Camat Saketi Didemo Warga Mekarwangi Soal Kandang Ayam Ras

Warga Kampung Pematang Desa Mekarwangi, melakukan demo penolakan kandang ayam ras di kampungnya yang dianggap telah melakukan pencemaran lingkungan( foto-BantenTribun)
Warga Kampung Pematang Desa Mekarwangi, melakukan demo di kantor kecamatan Saketi, Rabu,21/2. Warga  menolak kandang ayam ras di kampungnya yang dianggap telah mencemari lingkungan kampung.( foto-BantenTribun)

Merasa surat  protes tidak ditanggapi, warga Kampung Pematang Desa Mekarwangi, akhirnya melakukan unjuk rasa di Kantor Kecamatan Saketi. Warga memberikan “deadline” Camat Saketi satu minggu untuk menutup kandang ayam ras pedaging di kampung itu yang dianggap sudah mencemari lingkungan.

Pandeglang,BantenTribun.id– Sejumlah warga Kampung Pematang, Desa Mekarwangi, Kecamatan Saketi, Kabupaten Pandeglang, akhirnya  menggelar aksi demontrasi di halaman kantor Kecamatan Saketi, Rabu (21/2). Demontrasi dipicu karena surat pengaduan yang dilayangkan ke pihak kecamatan, dinilai tidak mendapatkan tanggapan.

Demo warga tersebut terkait keberadaan kandang ayam ras pedaging di kampung tersebut telah  mencemari lingkungan, dan menimbulkan berbagai masalah.  Selain itu, warga juga menganggap pengusaha ayam tidak memiliki ijin lingkungan dari warga sekitar. Hasil musyawarah yang pernah dilakukan periode 29 September 2017 lalu juga sudah diingkari.

Baca juga :

  • Cemari lingkungan, warga tuntut Bupati Pandeglang tutup kandang ayam ras
  • Kandang ayam ras di Mekarwangi belum kantongi ijin

 “Kami sudah kesal dengan keberadaan kandang ayam karena sudah banyak mencemari lingkungan. Akibatnya menganggu kepada warga saat melakukan aktivitas, seperti bau busuk, banyak lalat, dan air sungai tercemari,” terang Novan, salah satu peserta demo.

Novan mengatakan warga telah sepakat dan meminta keberadaan kandang ayam ditutup. Kandang tersebut. Selain  menganggu aktivitas masayarakat, manfaatnya juga tidak dirasakan  masyarakat setempat.

“Sudah beberapa kali kami sampaikan keberatan warga kepada Pemerintah Desa, Kecamatan bahkan Bupati Pandeglang.  Namun  semuanya terkesan tutup mata, padahal peternakan tersebut juga tidak punya ijin lingkungan atau rekomendasi dari dinas terkait. Oleh karena itu kami tungggu seminggu kecamatan segera menutupnya,”tegasnya.

Camat Saketi di “deadline” Seminggu

Camat Saketi, Aep Saepudin, diberi waktu satu minggu untuk melakukan penutupan kandang ayam di Desa Mekarwangi.

Ustad Herman, salah satu koordinator warga Mekarwangi mengatakan, pihaknya memberi waktu satu minggu agar pihak kecamatan atau pihak terkait lainnya, melakukan penutupan keberadan kandang ayam yang sudah mencemari lingkungan.

“Para pengusaha ternak sudah ingkar janji dari hasil musyawarah dulu saat awal pembangunan kadang. Mau memberi kompensasi juga sampai sekarang tidak ada, menjaga kebersihan juga omdo, maka kami meminta pemerintah tegas menutup kandang,”ujarnya saat berdialog dengan camat.

Camat Saketi, Aep Saepudin mengatakan pihaknya akan langsung mengkoordinasikan dengan pihak kabupaten secepatnya. Menurutnya, pihak kecamatan tidak  bisa bertindak sembarangan. sebab untuk menutup kandang bukan kewenangan pihak kecamatan.

“Kami akan langsung lakukan koordinasi dengan pihak terkait yang berwenang, apa lagi ternak juga diketahui belum memiliki ijin,”terang camat.

Kades Mekarwangi, Ahmad Rafiudin membenarkan  jika keberadaan kadang di desanya, sebagai reaksi  warga terhadap pengusaha yang dianggap ingkar janji dari kesepakatan awal.

“Warga menerima karena ada kesepakatan namun saat ini pengusaha malah tidak menepati janji tersebut sehingga warga setempat marah. Jangankan warga saya juga kecewa dengan pengusaha,”katanya

Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Kabupaten Pandeglang, Diah Lukitaningsih, mengatakan pihak distan hanya bisa merekomendasikan ke instansi lain, jika musyawarah antara warga dan pemilik kandang sudah buntu.

“Pihak Distan belum mengeluarkan rekomendasi untuk uasaha ayam ras pedaging di desa tersebut karena tidak ada ijin lingkungannya. Masalah penutupan kandang, itu wewenang instansi Satpol PP, setelah ada rekomendasi permintaan.Kami juga masih menunggu surat permohonan dari warga sekitar, karena memang belum kami terima,” kata Diah, kepada BantenTribun, di Kantornya.

Novan memastikan akan melakukan demo kembali jika dalam sepekan juga belum ada aksi nyata terhadap penutupan kandang, dengan menurunkan massa lenih besar.

“Kami akan demo lagi dengan jumlah lebih besar jika tidak ditanggapi dalam seminggu ini,”katanya kepada BantenTribun,via chat telepon, Rabu,21/2,(kar)

1 KOMENTAR

  1. Terkait masalah kandang ayam, sebetulnya ada indikasi Dendam, gara2 ikan emasnya pd mati, padahlmah salah Herman, kenapa dia ngambil air ke empangnya dari kolong kandang ayam orang lain (empang sdr. Oji), itupun tanpa ijin kpd sdr Oji yg punya., terus alasannya tdk ada manpaatnya itu bohong, salah satu positipnya yaitu kotoran diambil dg geratis oleh para petani tinggal mau (tdk dilarang oleh pihak peternak), ada bangke ayam dimanpaatkan justru malahan orangnya ikut demo juga padahalmah setiap pagi dia ngambil bangke buat ternak “LELE” dia tanpa ada imbalan apa2 kpd yg punya ternak ayam, terkait mslh ini saya juga kebetulan sebagai anak bangsa yg syah berdomisili di Kmp. Pamatang, Des. Mekarwangi, kec. Saket, Kab. Pandeglan- BANTEN, punya hak utk usaha dikampung sediri, dg adanya demo oleh segelintir masyarakat ini saya sangat menyayangkan, krn hal ini semua atas dasar DENDAM seseorang ma’af oknum Ust. Herman gara2 ikan emasnya pd mati, salah sendirinya.,,

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.