Empat Nama Di Balik Heboh Korupsi Masjid Al Fauz (Bag I)

117

Oleh : Yukie H.Rushdie

SETIDAKNYA, ada empat nama yang menarik untuk ditelusuri terkait kembali hebohnya perkara dugaan korupsi pembangunan Masjid Al Fauz di Kantor Walikota Jakarta Pusat.

Mereka adalah Gudmen Marpaung (aktivis Lembaga Perlindungan Hak Masyarakat Indonesia), Sylviana Murni (mantan Walikota Jakarta Pusat yang juga salah satu calon Wakil Gubernur pada Pilkada DKI Jakarta 2017), Blessmiyanda (mantan Kepala Badan Pelayanan Pengadaan Barang dan Jasa Provinsi DKI Jakarta), serta Hamdani Kosen (pentolan PT Ganiko Adi Perkasa).

Keempat nama itu muncul secara nyata dan teramat mencolok di balik upaya pengungkapan praktik korupsi pembangunan tempat ibadah umat Islam tersebut, yang perkaranya kini (kembali) ditindaklanjuti dengan serius oleh para penyidik di Bareskrim Mabes Polri.

Gudmen Marpaung

Belakangan ini, nama Gudmen Marpaung mencuat ke permukaan setelah gencar menyuarakan adanya ketidakberesan berbau korupsi dalam proses pembangunan Masjid Al Fauz. Hampir setiap hari namanya menghiasi pemberitaan media massa yang mencoba menyingkap tabir permainan kotor tersebut.

Menurut Gudmen, setidaknya terdapat dua indikasi “kongkalingkong” pada proyek pembangunan rumah ibadah tersebut.

Pertama, ketika BPPBJ (Badan Pelayanan Pengadaan Barang dan Jasa) Provinsi DKI Jakarta menetapkan PT Ganiko Adi Perkasa (GAP) sebagai pemenang lelang proyek tersebut dengan penawaran Rp 27 miliar, tapi kemudian —di masa pelaksanaan— meminta tambahan anggaran sebesar Rp 5,6 miliar dan disetujui, sehingga nilai total bangunan Masjid Al Fauz itu pun membengkak menjadi Rp 33 miliar.

Dan, kedua, ketika pihak Pemprov DKI Jakarta melunasi semua tagihan PT GAP senilai total Rp 33 miliar itu melalui prosedur Berita Acara Serah Terima (BAST) barang, tapi kemudian —berdasarkan hasil penyidikan Bareskrim Polri— diketahui adanya ketidaksesuaian antara kondisi nyata bangunan Masjid Al Fauz dengan spesifikasi yang tertera di dalam kontrak.

Indikasi-indikasi yang disuarakan Gudmen itu seolah membangunkan Bareskrim Mabes Polri, yang seolah “tertidur” dalam menangani persoalan tersebut sejak berakhirnya pertunjukan panas di atas panggung Pilkada DKI Jakarta 2017.

Seperti diketahui, dugaan korupsi pada proyek pembangunan Masjid Al Fauz itu pertama kali mencuat ke publik melalui mulut Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di arena pilkada, karena memiliki keterkaitan dengan peran salah satu kompetitornya di ajang tersebut, Sylviana Murni, pasangan dari Agus Harimurti Yudhoyono.

Seiring berakhirnya Pilkada DKI Jakarta, pengusutan Bareskrim Mabes Polri terhadap perkara Masjid Al Fauz itu pun seolah ikut melempem. Tak ada lagi kabar beritanya, dan prosesnya seakan jalan di tempat.

Situasi itulah yang membuat Gudmen Marpaung, aktivis pemberantasan korupsi asal Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, meradang dan mencoba mengingatkan pihak kepolisian akan tugas mereka dalam perkara tersebut agar tidak “masuk angin”.

Gudmen Marpaung memang bukanlah nama baru di kalangan aktivis pemberantasan korupsi. Ia sudah dikenal aktif mengkritisi berbagai penyerapan anggaran pemerintah, baik APBD maupun APBN, sejak tahun 2004.

Aktivitasnya itulah yang kemudian menggiring Gudmen Marpaung menjadi dikenal pula sebagai salah seorang pengamat lelang pengadaan barang dan jasa pemerintah.

“Proses lelang pengadaan barang dan jasa pemerintah menjadi salah satu pintu masuk yang sangat krusial dari praktik korupsi. Lewat proses itulah, antara lain, dana pemerintah milik rakyat dialirkan,” kata Gudmen Marpaung, kelahiran 19 Juni 1979.

Sylviana Murni

Inilah nama yang membuat kasus korupsi Masjid Al Fauz menjadi sangat “seksi” untuk dibicarakan. Bukan karena Sylviana Murni adalah mantan Walikota Jakarta Pusat. Tapi karena Sylviana Murni adalah “Mpok Sylvi”, pasangan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di Pilkada DKI Jakarta kemarin.

Sebetulnya, gara-gara keberadaan nama ini jualah pihak kepolisian menjadi wajib menuntaskan perkara dugaan korupsi Masjid Al Fauz demi menyelamatkan muka institusinya.

Karena, kalau kasus itu tak dituntaskan, maka akan segera terbentuk opini, kepolisian telah bersikap tak netral dalam perhelatan Pilkada DKI Jakarta periode 2017-2022 yang dimenangi pasangan Anies-Sandi.

Seperti diketahui, kasus dugaan korupsi pembangunan Masjid Al Fauz itu telah memukul sekaligus membuat Sylviana Murni, juga AHY yang didampinginya, kelimpungan mengatasi isu tersebut. Pasangan yang diusung Partai Demokrat itu pun kemudian kalah di putaran pertama.

Saat itu, Direktorat Tindak Pidana Korupsi (Dit. Tipikor) Bareskrim Mabes Polri begitu agresif dalam mengusut kasus tersebut. Tak kurang dari 25 orang, termasuk Sylviana Murni, yang sudah dipanggil untuk menjalani pemeriksaan sebagai saksi.

Tapi, begitu pasangan calon yang diduga terlibat dalam kasus masjid itu kalah pada putaran pertama Pilkada DKI Jakarta, Dit. Tipikor pun seolah menjadi melempem dan tidak bergairah lagi untuk mengusutnya.

Padahal, mereka sudah menaikkan status kasus tersebut, dari penyelidikan ke tingkat penyidikan, sejak Januari 2017. Namun, hingga akhir September 2017, tak juga ada yang ditetapkan sebagai tersangkanya.

Apa yang dilakukan Dit. Tipikor Bareskrim Mabes Polri ini berpotensi membahayakan wibawa institusi kepolisian. Bukan mustahil akan muncul tudingan bahwa Polri telah ikut bermain politik dan menjadi alat politisasi dalam pilkada dengan mengkriminalisasi salah satu pasangan calon.

Dugaan keterlibatan Sylviana Murni sendiri dalam perkara itu, karena permintaan penambahan anggaran sebesar Rp 5,6 miliar dari kontraktor (PT GAP) diajukan dan disetujui pemegang anggaran pada saat Sylviana Murni menjabat sebagai Walikota Jakarta Pusat.

Kabar terakhir, Rabu (27/9), Wakil Direktur Tipikor Bareskrim Mabes Polri, Kombes (Pol) Erwan Kurniadi, mengatakan, pihak swasta (PT GAP) maupun pejabat yang berwenang di Pemkot Jakarta Pusat terkait pembangunan Masjid Al Fauz merupakan orang-orang yang kini dibidik menjadi tersangka.(Bersambung)* Penulis : Pemimpin Perusahaan BantenTribun .

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here