Hunian Mewah Sedayu City @Kelapa Gading Kuasai Lahan Tidak Sah

167
Hunian Mewah  Sedayu City @Kelapa Gading Kuasai Lahan Tidak Sah
Kompleks hunian mewah “Sedayu City @ Kelapa Gading” diklaim menguasai lahan sekitar 32 hektar secara tidak sah (Foto: Dok. BantenTribun).

Jakarta,BantenTribun.id — Kompleks hunian mewah, Sedayu City @ Kelapa Gading, ternyata diklaim berdiri di atas lahan yang dikuasai secara tidak sah.   Hunian mewah salah satu produk unggulan Agung Sedayu Group yang kini tengah gencar dipromosikan, oleh raksasa pengembang properti, PT Summarecon Agung (Tbk), melalui salah satu anak perusahaannya, PT Citra Damai Agung (sebelumnya bernama PT Citra Putra Lestari).

Sekitar 32 hektar di antaranya, yang terdiri dari 24 bidang tanah berstatus Sertifikat Hak Milik (SHM) di Kelurahan Rawa Terate, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, sama sekali belum dibayar sejak dibuatkan “Akta Pengikatan Jual Beli dan Pengoperan Hak”-nya pada tahun 1993 dan 1996.

Hal itu mencuat ke permukaan setelah Siti Khoiriah, istri dan ahli waris dari almarhum A. Rachman Saleh, pemilik lahan seluas 32 hektar tersebut, menyampaikan surat somasi terhadap Dewan Komisaris PT Summarecon Agung (Tbk) melalui kuasa hukumnya, Andar Sidabalok ,Rico Mangiring Purba, ,Johannes Sidabalok, , dan Padimun S., tertanggal 22 September 2017.

“Sehubungan dengan permasalahan yang dihadapi klien kami, sebagai ahli waris dari A. Rachman Saleh, terkait permasalahan tanah seluas kurang-lebih 32 hektar, masing-masing atas Sertifikat Hak Milik (SHM) Nomor 36, 37, 40, 42, 43, 44, 45, 46, 47, 50, 51, 52, 53, 55, 59, 63, 65, dan 66 Kelurahan Rawa Terate, Jakarta Timur, milik almarhum A. Rachman Saleh sebagaimana putusan Peninjauan Kembali (PK) Mahkamah Agung RI Nomor 225 PK/Pdt/1997, bahwa sampai surat ini dibuat, klien kami belum memperoleh pembayaran dari PT Citra Damai Agung (dahulu PT Citra Putra Lestari), anak usaha PT Summarecon Tbk,” kata Andar Sidabalok dalam surat somasi tersebut.

Saat dimintai konfirmasi, Andar Sidabalok menyatakan, masalah ini harus segera dituntaskan demi mencegah lahirnya korban di pihak konsumen, karena lahan tersebut masuk pada lokasi yang kini gencar dipromosikan dan ditawarkan pengembang dalam bentuk hunian mewah Sedayu City @ Kelapa Gading.

“Kasihan juga para konsumen itu kalau properti yang sudah dibelinya dengan harga luar biasa mahal tersebut ternyata tidak bisa menjadi miliknya yang sah, karena pihak pengembang mendapatkan dan menguasainya melalui cara yang tidak sah,” kata Andar Sidabalok kepada BantenTribun, Rabu (4/10), di ruang kerjanya, Graha A&S, Jalan Sunan Sedayu Nomor 18, Rawamangun, Jakarta Timur.

Pihak PT Citra Damai Agung sendiri, lanjut Andar, sudah mengakui keberadaan 18 Akta Pengikatan Jual Beli tertanggal 31 Desember 1993 serta 6 Akta Pemindahan dan Pengoperan Hak tertanggal 21 Desember 1996 yang dibuat di hadapan H. Yunardi, SH selaku Notaris Pengganti H. Asmawel, SH tadi. Karena, dengan dokumen-dokumen itu jualah mereka mendasari klaim kepemilikannya atas lahan seluas sekitar 32 hektar tersebut.

