6 Alasan Kamu Wajib Temani Ortu di Hari Tuanya

Orang tua (foto-kar-BantenTribun)
6 alasan wajib temani orang tua di hari tuanya. (foto-kar-BantenTribun)

Jangan sampai menyesal, sebab ortu mu telah mengorbankan banyak kebahagiaan hanya untuk kebahagiaanmu.

BantenTribun.id- Ortu adalah segalanya, ibarat pohon mereka adalah sosok yang rela memberikan buah, dahan, bahkan batang untuk anak-anaknya. Bahkan ketika yang tersisa hanya seonggok tunggul kamu masih mengambil manfaat darinya.

Hebatnya, Ortu tak pernah meminta kamu membalasnya, bahkan hanya sekedar ingin ditemani di masa tuanya, banyak dari mereka tak berani mengungkapkan dengan terus terang. Padahal banyak diantara mereka yang hidup tinggal sendiri dengan kondisi fisik yang jauh menurun.

Sejatinya sebagai anak, kamu paham bila mereka benar-benar membutuhkan kehadiranmu dalam masa tuanya. Kadang berbagai kode mereka tunjukan untuk mengetuk hatimu dan mengatakan “ I need you in my side.”Namun kamu ngga menyadari hal itu.

Beberapa alasan ini mungkin bisa mengetuk hatimu, betapa orangtua membutuhkanmu, baik untuk sekedar curhat, memberi nasihat atau mengenang ceritamu bersamanya.

 

Merekalah Orang Pertama yang Menemanimu Melihat Dunia

Sadarlah! Orangtua adalah dua sosok yang menanti kehadiranmu di dunia dengan penuh harap selama 9 bulan.

Dari Nutfah, Mudghoh dan Alaqoh, tak henti do’a keduanya tertumpah kepadamu, mengharap kesempurnaan tubuhmu, kesalihan ahlakmu dan memohon pada tuhan agar kamu menjadi manusia yang memberi manfaat untuk sesama.

Ingatlah pula, betapa berat beban ibumu mengandung. mual, rasa pegal, lelah, sakit punggung, tidur tak bebas menjadi fase yang harus dilewati.

Ayah dan Ibu adalah pasangan yang rela mengorbankan kepentingannya demi kamu yang jadi prioritas dalam hidup mereka

 

Ortu adalah Motivator Dalam Menapaki Fase Hidup

Ortu adalah pendamping terbaik, motivator ulung yang terus melihat perkembangan hidupmu dari fase ke fase.

Saat kamu sanggup tengkurap, merangkak, duduk dan ngoceh dan berjalan, merekalah orang pertama yang paling bahagia.

Ketika kamu mulai sekolah, mereka pula yang siap mengantarmu menemui dunia barumu itu. Bahkan diantara mereka rela menunggumu atau sekedar mengintip di balik kaca melihat seperti apa kamu di dalam kelas.

Ibumu adalah orang yang ’istiqomah’ menyiapkan sarapan pagi, seragam, membangunkanmu dari tidur pulas hanya tak ingin kamu terlambat datang ke sekolah.

Belum lagi kamu sadar, bahwa mereka lagi-lagi rela mengorbankan kepentingan pribadinya hanya demi kepentingan pendidikanmu dan berharap kamu sukses di masa depan.

 

Saat Kamu Sakit, Merekalah Yang Paling Cemas

Bayangkan ketika kamu sakit, siapa yang paling cemas, jelas ortu. Mereka adalah sosok yang menjagamu ketika tidur, mengantarmu ke dokter, mendoakan dengan tetesan airmata di setiap shalatnya  dan mengharap kesembuhan datang segera.

Masih ingat ketika kamu malas minum obat? Kamu bilang “pahit.” Tapi dengan penuh kesabaran mereka menunggumu sanggup meminum obat itu.

Belum lagi ketika kamu malas makan saat sakit. Sesuap demi sesuap ibumu dengan sabar menyuapi agar perutmu itu terisi.

 

Rela Menemanimu Kapan pun

Lalu kamu tumbuh remaja, dan menjadi dewasa. Kamu bepergian kesana-kemari. Pahamkah kamu bila begitu “menumpuk” rasa khawatir di dalam hati mereka.

Tahukah kamu bila sebuah kecelakaan kereta terjadi – padahal bukan kereta yang kamu tumpangi, betapa mereka was-was khawatir bahkan nangis, apalagi kamu tak bisa dihubungi.

Mereka tak ingin hal buruk terjadi, maka tak ada beban di hati mereka untuk menemanimu kemana saja, meski kadang kamu malas di temani mereka.

 

Ramai Berubah Sepi

Lalu kamu tumbuh dewasa – bahkan sudah berkeluarga. Kamu datang dengan cucu mereka hanya sekedar melepas rindu saat libur-meski kadang kamu tak membawa apapun bahkan hanya sekedar buah tangan. Senyum mereka merekah,  mereka bahagia kamu datang.

Namun ketika kamu, pasanggan dan anak-anak yang notabene cucu mereka pergi, rumah mereka menjadi sepi. Bayangkanlah betapa hati mereka sedih.

 

Jangan Sampai Kamu Menyesal

Jangan sampai kamu menyesal, ketika mereka hidup kamu tak memberikan banyak kebahagiaan pada mereka, malah sering menjadi beban.

Kamu sibuk dengan karirmu, memikirkan dirimu dan keluargamu, mereka bukan lagi prioritas. Lalu mereka pun pergi meninggalkan dunia ini. Bagaimana perasaanmu?

Jangan sampai kamu menyesal, gagal memberi yang terbaik untuk pemilik surga di telapak kakinya. Kamu tak bisa memberi mereka apapun kecuali do’a.

Sadarlah untuk menjadikan mereka prioritas dalam hidupmu, sebab mereka telah menjadikan kamu sebagai prioritas dalam hidupnya.

Jangan sampai menyesal, sebab mereka telah mengorbankan banyak kebahagiaan hanya untuk kebahagiaanmu.

Pulang dan temanilah mereka. (Aji)

Sumber inspirasi: hipwee

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.