Agro Wisata Salak Birus, Cara Baru Menikmati Wisata di Tanjung Lesung

258

Agro Wisata Salak Birus, Cara Baru Menikmati Wisata di Tanjung Lesung

Wisata Tanjung Lesung masih menyimpan kejutan, tak hanya menikmati indahnya pantai, atau sekedar melihat eloknya Batik Cikadu,  “Travelista” juga bisa menikmati sensasi salak mungil nan manis, di Agrowisata Salak Birus.

Pandeglang, BantenTribun.id- Tanjung Lesung tak lelah menebar pesona. Ketika indahnya pantai sudah dianggap mainstream, membatik di Cikadu juga sudah lazim, maka wisata agro-edukasi di kebun salak bisa menjadi cara baru “kaum traveler” menghabiskan waktu berlibur.

Banyak manfaat yang bisa didapat- bukan sekedar datang dan melihat, pengunjung juga bisa berinteraksi langsung dengan pohon penuh duri dan buah yang bersisik ini.

Salak Birus, begitu warga lokal menyebutnya. Birus berarti Manis. Salak mungil ini memang memiliki rasa bak gula pasir. Aslinya adalah hasil perkawinan antara salak lokal dengan salak pondoh dari Sleman-Yogyakarta.

salak birus
tampilan Salak Birus Tanjung Lesung, lebih gelap dan mungil di banding Salak Pondoh

Perkawinan itu menghasilkan salak baru dengan bentuk lokal rasa global. Rasa salak birus memang tak jauh berbeda dengan salak pondoh yang kini sudah diperkenalkan hingga ke negeri kiwi, Australia.

Letak perbedaannya ada pada bentuknya yang lebih kecil serta warnanya yang cokla kegelap-gelapan, morfologi yang persis dengan salak lokal (Salacca zallaca).

Melihat potensi komoditas horti ini, Tanjung Lesung Zallaca Farm  mencoba membangun agrowisata dengan Birus sebagai iconnya.

Bagi pengunjung yang datang, banyak fasilitas yang siap disajikan, mulai dari cara menanam, memelihara, mencangkok, menyerbuk, panen serta menikmati renyah nan manisnya buah salak.

“Saat ini luas tanam salak birus belum ada satu hektar, dan arahnya lebih untuk destinasi wisata, belum untuk produksi” kata sumantri kepada BantenTribun, Selasa (17/10).

Sumantri juga mengatakan bila ke depan, Salak Birus akan diarahkan juga untuk produksi, mengingat salak ini memiliki rasa manis yang menjual.

Saat ini memang belum banyak yang mengenal apalagi menikmati rasa Salak ini. Termasuk warga Pandeglang  sendiri. Padahal sensasi rasa manis simungil ini cukup merata dan renyah.

Menjadi tugas banyak pihak, selain pengelola, pemerintah setempat juga memiliki kepentingan untuk mengembangkan komoditi ini. Mulai dari aspek wisata hingga produksinya.

Sedikit sentuhan inovasi yang berbarengan dengan upaya promosi, bisa menjadi solusi munculnya ikon baru Salak Birus dari “Kota Santri.” (Red)

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here