Bagan Nelayan KEK Tanjung Lesung Dinilai Merusak, Mantan Aktivis Tidak Sependapat

186
Bagang di kawasan Tanjung
Pemandangan Bagan di kawasan Tanjung Lesung Beach Hotel( foto-kar-BantenTribun)

Bagan nelayan yang menjamur dinilai wabup mengganggu pemandangan dan dapat merusak ekosistem laut khususnya terumbu karang. Wabup mengusulkan agar di kawasan wisata Tanjung Lesung dibuatkan zonasi yang mengatur aktivitas nelayan. Namun, menurut mantan aktivis Walhi Jakarta, pernyataan wabup itu cukup mengejutkan.Ia justru menganggap kebalikannya.

Pandeglang, BantenTribun.id –Keberadaan Bagan, meskipun pernah dijadikan salah satu perlombaan (Bagan Race) pada Festival Tanjung Lesung lalu, justru dinilai Wabup Pandeglang, dapat merusak pemandangan Pantai Tanjung Lesung yang menjadi bagian Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

Wakil Bupati Pandeglang, Tanto Warsono Arban, mengeluhkan maraknya keberadaan bagan nelayan di sepanjang pantai Tanjung Lesung. Bagan (salah satu jenis alat tangkap ikan yang termasuk dalam klasifikasi jaring angkat-red) itu, dianggap mengganggu keelokan kawasan strategis nasional.

Apalagi Pandeglang, masih kata Tanto, sedang berupaya meningkatkan kunjungan wisatawan ke Tanjung Lesung. Dengan menjamurnya bagan nelayan tersebut, dipastikan bisa menurunkan citra Pandeglang sebagai daerah wisata.

“Keelokan pemandangan Tanjung Lesung menjadi tidak indah. Itu akan mengganggu kepuasan turis. Situasi ini memperburuk program strategis pemerintah pusat,” kata Tanto, Selasa (31/10/2017).

Tanto mengatakan tidak merasa heran apabila tingkat kunjungan wisatawan sejauh ini belum menunjukkan angka yang membanggakan. Selain mengganggu pemandangan, bagan-bagan tersebut juga dapat merusak ekosistem laut khususnya terumbu karang.

Wabup juga mengusulkan agar di kawasan wisata Tanjung Lesung dibuatkan zonasi yang mengatur aktivitas nelayan. Hal itu dilakukan bukan untuk membatasi mata pencaharian nelayan, melainkan membenahi sektor wisata yang ditelah ditetapkan Presiden Jokowi sebagai Proyek Strategis Nasional.

Mantan Aktivis Walhi Tidak Sependapat Dengan Wabup

Namun, pernyataan WabupTanto soal bagan yang dianggap mengganggu pemandangan, dinilai Nurhaipin, mantan aktivis Walhi Jakarta, justru sangat mengejutkan.

Menurutnya, pernyataan itu bisa menggambarkan kurangnya keberpihakan kepada nelayan. Ia juga menghawatirkan ada pesan tersembunyi dibalik pernyataan wabup tersebut.

“Kita perlu belajar dari nelayan bagan di Pantai Teluk Jakarta, yang sekarang ini sudah diberangus oleh Pemda DKI ketika akan melakukan reklamasi pantai. Patut dihawatirkan ada pesan yang tersirat dari Pernyataan wabup tersebut . Ini pengalaman ketika saya bergabung dengan Walhi Jakarta saat menentang reklamasi pantai itu,” kata Nurhaipin  kepada BantenTribun, via whatsApp, Selasa (31/10).

Nurhaipin berpendapat, kehadiran bagan justru bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi turis. Bagan juga tidak merusak terumbu karang, sebab konstruksinya yang terapung.

“Nelayan, termasuk bagan, justru bisa jadi daya tarik wisata. Jadi jangan korbankan mereka untuk kepentingan investor. Mereka telah ada sejak jaman dulu, ini warisan nenek moyang bangsa maritim, apalagi Provinsi Banten memiliki garis pantai yang membentang dari utara- barat hingga selatan sepanjang 540 km lebih,” ujarnya.

Mantan aktivis Walhi ini meminta wabup sebaiknya konsen pada keluhan warga Pandeglang, soal banyaknya jalan desa yang rusak berat dari pada menganggap bagan merusak pemandangan.

“Pemkab Pandeglang sebaiknya menerbitkan  perda terkait pengaturan sempadan pantai. Jangan sampai banyak bangunan dibibir pantai, sehingga nelayan dan masyarakat tidak punya akses menuju ke pantai,” tandas Nurhaipin*(NG/kar)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here