“Dokumen-dokumen itu pun patut diduga telah dibuat melalui cara-cara yang bertentangan dengan hukum. Karena, ketika itu, PT Citra Damai Agung (yang masih bernama PT Citra Putra Lestari) sama sekali belum pernah memberikan pembayaran kepada almarhum A. Rachman Saleh sebagaimana tertuang di dalam akta-akta tersebut. Hal itu diperkuat lagi dengan keterangan Mawardi Rusman, yang kala itu menjadi salah seorang direktur dan pemegang saham di PT Citra Putra Lestari, kepada klien kami, Siti Khoiriah, istri almarhum A. Rachman Saleh,” kata Andar Sidabalok.

Bukti lain terkait belum terjadinya pembayaran atas tanah-tanah milik A. Rachman Saleh itu, tambah Andar, terlihat pada fakta bahwa —hingga Juni 2006— status Akta Pengikatan Jual Beli serta Pemindahan dan Pengoperan Hak tersebut belum pernah ditingkatkan menjadi Akta Jual Beli.

Perjanjian Perdamaian

Demi mengatasi permasalahan, pada bulan Juni 2006, PT Citra Damai Agung (dulu PT Citra Putra Lestari) —di bawah dukungan PT Summarecon Agung Tbk— memprakarsai pembuatan perjanjian perdamaian dengan almarhum A. Rachman Saleh dan Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Timur. Akta Perjanjian Perdamaian Nomor 76 tanggal 30 Juni 2006 itu dibuat di hadapan notaris Dewi Himijati Tandika, SH.

Berdasarkan Akta Perjanjian Perdamaian tersebut, almarhum A. Rachman Saleh selaku pemilik tanah akan mendapatkan uang kompensasi hak dari PT Citra Damai Agung atau PT Citra Putra Lestari, dengan nilai yang sesungguhnya jauh di bawah harga transaksi jual-beli aset seluas sekitar 32 hektar.

“Almarhum A. Rachman Saleh, pada akhirnya, bersedia menandatangani Akta Perjanjian Perdamaian tersebut walaupun dengan berat hati, dikarenakan desakan kondisi ekonominya,” kata Andar Sidabalok, menirukan kisah kliennya, Siti Khoiriah, istri almarhum A. Rachman Saleh.

Ternyata, hingga detik ini, PT Citra Damai Agung atau PT Citra Putra Lestari sama sekali tidak melaksanakan kewajibannya terhadap almarhum A. Rachman Saleh sebagaimana yang tercantum di dalam Akta Perjanjian Perdamaian tersebut.

“Jadi, kesimpulannya, PT Summarecon Agung Tbk, induk dari PT Citra Damai Agung atau PT Citra Putra Lestari, telah menguasai tanah seluas 32 hektar milik almarhum A. Rachman Saleh itu secara tidak sah. Bahkan, tanah tersebut kini telah diperjualbelikan tanpa sepengetahuan klien kami. Maka, kami pun memutuskan untuk mensomasi PT Summarecon Agung Tbk agar segera melakukan pembayaran atas nilai tanah itu, berikut utang bunga dan denda-denda yang timbul akibat tidak terpenuhinya pembayaran secara tunai,” kata Andar Sidabalok.

Kini, batas waktu yang diberikan pada somasi tersebut, selambat-lambatnya tujuh hari sejak tanggal 22 September 2017 saat surat itu diterima, telah berlalu, dan PT Summarecon Agung Tbk tetap juga tidak melaksanakan kewajibannya.

Sementara itu, promo penjualan hunian mewah Sedayu City @ Kelapa Gading sendiri terus gencar berjalan, hingga saat ini.

“Apa boleh buat, akhirnya kami memang harus melangkah dengan menempuh segala upaya hukum, baik pidana maupun perdata. Karena, perkara ini seolah memperkuat masih adanya fenomena dominasi secara semena-mena dari kaum raksasa terhadap pihak lain yang dianggapnya kecil. Apakah kondisi itu masih juga berlaku di zaman sekarang? Mari kita uji…” kata Andar Sidabalok.

Sementara itu, hingga berita ini ditayangkan, belum ada satu pun pihak di jajaran PT Summarecon Tbk yang bersedia memberikan penjelasan. Begitu juga dengan Agung Sedayu Group, perusahaan pengembang properti terkemuka yang berada di balik pembangunan proyek prestisius Sedayu City @ Kelapa Gading. (Kar/yhr).*

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here