Daun Semanggi, Gulma yang Naik Derajat

839

Pandeglang, BantenTribun.id- Petani di Kecamatan KedokanBunder Indramayu berhasil menaikkan derajat Semanggi, ”Si gulma pengganggu” menjadi bernilai ekonomi tinggi.Keuntungan membudidayakan semanggi ternyata bisa empat kali lebih besar dibanding bercocoktanam padi. Komoditas inipun laris manis seperti manisnya rasa daun semanggi.

Di daerah Pandeglang atau seputar Wilayah Banten, pemanfaatan daun semanggi untuk bahan makanan memang belum banyak dikenal apalagi dibudidayakan.  Namun,  Di  Kabupaten Indramayu, tumbuhan  semanggi, ternyata bernilai ekonomis tinggi dan bisa mendatangkan  keuntungan 4 kali lebih besar dibanding bercocoktanam padi.Semanggi kini sudah naik derajat dan mengalahkan Genjer atau Kangkung.

Tumbuhan  Semanggi yang semula dianggap sebagai gulma atau pengganggu tanaman padi, kini mulai naik daun menjadi komoditas sayuran yang menjanjikan. Tak heran, jika para petani di Indramayu sekarang, mulai ramai membudidayakannya di lahan sawah produktif.

Daun  semanggi, yang memiliki nama latin Salviniales,  adalah sejenis daun paku air dari marga Marsilea. Tumbuhan ini  banyak  ditemukan di daerah persawahan, terutama di pematang sawah,  atau tepi sungai, serta daerah yang lembab penuh air lainnya. Ciri khas dari daun ini adalah bentuknya seperti payung dengan daun yang berjumlah empat pada setiap tangkainya.

Memiliki tekstur yang lembut dan rasa sedikit manis serta gurih, daun tumbuhan semanggi ini, selain  bisa dijadikan bahan makanan khas, juga diyakini banyak  memiliki manfaat lain untuk kesehatan.

Tingginya permintaan pasar terhadap daun ini,  mengundang banyak petani padi banting stir dengan membudidayakan tanaman semanggi.  Seperti yang dilakukan  Nurkiwan (30) misalnya. Warga Desa Jayawinangun Kecamatan Kedokan Bunder Kabupaten Indramayu ini mengaku sudah 7 tahun lebih membudidayakan semanggi di lahan sawah produktifnya di Blok Pekuburan, Desa Jayawinangun.

Mudahnya cara budidaya, murah biaya perawatan, tingginya permintah pasar serta stabilnya harga jual komoditas gulma ini, menggodanya untuk mulai  bercocoktanam  semanggi sejak tahun 2010 lalu.

Di lahan sawahnya seluas 80 bata atau sekitar 1100 meterpersegi, Nurkiwan bisa memanen daun semanggi sebanyak 300 kg untuk sekali panen. Ia dapat memanen setiap 10 hari sekali atau sebanyak 15 kali dalam 5 bulan.

“Panennya setiap sepuluh hari sekali dan bisa 3 kwintal sekali panen pak,” kata Nurkiwan saat ditemui BantenTribun, dilokasi sawahnya, minggu kemarin.

Dengan harga jual sebesar Rp4000,- perkilo, Nurkiwan mengaku dapat mengantongi setidaknya Rp 1,2 juta sekali panen atau  Rp18 juta dalam 5 bulan. Rentang waktu ini setara jika ia menanam padi, yang hanya menghasilkan sekitar 1,2 ton gabah basah  atau sekitar Rp 5 juta-an.

“Harga daun semanggi diterima disini(sawah-red) empat ribu rupiah  perkilonya pak. Pengumpul atau bakul biasanya datang langsung,” katanya.

Pengakuan  Nurkiwan, diamini oleh Warmo(35), petani semanggi di Desa Cangkingan Kecamatan Cangkingan. Menurutnya, Ia membudidyakan semanggi dilahan seluas 100bata dan bisa menghasilkan 400kg setiap kalipanen.

“Bisa panen antara 10 sampai 12 hari. Jualnya juga tidak  pusing karena bakul datang langsung dan harga relatif stabil pak,” kata Warmo.

Dari penelusuran Tribun, lahan tanam  semanggi di 2 wilayah desa ini memang dekat dengan sumber air sungai dan irigasi.Setidaknya terdapat 40 petani semanggi dengan luas lahan tanam berkisar 1000 hingga 2000 meterpersegi.(Kar)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here