Sekda Pandeglang Terpilih

312
Kolom Sekda Pandeglang
Kamim Rohener

Tahun 2018 ,  tanah  Banten  boleh saja suhu politiknya meradang. Suhu  meningkat jelang Pilkada itu wajar terjadi. Calon Bupati atau walikota buat strategi mewujudkan mimpi itu biasa. Bahkan,  mereka sering melempar bola panas yang  bergerak liar. Memantul. Padahal musti diingat, demokrasi kita bukanlah seperti demokrasinya negeri Donald Bebek. Bukan Negara  agama tapi juga bukan  Negara sekuler, karena Negara memang mengakui dan memberi tempat buat religi. Jadi jangan sekali-kali terbersit gunakan jasa semacam Saracen. Selain ngawur, Pengadu domba semacam itu memang harus diberantas dan dibinasakan.

Jangan pula jadikan issu agama demi peroleh dukungan. Jangan jadikan kyai atau Ustad jadi matt comblang. Bisa berabe nanti. Baku hantam agama jangan sampai terjadi, sebab  itu tidak betul.Yang betul kerukunan hidup beragama atawa antar umat beragama.Tapi juga bukannya sinkretisme. Karena  sinkretisme mau coba-coba campur aduk segala rupa agama jadi satu , yang menganggap semua agama itu sama belaka, jelas keliru besar. Toh masing-masing agama itu punya latar belakangnya sendiri-sendiri, terikat pada hukum-hukumnya sendiri.

Itu di tanah luar. Bagaimana di Kota “Santri” Pandeglang sekarang? Sama namun tak sebangun. Jika di tanah diluar sana mulai memanas demi strategi meraih kursi bupati, maka di tanah kita kebalikannya. Hangat –hangat kuku mulai terasa.  Rupa-rupa sebab, mimik, dan isunya.

Di tanah Pandeglang, riak kasak-kusuk yang  mewarnai isu promosi pejabat mulai bergema. Dan dapatlah diduga, sebagian orang bergunjing membicarakan kursi Sekda Pandeglang. Kursi empuk yang baru tiba.  Dan  bergunjing siapa pula yang akan masuk kotak untuk merenung dan bertobat. Bergunjing  juga mengapa  Kadis urusan  KTP didapuk oleh  perempuan yang punya hiraki garis keluarga penguasa. Siapapun memang boleh menduga atau bergunjing.

Pemimpin kota ini memang menghendaki jadi kota  yang pintar.  Kota yang penuh peradaban namun modern  dari sudut yang lain. Namun dengan meminjam celotehan almarhum Mahbub Djunaedi, sang kolumnis itu, modernisasi itu juga bukan westernisasi.  “Bukan” ini perlu ditegaskan karena banyak orang yang tidak tahu. Dikira pakai topi malam-malam sudah tergolong modernisasi. Atau kalau bicara  yas  yes yos.  Atau kentut  di depan umum.

Padahal, modernisasi adalah masalah  mengubah  mental, usaha sadar   menyelaraskan diri dengan keadaan dunia sekarang,  supaya jangan sampai  orang  jalan kedepan,  kita  jalan  miring. Pokoknya, kalau pakai istilah  ahli, tanda-tanda orang modern  itu memiliki: punya sikap positif terhadap hidup, punya orientasi karya yang tinggi, punya orientasi kemasa depan, punya hasrat menguasai alam, juga tidak individualistis. Sikap terbuka terhadap perubahan, punya opini, punya keyakinan bisa mempengaruhi, bisa memperhitungkan sesuatu bukan pasrah nasib-nasiban,  menghargai nilai diri dan orang lain, yakin akan faedah ilmu dan tehnologi,dan juga percaya bahwa tiap hasil yang diperoleh semata-mata berkat jasa yang  diberikan, bukan sebab-sebab lain.

Bukan semua mesti ditelan.  Nilai agama dan keluarga tak usah  digeser-geser.Tapi nilai orientasi karya, disiplin, orientasi kemasa depan, hemat,mengelola alam, menilai tinggi inisiatif individu, harus dikembangkan.  Lalu bagaimana dengan pejabat sekda dengan sikap gotong-royong?  Kalau itu berarti ide bahwa orang hidup itu cuma unsur kecil yang ikut beredar dalam kosmos besar okeylah. Tapi kalau maksudnya  menghayo-hayo rakyat seraya  memberi honor murah, Tidak.  Meminta mereka untuk sama kuat berlari juga tidak pas, lantara gizi dan beban pikiran mereka berbeda.  Apalagi jika meminta sambil menendang pantatnya,  sekali-kali tidak!

Nah, dari semua itu  PLT sudah definitif menduduki singgasana  tertinggi  sebagai Sekda Pandeglang. Kepala BKD harus mundur  nunggu antrian. Kepala Bappeda juga harus duduk di sudut ruang.

Yang pasti,  Sekda terpilih, harus memenuhi unsur  tadi lah. Bukan sekedar tukang  ukur  semata, bukan  pengumpul pot tembikar yang tak laku  di tukang loak. Buka corong yang bisa atur proyek,   juga bukan penggali kuburan yang menggelikan, bukan perenung  yang memikirkan kenapa orang Jepang di Jepang jadi Jepang, namun bayi Jepang yang dibesarkan  di Amerika  jadi  Amerika. Pokoknya, sekda Pandeglang ini  niscaya sosok yang diharapkan  orang. Bukan sosok yang sering dibicarakan.  Ciri  suka bicara ceplas-ceplosnya, dekat dengan wartawan tapi enggan akrab lantaran takut dianggap sedikit  judes bukan masalah besar.. Banyak duit tapi tidak  pelit itu harapan masyarakat. Bukan tentang  si Anu, juga bukan tentang  si itu.  Bukan siapa yang penurut bakal  tempati nomor  urut .  Kita lihat  saja nanti .**

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here