Aksi Bandung Melawan (PSSI) Jilid I

Menuntut-keadilan-bobotoh-ajukan-5-tuntutan-kepada-PSSI
Menuntut-keadilan-bobotoh-ajukan-5-tuntutan-kepada-PSSI

 

*Oleh: YUKIE H. RUSHDIE (Pemimpin Perusahaan BantenTribun)

BAGI bobotoh, PSSI itu sekarang adalah “musuh”! Di mata bobotoh, saat ini, hanya PSSI-lah yang bisa menggagalkan Persib Bandung menjuarai Liga I Indonesia 2018.

Apa boleh buat, PSSI wajib menelan stigma buruk di hati bobotohtersebut. Jangan pula kaget bila PSSI, terutama jajaran kepengurusan Edy Rahmayadi ini, kini takkan seleluasa kemarin-kemarin saat harus berurusan dengan Kota Bandung.

Tak sedikit kaum die hard-nya Persib yang menyimpan dendam, bahkan menginginkan Kota Bandung —secara sepakbola— memisahkan diri dari Indonesia.

Ribuan die hard Persib itu, Sabtu (13/10/2018), berjejalan di depan Gedung Sate, Bandung, beradu kencang dalam berteriak, seolah meminta PSSI untuk memilih: “Kau atau kami yang hengkang!”
Itulah aksi “Bandung Melawan” (PSSI) Jilid I, yang —bukan mustahil— bakal diikuti dengan jilid-jilid lanjutannya.

SEJAUH ini, buntut dari tragedi Haringga Sirilla baru berakhir dengan jatuhnya sanksi super-berat dari PSSI bagi Persib.

Tegas? Mungkin tidak. Karena, di sisi lain, PSSI cenderung bersikap bak “waria” terhadap kasus-kasus sejenis yang dilakukan tim lain. Setidaknya, begitulah perasaan bobotoh.

PSSI sendiri cenderung menjelma menjadi lembaga yang paling profesional dalam urusan ‘cuci tangan’.

Di banyak forum, Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi, berulang-ulang menyebutkan berbagai kekisruhan di arena Liga Indonesia itu, terutama pada tragedi terakhir yang menewaskan Haringga, adalah tanggung jawab PSSI.

“Sayalah yang paling salah!” kata Edy Rahmayadi di berbagai jejak digital yang takkan hilang seumur hidup.

Ternyata, bentuk pertanggungjawaban PSSI atas rasa bersalah itu mereka ujudkan dengan menjatuhkan sanksi super-berat terhadap Persib.
“Lho, kalo begitu sih, berarti Persib dong yang paling bersalah itu. Bukan si orang yang hobi rangkap-rangkap jabatan itu!” cuit salah seorang bobotoh di jejaring media sosial Twitter.

SEPAKBOLA adalah bagian dari olahraga yang menjunjung tinggi sportivitas. Orang-orang yang terlibat di sana tentunya janganlah tipe manusia yang lebih gemar mencari kambing hitam ketimbang mengakui kekurangannya secara gentle.

Sampai detik ini, dari ribuan kasus kerusuhan yang terjadi di dunia sepakbola Indonesia, saya belum pernah mendapati ada pengurus PSSI, apalagi Ketua Umumnya, yang mau jujur mengakui kekurangan mereka dalam melakukan pembinaan terhadap kaum “gila bola”.

Jangankan yang berurusan dengan suporter, bahkan dalam hal program pembinaan prestasi sepakbola nasional sendiri langkah “tertegas” yang berani diambil PSSI hanyalah memecat pelatih!

Organisasi PSSI ini memang terlalu seksi untuk ditinggalkan. Banyak yang tidak ikhlas untuk meninggalkan kursinya kalau sudah duduk di sana.
Faktanya, para pemburu kursi PSSI itu bahkan lebih rela timpuk-timpukan di kongres ketimbang adu jotos di forum evaluasi prestasi.

Kalau di forum pembinaan itu, mereka sangat kompak dalam mencari kambing hitam. Pecat pelatih A, ganti dengan B. Pecat lagi pelatih B, ganti sama C. Begitu seterusnya.
Tidak pernah sekalipun terdengar mereka mengakui telah melakukan kesalahan dalam memilih pelatih!

PAHIT? Ya, memang pahitlah bagimu, PSSI.

Tapi, lebih pahit lagi apa yang dirasakan para pecinta sepakbola di negeri ini. Yang mereka dambakan hanyalah kepuasan hati, kebanggaan, yang kadang rela mereka kejar dengan menjual harta benda miliknya. Tanpa sedikit pun berharap pemasukan.

PSSI, kalaupun sama-sama menelan pahit, masih ada sajalah yang “masuk”-nya. Kalau tidak, mana mungkin bisa se-“merangsang” begitu kursi-kursi jabatan di sana.

Catatan ini merupakan gambaran bagi PSSI untuk membaca apa yang kini tengah berkecamuk di dalam kepala para bobotoh.

“Kami berjuang mati-matian demi kecintaan, sementara kalian mati-matian biar tetap gajian!” begitulah, Pak Edy, isi hati para die hard-nya Persib saat ini.

Mudah-mudahan Pak Edy bisa memaklumi mereka, dan memberikan “hak” kepada mereka untuk berbicara seperti begitu.

Bukankah mereka juga sudah memaklumi “hak” Pak Edy untukngurus sepakbola sambil  main-main politik?

Sepakbola pun, ternyata, butuh sikap egaliter. Saling memahami. Tidak tebang pilih…*

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.