Disruption: atau Mati

DISRUPTION, Rhenald_Kasali
DISRUPTION, Rhenald_Kasali

Oleh *:
Ginanjar Hambali
Sesekali kita menjadi saksi atas perubahan yang  terjadi. Nokia, produsen ponsel yang begitu perkasa dan digemari, akhirnya hilang dari pasaran, Kodak perusahaan foto yang melegenda sehingga wartawan foto (fotografer) dipanggil Mat Kodak, harus menyadari kenyataan ditelan zaman.

Operator taksi yang dulu sangat merajai jalanan Jakarta,digantikan taksi online. Walaupun pernah dipertahankan termasuk dengan jalan kekerasan juga jalur hukum, namun nasibnya seperti hanya menunggu waktu saja. Pemerintah yang lamban dan banyak dibicarakan korup, kalau tidak mau berubah bisa jadi hanya akan menjadi legenda, tentang kekuasaan yang tak banyak berguna, bagi masyarakatnya.

Sesungguhnya apa yang terjadi dengan dunia luar sekarang ini? Barangkali buku Rhenald Kasali, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, yang berjudul Disruption, bisa menjadi alat untuk memotretnya.  Buku tentang disruption, seperti menjadi pelengkap dari tulisan artikel Rhenald yang berserak di sejumlah media massa, tentang disruption.
Dalam bukunya, Rhenald banyak  bercerita karakter perubahan abad 21 yang cepat, mengejutkan dan memindahkan. Buku yang terbit pertama kali Februari 2017 itu, juga banyak memberikan contoh, bukan hanya perusahaan yang bertumbangan namun juga perusahaan yang dapat mendisrupsi dirinya, sehingga dapat keluar dari krisis. Salah satu perusahaan tersebut, seperti ditulis dalam pengantar buku tersebut, yaitu PT Telkom.

Telkom yang merupakan BUMN Indonesia, seperti ditulis Rhenald Kasali, berupaya keras mendisrupsi dirinya sendiri. Keluar dari perangkat model bisnis lama: fixed line voice. Berkolabrasi dengan PT Angkasa Pura 2 membangun flatform smart aiport, mengembangkan sendiri useeTV yang mendisrupsi bisnis TV kabel, mendirikan perusahaan third party administrator dalam layanan kesehatan.

Disruption, sangat mudah terjadi dalam industri yang highly regulated. Salah satunya industri jasa transportasi, mulai izin yang  berlapis-lapis, ketersedian pool dan bengkel, pelatihan untuk pengemudi, kesanggupan membayar segala macam bea, yang pada akhirnya beban biaya yang dibebankan pada konsumen menjadi mahal. Layanan lebih murah akan selalu didukung masyarakat, sekalipun pengusaha dan birokrasi menentang atau bahkan menangkap mereka. (hal.6-7).

Celah itu dimanfaatkan taksi online, semacam Uber, walaupun kenyataanya tarifnya tak selalu lebih murah. Tapi, Uber memberikan kelebihan lain seperti bisa dipilih sesuai pesanan. Menumpang taksi layaknya mobil pribadi, dengan kepastian berapa biaya yang harus dikeluarkan penumpang.

Uber yang semula, kecil tak diperhitungkan, kemudian membesar, dan melemparkan taksi yang sebelumnya merajai jalanan. Pada akhirnya, orang-orang pun banyak menganggap Uber bukan hanya sekedar persaingan usaha taksi, tapi lebih dari itu.

Menurut Rhenald, kalau beranggapan disruption hanya didominasi Uber dan peradaban Uber berarti melulu tentang Uber, bisa jadi keliru. Di berbagai kota besar, teller bank sudah tak sebanyak dulu lagi, menyusul berpindahnya nasabah ke layar smartphone-yang selalu ada digenggaman mereka.

Yang berubah setelah disruption adalah cara melayani dan akibatnya. Pelayanan menjadi serba self-service dan lebih efesien. Dunia baru tanpa perantara telah lahir dan sering kali tak terlihat menhancurkan yang lama. Era ini membutuhkan disruptive regulation, disruptive culture, disruptive mindset dan disruptive marketing. (hal.13).

Perubahan itu juga telah merubah manusia yang tadinya times series dan linear menjadi real time dan eksponensial. Mengubah mindset dari owning economy atau ekonomi memiliki, menguasai, integrasi menjadi sharing economy yaitu ekonomi berbagi, akses.

Kebiasaan on the lane economy, menunggu pada antrean, menjadi on demand economy, begitu diinginkan, saat itu juga tersedia. Merubah kurva permintaan dari suplly-demand tunggal menjadi suplly-demand dengan jejaring. Musuh-musuh yang dulunya jelas menjadi tak terlihat.
Buku setebal 497 halaman itu menjelaskan, disruption adalah sebuah inovasi. Inovasi yang akan menggantikan seluruh sistem lama dengan cara-cara yang baru. Disruption berpotensi menggantikan pemain-pemain lama dengan cara yang baru. Disruption menggantikan teknologi lama yang  serbafisik dengan teknologi digital yang menghasilkan sesuatu yang benar-benar baru dan lebih efisien, juga lebih bermanfaat. (hal. 27)

Perubahan bukan hanya terjadi di dalam industri dan dunia usaha, juga di sektor pemerintahan. Rhenald Kasali, juga memberikan contoh disrupsi yang dilakukan masyarakat dan pemerintah. Salah satunya Banyuwangi. Kabupaten yang awalnya dikenal sebagai daerah pertanian dan kerajinan bisa mendunia pariwisatanya.
Bukan hanya melakukan pembenahan produk parawisatanya, membuat rencana event besar terjadwal, namun yang lebih penting adalah bagaimana pemerintah kemudian bisa menggerakan partisipasi masyarakat dan terlihat memasarkan produk wisatanya melalui internet.

