Bisnis Mobil Bekas di Pandeglang Lesu

Tips sederhana yang penting saat beli mobil bekas( foto-BantenTribun)
Pelaku bisnis mobil bekas di Pandeglang mengalami kelesuan akibat menurunnya daya beli masyarakat dan hantaman mobil murah.( foto-BantenTribun)

Tren jual beli mobil bekas di Pandeglang dalam dua tahun belakangan dinilai relatif  lesu. Kondisi tersebut dinilainya lantaran daya beli masyarakat yang  terus merosot.

Pandeglang, BantenTribun.id– Pelaku bisnis mobil bekas di Pandeglang terus mengalami kelesuan akibat turunnya daya beli masyarakat. Kondisi itu diperparah dengan membanjirnya  produksi mobil murah yang menawarkan berbagai kemudahan.

Salah seorang pemilik showroom  mobil bekas di  Ciekek Karaton Pandeglang, H. Endi Misyadi mengakui  bisnis mobil bekasnya tengah mengalami kelesuan akibat menurunnya daya beli masyarakat di tengah kelesuan ekonomi.

Selain itu, produksi mobil murah  yang membanjiri pasaran dalam negeri, juga berpengaruh terhadap anjloknya penjualan  mobil bekas kelas menengah.

“Dalam dua bulan ini belum terjual satu unit pun,” kata Endi.

Dampak  kelesuan paling menonjol bisnis mobil di Pandeglang,  menghantam showroom  mobil-mobil bekas bekas katagori mewah. Mobil bekas katagori ini  kadang terparkir di showroom lebih dari 5 bulan.

“ Mobil  Alphard  ini sudah 5 bulan terpajang  di sini. Bisnis mobil bekas benar-benar lesu dalam dua tahun terakhir ini,” kata Endi Misyadi, pemilik showroom Sabda Alam Motor Ciekek, kepada BantenTribun, Minggu 8/4, di lokasi pajangan mobilnya.

Endi memastikan lesunya penjualan mobil bekas di Pandeglang, tidak hanya menimpa showroomnya saja. Menurutnya, konsumen pemula, lebih memilih mobil baru berharga murah. Sedangkan bagi konsumen kelas lainnya yang berniat berganti mobil, banyak memilih untuk bertahan pada mobil lamanya, dibandingkan harus berganti dengan mobil jenis lain lantaran kondisi ekonomi tengah melemah.

“Meskipun pada akhirnya  konsumen yang beli mobil baru berharga murah itu  kemudian mengaku menyesal setelah merasakannya sesudah 4-6 bulan. Mereka baru berniat menjual dan menggantinya dengan mobil bekas,” terangnya.

Selain  itu,  masih kata Endi, banyak  sejumlah produsen mobil mengenalkan produk berharga murah dengan istilah city car, selisih antara mobil bekas dengan mobil baru menjadi semakin tipis.  Pembeli pemula, cenderung lebih memilih mobil keluaran baru dari pada membeli mobil bekas.

“Dulu budget Rp 130 juta, orang bisa beli Avanza bekas. Sekarang Rp 130 juta orang bisa beli Alya dan lain-lainnya dengan kondisi baru. Ya orang pasti milih baru, meskipun setelah itu tidak lama menyesal dan berusaha menjualnya” ujar Endi.(kar)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here