Delapan Enam

436

Oleh : Kamim Rohener

HandPhone  jadul saya tiba-tiba bergetar. Sebuah pesan singkat  dari sohib lawas masuk. Novan Hidayat,  sobat saya itu, dulu dikenal sebagai aktivis penyambung lidah. Anak muda yang doyan  sodorkan gugatan. Suka class action, namun keinginannya masih banyak tertahan di berkas.

Hampir lima mulud saya tak pernah jumpa. Lalu saya coba membayangkan rupa dan mimiknya. Mencoba mengingat diskusi pendek dengannya. Terlintas, seperti halnya running teks, bagaimana ia mempetanyakan integritas,  independensi, juga kepemimpinan. Dan yang lebih membekas, ia menanyakan berapa nilai kepemimpinan saya jika harus menilai sendiri.

Saya jawab singkat. Sesingkat-singkatnya, bahwa nilai kemampuan kepemimpinan saya adalah 86. Tapi, bukan Novan namanya jika ia tidak mengejar mengapa segitu, mengapa tidak 100.

Berhubung Ia sekarang ini terdampar di Desa Cibimbing Cibaliung sana, maka tak ada salahnya alasan 86 itu saya sampaikan lewat ini.

Yang pertama, angka 86 itu begitu popular, mudah diingat, dan banyak penggemar. Begitu populernya sampai-sampai ada program layar kaca dengan judul yang sama. Meluncur ke TKP..Siap 86..!

Yang kedua, mudah diingat dan banyak penggemar. Ini jelas. 86 itu  ibarat operasi senyap. Jauh dari kegaduhan namun endingnya sama-sama sepakat.  Menurut kabar, 86 juga banyak digemari gerbong LSM, wartawan, penegak hukum hingga makelar kasus.

Alasan yang ketiga, nilai kepemimpinan saya 86, karena tidak mungkin saya menilai sendiri dengan nilai 100. Bisa ditertawakan Uwak Haji Wawan. Lagipula, jika ada pembulatan, maka nilai itu tentu akan beranjak menjadi 90. Dengan begitu, saya berharap rasanya tidak over estimate atau over convident.

Yang keempat, menurut saya menjabarkan pemimpin itu sederhana saja. Bahwa Pe-mim-p-in, yang sebenarnya haruslah seorang pemimpi, mimpreni, pintar dan integritas.

Pemimpi, karena harus mampu membangun impian agar menumbuhkan harapan tinggi. Berani bermimpi tentang sesuatu yang bawahan belum mampu memikirkannya.

Mimpreni, maksudnya seorang pemimpin harus menjadi inspirator bagi bawahannya, jadi role model atau pribadi percontohan yang bisa mimpreni atau membayangi bawahannya.

Pintar, karena pemimpin harus mampu melakukan terobosan inovasi, memberikan solusi tepat dan membuka cakrawala pengetahuan. Sedangkan integritas, jelaslah kalau seorang pemimpin mesti jujur, melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikatakan dengan yang diperbuatnya. Integritas bukan bualan omong kosong. Integritas membuat pemimpin dapat dipercaya dan menepati janji.

Seorang pemimpin yang pintar, bisa mimpreni tapi tak mampu menggali mimpi,  tak ubahnya seperti pengawas. Pemimpin yang pintar, pemimpi namun tak bisa mimpreni, akan cenderung kerja borongan. Pemimpin yang pemimpi, mimpreni tap ital pintar, akan tidak tegas dan sering dikibuli bawahannya. Pemimpin yang hanya pintar tapi tak bisa mimpreni dan tak mampu bermimpi, bakal jadi sombong atau kemaki. Pemimpin yang pintar, pemimpi, mimpreni tapi tak punya integritas,  akan mengeruk dan menumpuk kekayaan dari korupsi.

Nah, jelas sudah mengapa nilai 86 itu muncul. Selain popular atawa mudah diingat, rasanya barisan  penggemar semakin bejibun. Barisan yang nyata ada namun tidak terdaftar dan senantiasa gemar dengan kesunyian. Suka dengan kesenyapan. Terhindar dari kegaduhan, apalagi terkena operasi tangkap tangan. Sebuah kondisi menuju 911 atau gawat-darurat**

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here