Menurut Bupati, seperti ditulis Rhenald, setiap tahun Banyuwangi menyelenggarakan lebih dari 50 event untuk mengembangkan parawisata. Anak-anak dan kaum muda aktif berlatih seni pertunjukan. Event dan alam banyuwangi itu, kemudian dipotret termasuk oleh Bupati sendiri, dimasukan ke situs-situs  dan instagram, lalu ribuan orang akan menyebarkannya. Jadi, disruptive goverment, tak bisa lepas dari disruptive marketing, disruptive bureaucracy, dan disruptive mindset.  (Hal.365).

Bertumbangannya perusahaan-perusahaan besar, seperti Nokia, yang semuanya bagus namun tetap saja kalah. Bukan hanya karena yang bagus itu terlena, kurang awas. Namun, seperti pernyataan Clayton Christenseen (1997) yang pemikirannya banyak dikutip di buku ini, menunjukan fakta bahwa berakhirnya zaman di tangan para inovator yang menciptakan sesuatu yang baru, yang menjawab kebutuhan zaman. Yang lebih sederhana, lebih terjangkau, dan lebih mudah diakses.
Sebab itu, tren ini perlu diwaspadai, perlu dihapahami, dan perlu dikendalikan. Dalam era disruption, perubahan itu amat cair dan bergerak mengikuti 3S, yaitu Speed, Suprises, dan Sudden Shift. Perubahan itu bergerak cepat karena didukung teknologi. Penuh kejutan, karena tak ada yang menyangka harga batubara dan migas begitu cepat berbalik arah.  Orang-orang biasa-biasa saja terpilih menjadi pemimpin. Cara penanganan biasa saja tak cukup, selain harus mengenal lebih jauh, butuh kreativitas dan jejaring yang lebih luas.

Sudden Shift atau tiba-tiba berubah, seperti segala sesuatu seperti sedang mengalami kelesuan karena siklus ekonomi. Nyatanya, rezeki dapat mengalami perpindahan secara tiba-tiba. Sebab, tak ada yang berubah, konsumennya tetap disitu, populasinya tetap besar, semuanya butuh makan, minum, transportasi dan lain-lain.

Jadi, jangan terus menerus menyalahkan krisis, namun bagaimana kita merespon usaha yang kita jalani dan masa depan anak-anak dalam dunia yang baru.
Rhenal menutup buku ini, dengan memberikan pesan, perubahan abad ke-21 ini ditandai dengan disruption yang didukung publik secara luas. Tak heran lahirnya konsep ini akan mengalami serangan dari incumbent. Menyebutnya sebagai ekonomi kapitalisme baru, ekonomi keserahakan dan lain-lain. Ada regulator yang tak senang karena menganggu kebijakan atau pendapatan baik resmi maupun tidak resmi.

Kita tidak bisa menyangkal, namun kita perlu benar-benar memandang dengan jernih dan paham betul teori-teori serta teknologi-teknologi yang membuat sektor yang kita tangani dan terdisrupsi berdamai dengan perubahan. Kita perlu memahami apa yang terjadi , kalau pun jatuh kita tahu kerusakan apa yang menimpa dan bagaimana membangun mekanisme kemembalannya. (hal.468-469).

Membaca buku ini memberikan manfaat kepada pembaca untuk mengetahui apa yang tengah terjadi bukan hanya pada bidang industri dan usaha, juga pemerintahan. Penjelasan penulis berikut contoh-contoh, perusahaan-perusahaan yang bukan hanya terancam juga kehilangan besar-besaran dan ada pula yang merangsek pasar dengan lincahnya menambah nilai buku.

Buku ini juga tidak lepas dari kritik dari sejumlah kalangan, seperti konsep dan contoh ilmu berbagi, yang dipraktekan oleh perusahaan seperti Uber dan Airbnb, bahwa perusahaan yang tadi disebutkan itu, seperti ditulis oleh Jalal (geotimes.co.id), bukanlah bagian dari ekonomi berbagi yang sesungguhnya. Dua perusahaan itu, tidak lebih dari kebanyakan perusahaan yang lainnya, untuk memaksimalisasi profit (keuntungan).

Selain itu, salah satu contoh perusahaan yang  berhasil keluar menyelamatkan bisnis yang sudah lama digeluti, yaitu modern grup dulu dikenal sebagai distributor tunggal rol film fuji, yang menjajal peruntungan dengan bisnis model 7-seven, tempat nongkrong anak-anak muda, akhinya 7-seven harus tutup, pertengahan tahun 2017.

Terkait tutupnya 7-Seven, Rhenald, menulis dalam artikelnya, yang berjudul Regulator, Belajarlah dari Kasus Sevel (Kompas.com),   tahun 2012 raport 7-Seven masih bagus. Setahun kemudian menurun perlahan, dan tahun 2014 masih baik-baik saja, dan kemudian tangan-tangan regulator ikut bermain, membunuh 7-Seven. Segala sesuatu bisa terjadi.

Walaupun demikian, buku ini memang pantas untuk dibaca.

Judul:
Disruption

Penulis:
Rhenald Kasali

Penerbit:
Gramedia Pustaka Utama

Halaman :
528

Peresensi
Ginanjar Hambali*
(Aktivis Nalar Pandeglang  )

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.