Dari Surat Multatuli, Terungkap 30 Juta Rakyat Hindia Disiksa

Patung Multatuli:Seorang warga nampak mengamati patung tokoh Belanda Eduard Douwes Dekker atau Multatuli di Museum Multatuli-Rangkasbitung Lebak. (poto dok-yud)
Patung Multatuli: Seorang warga nampak mengamati patung tokoh Belanda Eduard Douwes Dekker atau Multatuli di Museum Multatuli-Rangkasbitung Lebak. (foto dok-yud)
  • Dalam suratnya, Eduard Douwes Dekker, nama asli Multatuli, mengungkapkan adanya praktik penindasan dan penyiksaan terhadap rakyat Hindia yang dilakukan oleh pemerintahan Kolonial. Multatuli menyebut, ada 30 juta rakyat Hindia yang disiksa atas nama Raja.
  • Perjuangan Multatuli yang melawan penindasan tidak sia-sia. Novel Max Havelaar menjadi simbol perjuangan perlawanan bangsa Indonesia melawan penjajahan. 

Lebak,BantenTribun.id – Sebelum karya novelnya yang berjudul Max Havelaar terbit (1860), Multatuli sempat mengirim secarik surat untuk Raja Willem III penguasa negeri Belanda yang memuat protes atas situasi di tanah jajahan yang pernah dialaminya.

Dalam surat ini, Eduard Douwes Dekker (pemilik nama asli Multatuli) memohon agar Raja Willem III memberikan perhatian lebih kepada Hindia Belanda yang dikelola sembarangan dan banyak merugikan rakyat.

Tak hanya itu, dalam suratnya Eduard Douwes Dekker, juga mengungkapkan adanya praktik penindasan dan penyiksaan terhadap rakyat Hindia yang dilakukan oleh pemerintahan Kolonial. Multatuli menyebut, ada 30 juta rakyat Hindia yang disiksa atas nama Raja.

“Apakah yang mulia tahu ada 30 juta lebih rakyat di Hindia yang disiksa atas nama yang mulia?” kata Multatuli seperti tertulis dalam suratnya.

Namun, surat Multatuli yang memohon agar penguasa negeri ‘Kincir Angin’ itu memberikan perhatian lebih kepada Hindia Belanda yang dikelola sembarangan dan banyak merugikan rakyat tak membuat Raja bergeming.

Multatuli meradang, Asisten Residen Lebak yang lahir di Amsterdam, Belanda pada 1820 kemudian pergi meninggalkan Lebak dan memilih menetap di Brussel, Belgia dengan membawa luka dan kecewa. Disebuah kamar yang kecil di kota Brussel, Multatuli kemudian menuliskan semua yang dialaminya selama bertugas di Lebak.

Akhirnya, pada tahun 1860, Multatuli menerbitkan novel yang berjudul Max Havelaar of De koffieveillingen der Nederlandse Handelsmaatshappij (Max Havelaar atau persekutuan lelang dagang kopi Belanda).

Perjuangan Multatuli yang melawan penindasan tidak sia-sia, novel Max Havelaar menjadi simbol perjuangan perlawanan bangsa Indonesia melawan penjajahan.

Max Havelaar juga telah membuka mata dunia bahwa telah terjadi penindasan akibat sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel) yang terjadi di Hindia Belanda.

Max Havelaar seolah kini menjadi mitos pembela bangsa Indonesia dengan segala kerancuan sejarah yang ditampilkannya. Keinginan Multatuli terwujud, karyanya banyak dibaca oleh banyak orang. Bahkan, sering didengungkan bahwa Max Havelaar adalah salah satu penyebab dihapuskannya sistem Tanam Paksa di Hindia Belanda.

Kini, tak perlu harus jauh-jauh ke Belanda untuk bisa melihat karya-karya Multatuli, karena semua karya Multatuli sudah disimpan di Museum Multatuli yang belum lama ini didirikan Pemkab Lebak. (yud/duy/red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.