Antara Pribumi dan Lelang

356
Antara Pribumi dan Lelang
Kamim Rohener

Jangan ngomong soal ‘pribumi’. Apalagi umbar kata itu di depan khalayak. Sebab,selain bikin repot nanti, jagad maya juga jadi gaduh saling benci dan saling tuding. Saling hujat-saling bela.

Akan lebih berabe, kalau yang ngomong soal itu penjabat anyar pemimpin kota. Sebab kota namanya, meski penduduknya sudah bejibun, heterogen, beraneka suku, super sibuk mengais rejeki, toh nyatanya mereka masih sempat bereaksi.

Seperti dialami Anis-Sandi tempo hari. Karena, kata itu sudah  dilarang oleh Undang-undang. Instruksi Presiden juga sudah atur soal itu. Tegas DirJen  Otonomi Daerah Sumarsono.

Ada Undang-undang No 40 tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras Dan Etnis. Aturan ini tidak semata-mata buat pejabat negara, tapi berlaku juga buat semua warga. Maksudnya apa, kita semua sudah mahfum. Semahfum-mahfumnya. Merawat dan menjaga kebhinekaa-an. Sebab, pribumi itu identik zaman Londo si penjajah. Zaman gelap terbitnya kasta-kastaan.

Ada pula Instruksi Presiden Nomor 26 tahun 1998, tentang Menghentikan Penggunaan Istilah Pribumi dan Nonpribumi dalam Semua Perumusan dan Penyelenggaraan Kebijakan, Perencanaan Program, ataupun Pelaksanaan Kegiatan Penyelenggaraan Pemerintahan. Dalam Inpres tersebut, penggunaan istilah pribumi dihentikan dalam semua kegiatan penyelenggaraan pemerintah.

Itu penggalan cerita Anis-Sandi yang omong soal pribumi di DKI baru-baru ini. Di Konta santri, atau tanah Pandeglang, salah ucap atau salah tulis pilih diksi dari pejabat juga terjadi. Maksud semula mungkin tiru gaya Jokowi-Ahok mereformasi birokrasi di tanah betawi. Namun, siapa sangka akhirnya menuai kontrofersi, dan buru-buru merevisi.

Ini terkait kekosongan 133 jabatan kepala sekolah.. Sebab betapa pentingnya arti kepala sekolah. Sekolah tanpa sang kepala, ibarat itik kehilangan induknya, itu kata Juhaedi, praktisi pendidikan yang kini beralih kelola di jalur propinsi.

Katanya jabatan itu harus dilelang segera. Disdikbud Pandeglang-pun segera menerbitkan pengumuman lelang jabatan itu. Lewat corong-corong kepanjangan lidahnya, kesempatan disebarluaskan. Label waktu dan aneka syarat disematkan, ini bagi yang berminat. Sekali lagi hanya bagi peminat.

Dilelang namanya. Seperti proses membeli dan menjual barang atau jasa dengan cara menawarkan kepada penawar, menawarkan tawaran harga lebih tinggi, dan kemudian menjual barang kepada penawar harga tertinggi. Menurut teori ekonomi, lelang, mengacu pada beberapa mekanisme atau peraturan perdagangan dari pasar modal.Itu lelang teori ekonomi.

Ditilik sejarahnya, lelang di Indonesia dimulai oleh East India Company, yang menyelenggarakan lelang untuk Teh (1750) dan masih bertahan sampai sekarang di London. Ada juga lelang tembakau Indonesia yang masih bertahan di Bremen, Jerman.

Nah, kalau lelang jabatan siapa sebenarnya yang memulai? Apa juga punya konotasi arti yang sama dengan teori ekonomi tadi? Jangan pakai istilah lelang lah, kata Fahmi, Bos BKD Pandeglang.

Guru Besar Ilmu Administrasi Negara Universitas Gadjah Mada (UGM), Miftah Thoha  pernah ucap, Undang-undang  Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN) tidak mengenal istilah lelang jabatan.

Yang ada adalah promosi atau pengangkatan pegawai negeri sipil (PNS) berdasarkan sistem merit dan terbuka.

Lelang jabatan terkenal di dunia usaha, tapi maknanya negatif karena ada unsur kongkalikong di dalamnya. Makanya kalau di lingkungan aparatur sipil harus menggunakan bahasa rekrutmen terbuka, ini kata Miftah.

Jelas sudah. Kata pribumi sudah dilarang Undang-undang. Lelang tidak juga termaktub dalam undang-undang. Pribumi berkaitan hidup berkebhinekaan, lelang bernuansa keekonomian.

Jadi, jangan lagi berfikir lelang untuk jabatan, apalagi dengan tersembunyi teori ekonomi. Apalagi ada kongkalikong. Apalagi jabatan pribumi yang harus dilelang. Sekali lagi jangan. Jangan sekali-kali membangun semangat itu.

Gue bukan pribumi, tapi gue Indonesia, kata EP Yudha, orang Pakidulan yang kini jabat Pemimpin Redaksi.**

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here