Commuting di Jalan Raya Serang-Cilegon

167
Bagus Abdurochman

Oleh    : Bagus Abdurochman *

Dimana ada gula pasti ada semut, pepatah tersebut digunakan untuk menggambarkan berkumpulnya orang-orang dikarenakan adanya sesuatu yang menarik untuk dilihat atau dikunjungi. Serupa dengan Kota Cilegon, jika melihat arus lalu lintas di jam sibuk pagi hari, mungkin mencapai ribuan orang commuting dari Serang menuju cilegon untuk beraktivitas. Simpulan tersebut, didasarkan pada padatnya lalu lintas Serang-Cilegon di pagi hari, dan Cilegon-Serang pada sore hari.

Mobilitas penduduk pada jam sibuk terjadi karena ada kebutuhan, dan umumnya komuter (penglaju) bergerak untuk berangkat kerja, dan sekolah. Sebagai gambaran, berdasarkan hasil survey Badan Pusat Statistik (BPS) terkait Statistik Komuter Jabodetabek 2014 (2015), sebanyak 85,47 persen komuter DKI melakukan kegiatan utama bekerja dibandingkan Sekolah (14,28 persen), dan kursus (0,25 persen). Hasil survey tersebut, sekiranya dapat dijadikan asumsi dasar mengapa penglaju Serang–Cilegon bergerak, namun untuk mengetahui karakteristik komuter Serang-Cilegon secara dalam, diperlukan studi lebih lanjut.

Penyebab dan Tantangan Commuting

Berdasarkan pengamatan penulis, diindikasikan mobilitas para penglaju Serang-Cilegon adalah terkait dengan konsentrasi industri di Pesisir Barat Banten, dimana Kota Cilegon memiliki 4 (empat) Kawasan Industri dengan Ratusan Perusahaan, serta konsentrasi industri sepanjang Jalan Bojonegara-Kabupaten Serang. Konsekuensi mahalnya harga tanah dan hunian, degradasi lingkungan akibat aktivitas industri serta faktor lainnya, membuat masyarakat memilih tempat tinggal menjauh dari pusat kegiatan ekonomi tersebut. Sehingga, hal ini memperkuat peranan Kota Serang, serta kawasan Serang Barat dari Kabupaten Serang sebagai alternatif pilihan hunian. Namun, kondisi demikian membuat arus commuting Serang-Cilegon menjadi relatif tinggi dan kepadatan pada ruas jalan tersebut tidak dapat dihindarkan.

Para penglaju Serang-Cilegon tentunya menyimak fenomena kemacetan di beberapa titik seperti Legok, sekitaran Perumahan Titan Arum, Kramatwatu, Serdang, Pondok Cilegon Indah (PCI) dan di tengah Kota Cilegon. Kemacetan tersebut akan semakin parah, jika di sekitaran ruas jalan tersebut terdapat pesta pernikahan, kegiatan wisuda, agenda kegiatan pemerintah daerah, pemeliharaan jalan, dan bahkan terjadinya kecelakaan lalu-lintas.

Semakin hari, kondisi lalu-lintas tersebut tidak semakin membaik, bahkan dimungkinkan pada kemudian hari, seiring dengan tumbuhnya investasi di pesisir barat Banten, akan semakin menambah beban lalu lintas Jalan Raya Serang-cilegon. Logika umumnya adalah investasi meningkat, lapangan kerja meningkat, jumlah pekerja meningkat, permintaan hunian meningkat, penglaju di jalan semakin banyak, dan jalanan semakin padat.

Keterbatasan Pilihan Transportasi Umum

Berkaca dengan hubungan wilayah di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi). Sampai dengan saat ini, penglaju kota satelit sekitar Jakarta memiliki banyak pilihan moda transportasi umum, seperti Kereta Rel Listrik (KRL), Trans-Jabodetabek, dan sebentar lagi akan merasakan Light (Rail Transit) LRT. Sementara itu pilihan moda transportasi umum bagi Penglaju Serang-Cilegon hanya angkutan kota dengan trayek Serang (Kepandean) – Cilegon (Simpangtiga).

Oleh karenanya, kendaraan pribadi menjadi pilihan utama dengan pertimbangan mobilitas yang fleksibel serta lebih ekonomis. Hal yang mengkhawatirkan adalah persoalan kepadatan Jalan Raya Serang-Cilegon menjadi ‘bom waktu” jika aktivitas para penglaju tidak menjadi perhatian.

Saat ini, tarif angkutan umum dari Serang menuju Kota Cilegon (Simpangtiga) sekitar Rp. 7.000 – 8.000 dengan segala keterbatasannya, sehingga membuat biaya mobilitas sepedamotor jauh lebih ekonomis. Akan tetapi, jika diperhitungkan dengan “biaya” resiko lalu lintas seperti kemacetan dan kecelakaan secara relatif akan lebih tinggi, dan tentunya kedepan kepadatan akan terus meningkat beriringan dengan resikonya.

Peran Pemangku Kepentingan

Sebelum relasi Serang-Cilegon seperti Jabodetabek, pemerintah perlu segera mengubah pola pikir penglaju untuk beralih dari kendaraan pribadi kepada kendaraan umum, dengan menciptakan sistem transportasi yang baik. Jika masih terlalu jauh untuk mencapai KRL, LRT dan bahkan MRT, paling tidak, moda transportasi yang ada mampu menarik penglaju ke kendaraan umum dengan tarif yang kompetitif dan kepastian waktu.

Persoalan Transportasi juga menjadi Isu Strategis pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 yang terkait dengan Pengembangan Transportasi Massal Perkotaan, dan tentunya Provisi Banten pun dapat menyambutnya dalam Isu Strategis dan program/kegiatan provinsi, mengingat relasi Serang-Cilegon berkaitan dengan hubungan kerjasama antar daerah yang patut di “motori” oleh Pemerintah Provinsi Banten.

Pilihan kebijakan yang akan diambil haruslah memberikan insentif bagi penglaju, karena sebagaimana teori motivasi-insentif dari berbagai literatur bahwa manusia bergerak atau terdorong mengambil sebuah tindakan karena adanya insentif. Singkatnya, jika tidak ada “manfaat lebih” bagi dirinya, buat apa mereka beralih kepada angkutan umum.

Tentunya isu commuting ini bukan hanya sebatas Serang-Cilegon, akan tetapi terjadi pula pada daerah lain di Provinsi Banten. Interaksi antar wilayah tidak hanya dilihat dari aspek hubungan ekonomi kewilayahan akan tetapi juga para pelaku ekonomi-nya seperti para penglaju. Harapannya para penglaju mendapatkan perhatian kebijakan dari Stakeholder terkait demi pembangunan transportasi yang lebih baik.

*( Penulis merupakan Staf Litbang Bappeda Kota Cilegon)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here