Aksi ‘Maut’ Penerjun Anak-Anak di Sungai Ciujung Demi Uang Receh

Anak-anak melakukan terjun bebas dari atas jembatan kereta di  sungai ciujung Kabupaten Lebak( foto- yud)
Anak-anak melakukan aksi maut terjun bebas dari atas jembatan kereta di sungai ciujung Kabupaten Lebak( foto- yud)

Dengan sigap, para bocah itu terjun bebas ke derasnya aliran Sungai Cujung dari atas jembatan untuk mengambil uang kertas yang di lempar. Sebuah  aksi “maut”  yang dilakukan demi uang receh.

“Lempar lagi dong, uangnya,” teriak salah seorang anak-anak pemberani dari Kampung Lebak Sambel itu. Sejumlah warga pun lalu melemparkan uang kertas recehan  ke bawah jembatan sungai Ciujung.

Lebak, BantenTribun.id – Bisa jadi, meluapnya air sungai merupakan ancaman bagi sebagian warga yang bermukim di kawasan bantaran sungai Ciujung, Kabupaten Lebak. Namun, tidak demikian bagi  sejumlah anak-anak Kampung Sambel, Kelurahan Muara Ciujung Timur, Kabupaten Lebak.

Luapan air sungai terbesar di kota berjuluk ‘Multatuli’ itu malah dijadikan sarana permainan oleh anak-anak yang masih duduk di bangku SMP itu dengan melakukan aksi terjun bebas dari atas jembatan berketinggian sekitar 50 meter.

 “Gera ayeuna giliran maneh nu ngajleng (Cepat sekarang giliran kamu yang loncat,” teriak sejumlah anak-anak di atas jembatan dua rel kereta Api, Rangkasbitung.

Dan ..Byur,,,tubuh dari salah satu  bocah pemberani itu pun terjun bebas  dari atas jembatan ke dasar sungai Ciujung yang berwarna keruh kecoklatan.  Sungai selebar  lebih dari 60 meter dan beraarus deras.

Sorai sorai dari kerumunan warga yang menonton aksi yang terbilang cukup ekstrem itu pun  kembali terdengar di atas jembatan rel kereta api jalur Rangkasbitung-Merak  ini.

Tak lama kemudian, bocah yang berada di dasar sungai muncul ke permukaan sambil melambaikan tangan memberikan kode kepada temanya untuk segera meloncat. Byur, byur, satu persatu tubuh bocah lainya pun berjatuhan ditengah derasnya aliran sungai yang memiliki kedalaman sekitar 10 meter tersebut.

Warga yang menyaksikan keberanian anak-anak itu kembali terdengar riuh diatas jembatan rel kereta  eks jaman penjajahan Jepang tersebut. Sementara, dibawah jembatan para bocah tengah berjuang berenang melawan derasnya aliran sungai untuk bisa kembali ke daratan.

Bak atlet renang profesional, para bocah itu berenang berkejaran mengarungi sungai untuk bisa menjadi orang pertama sampai  rakit bambu  yang disimpan dipinggir sungai . Hebatnya lagi, aksi terjun bebas yang dilakukan para bocah hebat itu tidak menggunakan pelampung.

Selamat sampai ke rakit bambu, mereka kembali lagi naik ke atas jembatan dengan menyusuri jalur rel kereta api untuk kembali nyemplung ke sungai. Tak tampak rasa takut dari raut muka mereka, saat berjalan di atas rel kereta yang masih aktif maupun saat meloncat ke sungai.

Sebaliknya, mereka tampak begitu senang dan sangat bersemangat melakukan aksi yang bisa saja mencelakakan nyawanya.

Aksi ‘maut’ terjun ke sungai Ciujung yang dilakukan sejumlah anak-anak tersebut menjadi tontonan bagi warga. Bahkan, banyak warga yang sedang melintas di jalur itu juga ikut menonton aksi yang terbilang cukup berbahaya itu.

Sebagian warga ada yang merasa takjub dengan keberanian anak-anak yang melakukan aksi yang sangat berbahaya itu.

“Orang dewasa saja  belum tentu berani loncat dari atas jembatan ke sungai. Tetapi, anak-anak sangat berani. Benar-benar anak-anak hebat dan pemberani,” puji Rahmat, seorang warga kota Rangkasbitung,

Sebagian warga  menganggap aksi meloncat yang dilakukan anak-anak tersebut sangat konyol.  Mereka menilai aksi tersebut sangat berbahaya dan mengancam keselamatan jiwa. Terlebih, dilakukan oleh anak-anak dan dilakukan di sungai dalam keadaan sedang meluap.

“Ngeri liatnya, gimana kalau terjadi  sesuatu  pada bocah itu,  Siapa yang bertanggung jawab?” kata Ratna ,warga lainya.

Tanpa Pengaman Bermodal Keberanian

Aksi terjun  ke sungai yang dilakukan anak-anak di kota Rangkasbitung  ini memang bukan hal yang baru.  Aksi terjun yang dilakukan setiap air sungai meluap, sudah berlangsung sejak lama.

Anak-anak yang melakukan aksi  terjun itu  dipastikan  yang bisa berenang dan sudah terbiasa. Sebelum beraksi  terjun dari atas  jembatan, anak-anak ini biasanya dilatih berenang terlebih dulu oleh temannya yang sudah mahir berenang.

“Ngga ada keahlian khusus yang penting bisa berenang dan berani aja,” aku Dede, salah satu yang terjun tersebut.

Siswa kelas  tiga di salah satu SMP di kota Rangkasbitung itu mengaku sangat senang dan bangga jika sudah bisa melakukan aksi  terjun ke sungai Ciujung dari atas jembatan.

Menurutnya, aksi  terjun pertama kali dilakukan saat setahun yang lalu saat duduk di kelas Dua.

“Pas pertama kali mah takut juga, sempet takut palid (terbawa arus sungai). Kalau sekarang udah ngga takut lagi langsung ngajleng (loncat),” ucap Dede. (yud/iik/red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.