Haley. Dia menilai ancaman Amerika itu tak akan berdampak apa-apa.

“Indonesia tidak khawatir, kami tidak mengubah posisi kami soal Palestina dan resolusi Majelis Umum PBB yang menolak keputusan AS. (Ancaman) Itu kan hanya pernyataan gertakan saja tidak ada real effect,” kata Damos dalam diskusi di Jakarta, Sabtu (23/12).

Ancaman Hanya Di Mulut

Senada dengan Damos, Guru Besar Hukum Internasional dari Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, juga menganggap skeptis ancaman AS itu akan benar terealisasi.

Hikmahanto juga menyebut bahwa ancaman AS itu hanya akan berakhir di mulut saja. Sebab, dirinya mengatakan banyak kepentingan Washington yang akan dikorbankan jika ancaman itu benar-benar dilakukan.

“Apalagi, yang mendukung resolusi Majelis Umum PBB itu ada 128 negara, yang bukan terdiri dari negara kecil saja. Di situ ada China, Perancis, Inggris, Rusia, Jepang, dan negara besar lainnya,” kata Hikmahanto.

Selain itu, pengamat hubungan internasional itu juga menganggap birokrasi AS seperti Kongres akan setuju dengan ancaman Trump tersebut.

Hikmahanto menegaskan, keputusan Gedung Putih soal Yerusalam dan ancamannya kepada negara-negara pendukung resolusi menunjukkan bahwa AS sudah tidak lagi dianggap sebagai pelopor demokrasi. (red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here